Wisuda adalah upacara peresmian atau pelantikan yang dilakukan secara khidmat, biasanya oleh lembaga pendidikan seperti universitas atau perguruan tinggi, untuk mengakui prestasi akademik seseorang yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu.
Wisuda, yang dulunya merupakan tradisi di perguruan tinggi untuk merayakan kelulusan dan pemberian gelar, kini telah berkembang menjadi acara yang umum di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK hingga SMA/SMK. Meskipun tujuannya sama, yaitu merayakan pencapaian siswa dan menandai akhir dari satu tahapan pendidikan, bentuk dan makna wisuda pada setiap jenjang memiliki perbedaan yang signifikan
Khusus pada jenjang SMK/SMA, Wisuda merupakan momen penting yang menandai berakhirnya masa pendidikan menengah atas dan awal langkah siswa menuju dunia pendidikan tinggi, dunia kerja, atau pelatihan vokasional lanjutan. Tradisi ini kini semakin umum dilakukan, meskipun sebelumnya lebih identik dengan jenjang perguruan tinggi. Pelaksanaannya tentu membawa dampak yang bisa dilihat dari dua sisi: positif dan negatif.
Sisi Positif Wisuda SMA/SMK
- Momentum Apresiasi dan Penghargaan
- Wisuda menjadi ajang penghargaan atas perjuangan dan pencapaian siswa selama masa studi. Ini memberikan rasa pencapaian dan kebanggaan, baik bagi siswa maupun orang tua.
- Peningkatan Motivasi
- Upacara yang sakral dan meriah sering kali memberikan motivasi bagi adik kelas untuk semangat dalam belajar agar bisa mengalami hal serupa.
- Penguatan Emosional dan Kebersamaan
- Momen wisuda memperkuat ikatan emosional antar siswa, guru, dan orang tua. Ini menjadi penutup yang manis sebelum siswa melangkah ke fase hidup selanjutnya.
- Peluang Kreativitas Sekolah
- Sekolah memiliki kesempatan untuk menampilkan kreativitas melalui rangkaian acara, seperti penampilan seni, video kenangan, dan penghargaan siswa berprestasi.
Sisi Negatif Wisuda SMA/SMK
- Biaya yang Membebani
- Wisuda sering kali membutuhkan biaya cukup besar, baik untuk sewa gedung, kebaya/Jas, konsumsi, maupun dekorasi. Hal ini bisa menjadi beban bagi siswa atau orang tua dari kalangan kurang mampu.
- Formalitas yang Berlebihan
- Ada kekhawatiran bahwa wisuda hanya menjadi simbol formalitas tanpa makna substansial, apalagi jika tidak diiringi dengan refleksi mendalam atas hasil pendidikan.
- Komersialisasi Pendidikan
- Wisuda kadang dianggap sebagai bagian dari komersialisasi pendidikan, di mana aspek seremonial lebih ditonjolkan ketimbang nilai-nilai pendidikan itu sendiri.
- Ketimpangan Sosial
- Dalam beberapa kasus, pelaksanaan wisuda yang mewah justru menimbulkan kesenjangan sosial di antara siswa. Ada yang bisa mengikuti dengan lengkap, ada pula yang hanya datang sebagai tamu karena kendala biaya.
Jika melihat dari dua sisi tersebut, maka pelaksanaan wisuda tingkat SMA/SMK membawa banyak nilai positif sebagai bentuk penghargaan dan momen perpisahan yang berkesan. Namun, perlu ada pertimbangan bijak agar tradisi ini tidak menjadi beban orang tua atau simbol semata. Sekolah dan orang tua perlu bekerja sama agar wisuda bisa dirayakan secara inklusif, sederhana, namun bermakna. ***
Referensi:
https://news.detik.com/berita/d-7892695/sejarah-wisuda-dari-abad-ke-12-hingga-perkembangan-tradisinya-kini#:~:text=Awalnya%2C%20prosesi%20wisuda%20hanya%20dikenal,SD%2C%20SMP%2C%20hingga%20SMA.






