Maraknya terpaan media sosial tentang Makan Bergizi Gratis (MBG) diwarnai dengan beragam nuansa berita.
Tidak dapat disangkal dalam melaksanakan program sebesar MBG tentu tak lepas dari kelebihan dan kekurangan. Tak luput dari sorotan dari berbagai sudut pandang. Tentu saja ada yang dilontarkan dari persepsi dan interpertasi positif dan ada juga yang jauh dari kata memberi semangat.
Peluncuran MBG tentu tidak sontak muncul begitu saja. Karena jika menilik fakta yang ada pemberian makanan di sekolah (school feeding) di tatar internasional dan nasional bukan hal baru.
Lebih kurang 93 negara di dunia punya pengalaman termasuk Indonesia melaksanakannya. Hasilnya juga beragam ada yang menjanjikan dan ada pula yang masih “jauh panggang dari api” bahkan tak memenuhi harapan.
Faktor-faktor yang memengaruhi capaian hasil program memang tidak sedikit. Menyitir ungkapan Wakil Ketua Komisi IX DPR yang mengulas tentang usulan tambahan anggaran menarik untuk disimak. Pasalnya menyangkut jumlah anggaran yang tidak sedikit yang dialokasikan untuk Badan Gizi Nasional (BGN) sebesar Rp 118 triliun.
Diiingatkan anggaran sebesar itu hendaknya tidak dialokasikan semata-mata hanya untuk hal memberikan makanan kepada anak sekolah saja dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, masalah utama yang harus dibenahi BGN adalah rendahnya edukasi gizi untuk usia dini dan lemahnya akses pangan sehat di berbagai daerah.Sejatinya bukan hanya soal edukasi yang semata-mata menyentuh ranah kognitif atau pengetahuan. Juga ranah sikap (afektif) serta keterampilan (psikomotorik) yang melekat dan muncul dalam perilaku sehari-hari. Belum lagi memantau dampak pemberian makan itu sendiri terhadap status gizi anak.
Ini penting karena ada hubungan perilaku makan dengan status gizi. Tidak kurang Penelitian menunjukkan bahwa perilaku makan anak, seperti cara makan, frekuensi makan, dan pemilihan makanan, sangat berhubungan erat dengan status gizinya.
Jika anak merespon makanan dengan baik, itu mengindikasikan status gizinya normal. Ia cenderung lebih mudah merespon makanan. Anak dengan status gizi kurang atau lebih cenderung memiliki perilaku makan tertentu bisa mudah kenyang atau memilih-milih makanan.
Asupan gizi seimbang. Faktor ini penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah. Anak yang mendapatkan makanan bergizi seimbang status gizinya akan baik dan terhindar dari masalah gizi seperti kekurangan gizi atau obesitas. Ini sudah banyak dibuktikan melalui berbagai penelitian.
Ada lagi satu faktor yaitu peran orang tua dalam membentuk pola makan sehat. Edukasi tentang gizi seimbang, menyediakan makanan sehat, dan menjadi contoh bagi anak dalam memilih makanan tidak cukup lewat pendidikan formal di sekolah. Pencerahan kepada anak yang dilakukan orang tua di rumah dapat membantu anak mengembangkan pola makan yang baik.
Dampak pemberian makanan dengan pola yang baik pada anak juga akan terlihat pada prestasi belajar. Pasalnya menyangkut perkembangan otak yang mendongkrak prestasi belajar anak. Anak yang mendapatkan makanan bergizi akan memiliki energi yang cukup untuk belajar dan berkonsentrasi di sekolah.
Pendidikan gizi itu memang penting. Tentu harus dilakukan sejak dini agar terbentuk dikap dan perilaku yang melekat dan diterapkan. Karena dalam pola makan pun banyak faktor memengaruhi baik internal (fisik dan psikologis) maupun eksternal (budaya, ekonomi, sosial), dapat mempengaruhi pola makan anak.
Lalu bagaimana dengan Penyediaan makanan sehat di sekolah?
Beberapa penelitian juga menyoroti pentingnya penyediaan makanan sehat di sekolah untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.
Pemberian makan bagi anak sekolah memang dapat merupakan salah satu upaya melengkapi kebutuhan zat gizi untuk bertumbuh dan beekembang. Bertumbuh mencapai tinggi optimal dan berkembang secara mental dan intelegensi yang maksimal.
Banyak penelitian juga menunjukkan pemberian makan yang baik dan edukasi gizi dapat membantu mencegah masalah gizi pada anak usia sekolah, seperti kekurangan zat gizi mikro, kekurangan zat gizi makro, dan gizi salah (malnutrition).
Penelitian-penelitian ini membuka wawasan yang lebih baik tentang pentingnya pemberian makan yang tepat pada anak sekolah guna mendukung tumbuh kembang yang sehat, dan prestasi belajar mereka. Dengan memahami hubungan antara pola makan, status gizi, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, dapat diambil langkah-langkah yang tepat untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan anak-anak.
Selamat makan generasi emas.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)







