Kisah Omjay: Kereta Pagi dan Air Mata Kehidupan

DR. WIJAYA KUSUMAH, M.PD

guru28 Dilihat

Kereta Pagi dan Air Mata Kehidupan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pukul 05.50 WIB.

Suara lembut pengumuman terdengar dari dalam kereta LRT Jabodebek. Pintu perlahan menutup. Kereta mulai bergerak meninggalkan Stasiun Jatibening Baru menuju Dukuh Atas BNI.

Saya duduk tenang di salah satu kursi yang masih kosong. Alhamdulillah pagi ini Allah memberikan kemudahan. Tidak perlu berdiri berdesakan. Tidak perlu terburu-buru mengejar waktu.

Kereta melaju perlahan.

Dari balik jendela, saya melihat langit pagi yang masih malu-malu menampakkan cahaya. Jakarta dan Bekasi baru saja bangun dari tidurnya.

Kereta melewati Stasiun Jatibening Baru.

Lalu melintas di dekat Stasiun Kereta Cepat Halim.

Hanya dua stasiun yang saya lewati sebelum tiba di Cawang dan melanjutkan perjalanan menuju Dukuh Atas.

Namun pagi ini, perjalanan yang singkat justru membawa saya pada perjalanan panjang dalam kenangan kehidupan.

Dulu saya hampir tidak pernah naik transportasi umum.

Selama bertahun-tahun saya terbiasa mengendarai mobil pribadi ke sekolah, ke kampus, ke seminar, dan berbagai kegiatan pendidikan.

Saya merasa itulah kenyamanan.

Saya merasa itulah kebahagiaan.

Namun Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk mengajarkan pelajaran hidup.

Beberapa bulan terakhir kesehatan saya menurun.

Vertigo datang tanpa permisi.

Tekanan darah naik turun.

Diabetes harus terus dijaga.

Dokter meminta saya mengurangi aktivitas yang melelahkan, termasuk menyetir mobil sendiri.

Awalnya saya sedih.

Sangat sedih.

Saya merasa kehilangan sebagian kebebasan hidup saya.

Saya merasa seperti sedang “diturunkan kelasnya” oleh keadaan.

Dari yang biasa memegang setir sendiri, kini harus duduk sebagai penumpang.

Dari yang bebas menentukan arah, kini harus mengikuti jalur yang sudah ditentukan.

Tetapi pagi ini saya tersenyum.

Ternyata saya salah.

Allah tidak sedang mengambil kebahagiaan saya.

Allah sedang menggantinya dengan kebahagiaan yang berbeda.

Di dalam kereta pagi ini saya melihat banyak wajah.

Ada ibu muda yang memangku anak kecilnya.

Ada bapak tua yang membawa tas lusuh.

Ada mahasiswa yang sibuk membaca materi kuliah.

Ada pegawai yang masih mengantuk karena harus berangkat sebelum matahari terbit.

Mereka semua sedang berjuang.

Mereka semua sedang membawa cerita kehidupannya masing-masing.

Tiba-tiba saya teringat ibu saya.

Saya teringat bagaimana dahulu beliau bangun sebelum subuh.

Menyiapkan sarapan.

Mencuci pakaian.

Mengurus anak-anaknya.

Tanpa pernah mengeluh.

Tanpa pernah meminta penghargaan.

Bahkan ketika lelah, beliau tetap tersenyum.

Kini setelah usia saya melewati setengah abad, saya baru memahami betapa besar pengorbanan seorang ibu.

Kaum hawa sering kali menangis diam-diam.

Mereka menangis ketika anaknya sakit.

Mereka menangis ketika suaminya kehilangan pekerjaan.

Mereka menangis ketika orang tuanya mulai renta.

Mereka menangis ketika merasa tidak dihargai.

Namun hebatnya, air mata itu sering disembunyikan di balik senyum.

Mereka tetap memasak.

Tetap bekerja.

Tetap melayani keluarga.

Tetap menjadi sumber kekuatan bagi orang-orang yang dicintainya.

