
Membasmi Tengkulak: Harapan dan Tantangan Koperasi Merah Putih
Di balik kemegahan pembangunan nasional, kehidupan ekonomi pedesaan Indonesia masih diwarnai ketimpangan struktural. Salah satu simbol ketimpangan itu adalah keberadaan tengkulak—perantara yang membeli hasil tani dan nelayan dengan harga murah lalu menjualnya kembali dengan margin tinggi. Tengkulak bukan sekadar sosok, tetapi bagian dari sistem ekonomi yang mengeksploitasi keterbatasan petani dalam hal modal, akses pasar, dan informasi.
Tengkulak: Sistem yang Mengakar
Sejarah mencatat keberadaan tengkulak sejak masa kolonial. Kala itu, petani pribumi tidak memiliki akses ke pasar atau modal, sehingga sangat bergantung pada pedagang perantara. Ketergantungan ini diwariskan hingga kini, bahkan ketika Indonesia telah merdeka lebih dari tujuh dekade. Tengkulak menguasai tiga kunci utama ekonomi desa:
- 1. Akses ke modal (meski dengan bunga mencekik).
- 2. Akses ke pasar (yang jauh dan sulit dijangkau petani).
- 3. Informasi harga (yang disimpan rapat demi keuntungan sendiri).
Upaya memberantas tengkulak bukanlah hal baru. Namun, sebagian besar gagal karena solusi yang ditawarkan tidak menyentuh akar persoalan struktural dan kelembagaan.
Koperasi Merah Putih: Cahaya di Ujung Terowongan
Pemerintah saat ini menggulirkan program Koperasi Merah Putih, sebuah inisiatif besar yang bertujuan mendirikan ribuan koperasi rakyat di desa-desa seluruh Nusantara. Ini adalah langkah strategis, bahkan bisa dikatakan revolusioner, jika dilaksanakan dengan benar.
Mengapa koperasi bisa menjadi solusi?
Koperasi adalah lembaga ekonomi berbasis keanggotaan, yang berarti keuntungannya kembali ke rakyat.
Ia dapat menyediakan akses modal murah, informasi pasar yang transparan, dan sarana distribusi kolektif.
Dengan manajemen yang sehat, koperasi dapat mengintegrasikan petani ke dalam rantai pasok modern—bukan hanya sebagai produsen, tetapi juga pelaku bisnis sejati.
Tantangan Struktural: Jangan Ulangi Kesalahan Lama
Namun, sejarah juga mencatat banyak koperasi hanya menjadi simbol tanpa fungsi. Bahkan, ada koperasi yang justru berubah menjadi “tengkulak baru” karena dikuasai elite lokal.
Beberapa tantangan krusial yang harus diatasi:
- 1. Manajemen koperasi harus profesional. Pendidikan dan pelatihan pengurus menjadi keharusan.
- 2. Koperasi harus digital. Akses ke informasi harga pasar nasional dan jaringan distribusi online akan meruntuhkan monopoli tengkulak.
- 3. Integrasi ke industri pengolahan. Petani tak boleh hanya menjual gabah, tetapi harus punya akses ke penggilingan, pengemasan, bahkan ekspor.
- 4. Infrastruktur pendukung. Jalan desa, gudang, cold storage, dan internet menjadi infrastruktur vital koperasi masa kini.
Saatnya Sistem Baru Menggantikan Sistem Lama
Tengkulak tidak akan hilang hanya dengan larangan atau retorika. Ia harus dilawan dengan ekosistem ekonomi yang lebih adil, transparan, dan inklusif. Koperasi Merah Putih memiliki potensi besar untuk itu—asal tidak menjadi proyek seremonial.
Pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil harus bahu-membahu mengawal koperasi sebagai institusi rakyat yang kuat, bukan hanya papan nama. Jika berhasil, bukan hanya tengkulak yang hilang, tetapi ekonomi kerakyatan yang sejati akan bangkit.
- BHP, 5 Mei 2025
- TD





