
Akhirnya setelah beberapa kali gagal ditindak, hari ini si gigi bungsu akan mendapatkan balasan setimpal atas tindak tanduknya yang salah arah. Jujur pagi ini mood saya berantakan, pasalnya sih gara-gara Pak Suami tidak bisa mengantar, jujur saya jadi merasa cemas tanpa kehadirannya disisi saya. Hihihi…
Kebetulan hari ini suami kadung membuat janji dengan kliennya untuk pemotretan. Karena sebelumnya kami pikir jadwal odontektominya di hari senin kemarin sesuai yang diinfokan sebelumnya. Tetapi seperti yang telah saya ceritakan pada postingan ini, operasinya harus dicancel ke hari kamis karena dokternya tertimpa musibah.
Apa?
Iya, suami saya tukang foto. Kami berdua membuka jasa wedding photography sejak 2015 lalu. Awalnya sih karena kami berdua suka jalan-jalan dan foto-foto. Lama-lama sayang juga nih sama kamera mending ditambah lagi manfaatnya buat mencari tambahan cuan. hahaha…
Meski setiap bulan tentu saja kami mendapat upah dari pesantren tempat kami mengabdi. Tapi kami selalu ingat pesan almarhum Bapak, pesantren itu bukan tempat untuk mencari uang, tapi untuk mengabdi. Digaji harus disyukuri, tidak digaji tetap mengabdi. Bapak memerintahkan kami untuk berdaya dengan kemampuan diri bukan menggantungkan diri pada pesantren tempat kami mengabdi. Akhirnya kami memutuskan untuk menjadikan hobi dan kamera yang kami miliki lebih berdaya guna, hihihi… Penasaran mau tahu portofolionya bisa cek di akun instagram @lynx_orion. Siapa tahu perlu dan cocok. Cihuy!
Balik lagi ke agenda pergi ke rumah sakit hari ini. Bad mood saya bertambah-tambah, saat Ahmad sopir pesantren yang akan mengantar datang terlambat. Padahal sudah diwanti-wanti sejak kemarin, agar mengantar saya lebih pagi. Karena saya takut tidak kebagian kuota pasien bedah mulut hari ini. Tapi ya nasib, akhirnya jam 10.35 wib baru bisa berangkat. Perjalanan satu jam saya habiskan untuk bercakap-cakap dengan Vina, dulu murid saya waktu SMP dan sekarang mengabdi di Pesantren yang sama.
Begitu sampai di Rumah Sakit saya langsung menuju loket pendaftaran dan menjadi pasien ke 4 yang hari ini akan di operasi. Jarak dari tempat pendaftaran ke poli gigi lumayan jauh karena berbeda gedung. Poli gigi berada di bangunan baru rumah sakit sementara pendaftaran ada di bangunan lama.
Tepat pukul 11.30 saya dipersilakan masuk ruangan. Melihat beragam peralatan dokter bedah yang ditaruh di atas meja dental chair seperti dental pinset, bein dental tool, sonde CVD, scaller, probe, root canal explorer, excavator, water syringe, handpiece bor gigi, saliva ejector dental, alat injeksi, dan tentu saja tang pencabut gigi membuat saya meringis, bukan karena takut tapi degdegan. Alesan. Dokter dan dua asistennya yang melihat saya meringis malah ikut tertawa. “Di lemesin aja ya shay”, Asiyap, dok!.
Dokter kemudian mempersilakan duduk di dental chair, kursi pasien yang bentuknya cukup futuristik buat saya. Menyuruh saya berkumur-kumur, dari baunya sih sepertinya saya berkumur memakai povidone iodine. Selesai berkumur ketegangan yang sebenarnya dimulai. Dokter menyuntikan anastesi ke beberapa sisi gusi saya. Kemudian mulailah bor dihidupkan, berderik suaranya ketika beradu dengan gigi saya. Beberapa kali saya dengar dokter sedikit mengeluh karena si gigi bungsu ini sulit sekali untuk dikeluarkan. Sudah dicongkel sana congkel sini, dibor lagi, disayat, begitu terus berulang dan saya hanya bisa pasrah seraya memohon kepada Allah agar operasi ini dimudahkan. Sampai akhirnya dokter berhasil menarik keluar si gigi bungsu yang salah arah tersebut ditimpali jerit tertahan saya.
“Sakit banget, dok”,
saya tak kuasa menahan sakit dan air mata yang jatuh sendiri tak bisa dibendung.
“Pasti sakit banget, soalnya letaknya gigi bungsunya dekat sekali sama syaraf. Maaf ya, kamu yang kuat, yang sabar”, dengan baik hati dokter membesarkan hati saya.
Saya merasa cengeng sekali, tapi sungguh rasanya memang sesakit itu. Padahal dari membaca dan mendengar pengalaman teman-teman yang pernah operasi gigi bungsu katanya sih biasa saja. Mungkin bisa jadi karena ambang batas saya terhadap rasa sakit lebih rendah dibanding mereka. Sebelum pulang dokter memberikan gigi geraham molar 3 (si bungsu) dan geraham 2 untuk kenang-kenangan. Apa deh ya dokter ini. hihihi…
Terkejut saat melihat dua bongkahan gigi berbeda ukuran ini, si gigi bungsu yang terpendam di dalam gusi ukurannya besar sekali dibanding gigi molar/ geraham 2. Pantas saja tadi dokter sedikit mengeluh karena kesulitan saat hendak mengeluarkan si gigi bungsu yang terpendam.















![IMG-20190830-WA0031[1]](https://terbitin.id/wp-content/uploads/2020/09/IMG-20190830-WA00311-1024x485.jpg)