Padahal hati mereka sedang rapuh.

Kereta terus melaju.

Saya kembali menatap keluar jendela.

Pagi semakin terang.

Gedung-gedung tinggi mulai terlihat jelas.

Lalu pikiran saya melayang kepada cucu tercinta, Tanaya Faza Afisa.

Beberapa hari yang lalu cucu saya genap berusia dua tahun.

Melihatnya tertawa membuat hati saya hangat.

Melihatnya berlari kecil membuat saya lupa pada segala rasa sakit yang pernah saya alami.

Saat memandang wajah cucu saya, saya sadar bahwa hidup bukan tentang apa yang kita miliki.

Hidup adalah tentang siapa yang kita cintai dan siapa yang mencintai kita.

Mobil bisa rusak.

Jabatan bisa berakhir.

Harta bisa habis.

Tetapi cinta keluarga akan selalu tinggal di hati.

Saya juga teringat masa-masa sulit ketika harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Berbaring di ranjang rumah sakit membuat saya memahami satu hal.

Tidak ada yang lebih mahal daripada kesehatan.

Ketika sehat, kita sering mengeluh.

Ketika sakit, kita baru sadar bahwa bangun pagi tanpa rasa nyeri adalah nikmat luar biasa.

Ketika sehat, kita sibuk mengejar dunia.

Ketika sakit, kita hanya berharap bisa kembali berjalan normal.

Saya pernah merasakan itu.

Karena itulah sekarang saya lebih banyak bersyukur.

Kereta mulai mendekati tujuan.

Para penumpang bersiap turun.

Sebagian merapikan tasnya.

Sebagian memeriksa telepon genggamnya.

Sebagian lagi masih memejamkan mata.

Saya menutup laptop sejenak.

Lalu menatap wajah-wajah di sekitar saya.

Entah mengapa pagi ini hati saya terasa sangat lembut.

Saya sadar bahwa setiap orang yang ada di dalam kereta ini sedang berjuang dengan caranya masing-masing.

Mungkin ada yang sedang menghadapi masalah ekonomi.

Mungkin ada yang sedang merawat orang tua yang sakit.

Mungkin ada yang sedang kehilangan orang yang dicintainya.

Mungkin ada yang sedang menyimpan air mata yang tidak pernah dilihat siapa pun.

Namun mereka tetap melangkah.

Tetap berangkat.

Tetap berjuang.

Tetap berharap.

Pagi ini Allah kembali mengajarkan saya sebuah pelajaran sederhana.

Bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Kadang kita harus kehilangan sesuatu agar bisa menemukan sesuatu yang lebih berharga.

Saya kehilangan kenyamanan menyetir mobil.

Namun saya menemukan ketenangan dalam perjalanan kereta.

Saya kehilangan sebagian kekuatan fisik.

Namun saya menemukan kekuatan hati yang lebih besar.

Saya kehilangan beberapa hal yang dulu saya banggakan.

Namun saya menemukan rasa syukur yang jauh lebih indah.

Ketika kereta berhenti dan pintu terbuka, saya mengucapkan pelan dalam hati.

“Ya Allah, terima kasih atas perjalanan hidup ini.”

Jika hari ini Anda sedang bersedih, bersabarlah.

Jika hari ini Anda sedang menangis, yakinlah bahwa Allah mendengar tangisan Anda.

Jika hari ini Anda merasa sendiri, percayalah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Dan jika hari ini Anda masih bisa bangun pagi, berjalan, bernapas, serta memeluk orang-orang yang Anda cintai, maka sesungguhnya Anda adalah orang yang sangat kaya.

Karena kebahagiaan sejati bukan terletak pada apa yang kita miliki.

Melainkan pada hati yang mampu bersyukur atas apa yang masih Allah titipkan kepada kita.

Dari dalam LRT Jabodebek menuju Dukuh Atas, Omjay menulis dengan hati. ❤️ Bekasi – Jakarta, Pukul 06.00 WIB.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah – omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tinggalkan Balasan