
Tulisan Bapak Dahlan Iskan. Judul Bayi Sesar
Posting Rabu, 11 Juni 2025 di Postal disway.id
Catatan Harian Dahlan Iskan
Biar begitu banyak yang pesimistis, Presiden Prabowo tidak akan mundur. Koperasi desa Merah Putih pasti ia jalankan. Apalagi tahapnya sudah hamil tua: legalitas koperasinya sudah tuntas. Di tiap desa. Akta notaris sudah dibuat. Pengesahan dari menteri hukum sudah terbit.
Hampir semua yang pesimistis itu beralasan: program ini top down. “Kalau mau sukses harus tumbuh lewat inisiatif dari bawah,” ujar Prof Dr Hanif Nurcholis. Prof Hanif banyak menulis buku soal otonomi desa. Kini menjabat ketua Senat Universitas Terbuka.
Masalahnya: inisiatif dari bawah itu yang tidak ada. Tidak banyak. Tepatnya amat-sangat sedikit. Kalau menunggu tumbuhnya inisiatif dari bawah tidak akan ada perubahan apa-apa. Ekonomi akan terus begini-begini saja.
Maka Prabowo pun mengulangi apa yang sejak Orde Lama diperjuangkan. Koperasi desa. Agar amanat UUD 45 dijalankan. Gagal.
Lalu Orde Baru. Juga gagal. Setelah itu baru Prabowo ini yang berani memulainya lagi.
Untuk gagal?
Begitulah pendapat terbanyak di media sosial. Begitu tinggi keraguan untuk berhasil. Begitu banyak pendapat yang mendukung kegagalan itu –tidak perlu saya ulangi di sini.
Tapi di dunia ini banyak jagoan yang justru bersemangat ketika diramal gagal. Tertantang. “Saya beda,” mungkin begitu jargon orang yang tertantang.
Saya juga beda. Saya punya prinsip: rencana yang kurang baik bisa berhasil bila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Lebih berhasil dibanding rencana yang baik tapi tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Maka letaknya lebih di sungguh-sungguhnya. Itulah pelajaran yang saya petik dari perjalanan panjang mengelola begitu banyak perusahaan di masa lalu.
Apakah koperasi desa Merah Putih akan dilaksanakan secara sungguh-sungguh?
Kita tahu: Presidennya kelihatan amat bersungguh-sungguh. Tingkat kesungguhannya ibarat emas 24 karat.
Bagaimana dengan menteri koperasinya?
Bagaimana dengan Dinas Koperasi di provinsi –dan terutama di kabupaten/kota?
Bagaimana pula dengan kepala desa dan pengurus koperasinya?
Kalau yang sungguh-sungguh hanya presidennya maka kadar kesungguhan program ini hanya 25 sampai 40 persen. Padahal kadar sungguh-sungguhnya harus 100 –kalau saja ada: 120!
“Anda kan ikut pengarahan di kantor dinas koperasi kabupaten. Menurut Anda apakah kepala dinasnya bisa dikatakan orang yang mampu membina koperasi di seluruh kabupaten?” tanya saya kepada salah satu pengurus Merah Putih.
“Sama sekali tidak. Jauh dari bisa dikatakan mampu sebagai pembina yang baik,” jawabnya. Padahal itu di kabupaten yang tergolong besar di Jatim.
Tentu Anda sudah tahu: Dinas Koperasi di suatu kabupaten bukanlah tangga emas untuk berkarier. Citra umum yang muncul: bila diangkat ke dinas koperasi berarti sedang setengah dibuang. Maka bisa dibayangkan kualitas seperti apa yang ada di tempat pembuangan.
Itulah nasib. Roda berputar. Dinas yang awalnya hanya sekadar ada kini mendadak menjadi dinas yang sangat penting.
Tentu Presiden Prabowo sudah tahu semua itu. Presiden punya jalur lain yang akan membina koperasi desa: bank milik pemerintah.
Modal koperasi desa itu berupa kredit bank. Maksimal Rp 5 miliar. Berarti bank akan terlihat langsung di gagal-tidaknya Merah Putih. Bank sudah menganalisis masing-masing sejak masih dalam bentuk perencanaan. Bahkan ikut membinanya saat perencanaan dibuat.
Lalu bank mengamati jalannya koperasi. Ini akan menjadi pekerjaan khusus bagi bagian manajemen risiko di bank pemerintah.
Presiden Prabowo pasti lebih mengandalkan jalur pembinaan lewat bank ini. Bukan jalur birokrasi. Jalur birokrasi justru hanya akan menambah keruwetan di koperasi.
Jalur bank akan lebih realistis. Bank dituntut lebih. Tidak sekadar pemberi fasilitas kredit.
Berarti beban manajemen bank akan naik drastis. Kelak akan ada Piala Presiden bagi bank yang paling berhasil memajukan koperasi Merah Putih.
Waktu tidak banyak lagi. Saat kelahiran sang jabang bayi sudah begitu dekat. Begitu lahir bayi-bayi itu harus bisa bernapas. Ia bukan anak kambing yang begitu lahir bisa cari sendiri di mana susu ibunya. Lalu bisa latihan jalan sendiri. Cari makan sendiri. Dewasa sendiri.
Bayi Merah Putih kini berdebar di kandungan ibu pertiwi: apakah akan lahir normal, prematur atau lewat sesar! (Dahlan Iskan)
Komentar Thamrin Dahlan
Thamrin Dahlan YPTD
Bayi Sesar dilahirkan melalui tindakan operasi. Bisa jadi bersebab alasan medis apabila dilahirkan secara normal. Namun di era modern terkadang ada Ibu Hamil lebih memilih operasi sesar.
Anda sudah paham tidak perlu dijelaskan lagi beragam alasan. Malahan agak ngetrend orang tua kandung bisa memilih (memesan) tanggal lahir sii anak misalnya 17 Agustus. Maksudnya agar Ultah di peringati se Indonesia disamping mudah di ingat.
Istilah Bayi Sesar Koperasi Merah Putih merupakan Pendapat pribadi Abah. Kenapa diibaratkan bayi prematur ? Apakah ada kondisi kriitis sehingga nada tulisan CHD lebih kepada genre pesimistis. Ya sudahlah.
Kita lihat saja niat baik Kabinet Merah Putih menggelorakan ekonomi pedesaan. Semoga nilai nilai luhur Koperasi Bung Hatta Sang Proklamator merasuk ke jiwa pengabdian semua warga nan terlibat di pekerjaan kolosal massal.
So pasti dimana ada semut disana sudah tersedia gula gula. Resiko bergelimang potensi penyalahgunaan dana. Oke positif thingking. Perlu pengawasan ketat. Tindak keras setiap pelanggaran terjadi di operasional Koperasi Merah Putih agar ada efek jera,
- Salam Indonesia Raya
- BHP, 110625
- TD




