Air Dicincang Tidak Akan Putus

Mas'ud Dohim Thamrin Dahlan

Air Dicincang Tidak Akan Putus

 

  • Kalau ke Jambi membeli durian,
  • Singgah sebentar di tepi danau.
  • Yang jauh kini menjadi dekat kawan,
  • Karena Allah menyatukan hati yang bertaut.
  • Air Dicincang Tidak Akan Putus

“Air dicincang tidak akan putus.” Demikianlah petuah bijak orang tua Melayu yang mengajarkan bahwa hubungan kekeluargaan dan persaudaraan sejati tidak akan pernah benar-benar terpisah. Waktu boleh berlalu, jarak boleh membentang, bahkan generasi boleh berganti, tetapi kasih sayang yang dibangun di atas keikhlasan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali bersatu. Peribahasa inilah yang paling tepat menggambarkan perjalanan silaturahmi antara keluarga besar Dahlan dan keluarga besar Dohim yang dipertemukan kembali oleh kehendak Allah SWT.

Rasa syukur senantiasa terucap kepada Allah SWT atas limpahan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan. Di balik setiap nikmat itu tersimpan kasih sayang Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semakin direnungi, semakin terasa bahwa kebahagiaan tidak selalu diberikan sekaligus. Allah menghadirkannya sedikit demi sedikit, bagaikan mata air yang terus mengalir, sehingga setiap tahap kehidupan memiliki rasa syukur dan kenangan yang berbeda. Nikmat yang datang bertahap justru lebih membekas di dalam hati dibandingkan nikmat yang datang sekaligus.

 

Perjalanan hidup manusia pun demikian adanya. Ketika seseorang mulai melangkah dengan berjalan kaki, kemudian memiliki sepeda, meningkat menjadi sepeda motor, hingga akhirnya mampu memiliki mobil, setiap fase menghadirkan rasa syukur yang berbeda. Begitu pula dalam perjalanan persaudaraan. Pertemuan yang lama tertunda ternyata menghadirkan kebahagiaan yang jauh lebih dalam daripada pertemuan yang terjadi setiap hari. Allah SWT mengetahui waktu terbaik untuk mempertemukan hamba-hamba-Nya.

Takdir indah itu hadir pada bulan Mei 2026 ketika reuni anak-anak pensiunan Pertamina Bajubang, Tempino, Kenali Asam, dan Kasang, Provinsi Jambi, diselenggarakan. Ajakan sahabat lama, Sugiri, alumni SMP Negeri 5 Jambi, menjadi jalan pembuka hadirnya sebuah perjumpaan yang sarat makna. Reuni yang semula hanya diniatkan sebagai ajang melepas rindu ternyata berubah menjadi momentum menyambung kembali mata rantai silaturahmi yang telah lama terpisah.

Pertemuan dengan Smando Mas’ud Dohim seakan membuka kembali lembaran memori masa kecil. Terngiang cerita almarhum Ayahanda Haji Dahlan bin Affan tentang sahabatnya, Haji Dohim Talib, sesama putra Bengkulu yang bekerja di Pertamina Kenali Asam. Ternyata kisah yang dahulu hanya didengar dari orang tua kini menjadi kenyataan yang disaksikan sendiri. Lebih membahagiakan lagi, kami sama-sama alumni SMA Negeri 2 Jambi dan sama-sama anak keluarga besar Pertamina yang kemudian menetap di Jakarta. Benarlah, air dicincang tidak akan putus.

Subhanallah, pertemuan pada usia 73 dan 74 tahun itu bukanlah sebuah kebetulan. Semakin diyakini bahwa Allah SWT telah menyiapkan waktu terbaik untuk mempertemukan kembali dua keluarga yang pernah dipersatukan oleh persahabatan orang tua mereka. Penantian panjang itu justru memperindah makna kebersamaan. Kebahagiaan yang “dicicil” selama puluhan tahun akhirnya dibayar lunas dengan pertemuan yang penuh haru dan rasa syukur. Silaturahmi yang terjalin tidak hanya menyambung persahabatan lama, tetapi juga memperluas persaudaraan hingga anak cucu kelak.

  • Burung merpati terbang sekawan,
  • Hinggap sebentar di dahan jati.
  • Silaturahmi warisan budiman,
  • Menyambung kasih sepanjang hayat nanti.

Rasulullah SAW mengajarkan agar umat Islam senantiasa menyambung tali silaturahmi dan memuliakan kerabat. Ajaran itulah yang menjadi landasan moral dalam pertemuan ini. Silaturahmi bukan sekadar berjabat tangan atau saling mengunjungi, melainkan merawat sejarah keluarga, menghormati jasa orang tua, dan meneruskan nilai-nilai kebaikan kepada generasi berikutnya. Hubungan yang terjalin antara keluarga di Bengkulu, Jambi, Jakarta, dan daerah lainnya menjadi bukti bahwa persaudaraan akan semakin kuat apabila dipelihara dengan kasih sayang dan keikhlasan.

Dari pertemuan penuh berkah itu lahirlah gagasan untuk mendokumentasikan perjalanan hidup Smando Mas’ud Dohim dalam sebuah autobiografi berjudul Berkarya dan Maju. Sebagai insan yang mengabdikan diri di dunia literasi melalui Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD), saya memandang bahwa setiap perjalanan hidup yang sarat perjuangan layak diwariskan kepada generasi penerus. Alhamdulillah, kepercayaan menerbitkan buku ini menjadi kehormatan tersendiri sekaligus menambah koleksi karya YPTD sebagai buku ke-417 ber-ISBN Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

  • Kalau ke Jambi membeli durian,
  • Singgah sebentar di tepi danau.
  • Yang jauh kini menjadi dekat kawan,
  • Karena Allah menyatukan hati yang bertaut.

Buku autobiografi ini bukan sekadar catatan perjalanan seorang profesional yang berhasil membangun karier melalui pendidikan, ketekunan, dan kerja keras. Lebih dari itu, buku ini adalah monumen kasih sayang keluarga, penghormatan kepada orang tua, dan bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan akan mengangkat derajat manusia apabila diamalkan dengan ikhlas. Semoga kisah hidup Smando Mas’ud Dohim menginspirasi banyak orang untuk terus berkarya, menjaga silaturahmi, serta meyakini bahwa “Air dicincang tidak akan putus.” Selama kasih sayang dipelihara, persaudaraan akan tetap hidup, dan selama ilmu diwariskan melalui buku, nama seorang insan akan terus dikenang sepanjang zaman.

  • Semanagt Silaturahmi
  • BHP, 25 Juli 2026
  • Thamrin Dahlan

Tinggalkan Balasan