HUT ke 5 YPTD, Yuk Rayakan di Thamrin City

Terbaru85 Dilihat

Jakarta siang itu terasa seperti biasa: ramai, sesak, dan penuh kejutan. Dari Stasiun Tanah Abang saya turun bersama arus manusia, lalu mencari bus kecil JakLingko nomor 09 yang mengarah ke Karet. Namun, perjalanan ini tak berjalan mulus. Salah naik armada membuat saya meluncur ke arah Roxy. Untung ada peta digital dan sedikit naluri kota yang menyelamatkan langkah saya, hingga akhirnya kaki menjejak di Thamrin City. Terlambat beberapa menit dari waktu janji, tapi suasana yang menyambut membuat semua rasa lelah sirna.

Hari ini bukan hari biasa. Ada yang istimewa di lantai dua Food Court Thamrin City, tepatnya di restoran Batang Tabik. Di sanalah kami merayakan ulang tahun ke-5 Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD), sebuah pertemuan sederhana yang menyimpan makna besar. Lima tahun bukan sekadar angka; ia adalah kisah panjang dedikasi untuk literasi.

Restoran ini punya motto unik yang terpampang jelas: “Aiahnyo Janiah, Itiknyo Jinak.” Filosofi Minang yang sederhana tapi sarat makna: air harus jernih, itik harus jinak—seimbang, tenang, dan bersih. Sama seperti cita-cita YPTD yang ingin menghadirkan karya berkualitas, bukan sekadar menambah jumlah.

Di meja panjang, wajah-wajah yang familiar hadir: Pak Thamrin Dahlan, sang penggagas YPTD, bersama istri tercinta Enida Busri Bendahara YPTD. Ada juga Mbak Mutiah, Bu Dr. Nani Kusmiyati, Butet  Sukma Gultom, Yon Bayu, Pak Sutiono, Bang Syaiful, Mas Sumadi, Madame Heddy, sampai Mbak dari Pontianak. Belakangan hadir pula Pak dokter IrsyaL Rusad  Sp. PD. Sahabat berhalangan kali ini: Erdonis Erdwan, Bang Isson, Nur Terbit, Pak Ajinatha, dan Omjay—beberapa karena sakit, beberapa karena pekerjaan.

Obrolan hangat mengalir sejak awal. Dimulai dengan candaan ringan, lalu pelan-pelan beralih ke refleksi serius tentang perjalanan YPTD selama lima tahun terakhir. Semua ini dibalut oleh aroma kuliner yang menggoda: balado batokok dengan cabai merah yang menggoda, ayam bakar, limpa, bakwan gurih, sampai kelepon manis. Jangan lupakan teh talua, minuman khas Minang yang selalu menjadi cerita.

Pak Thamrin tersenyum sambil mengajukan pertanyaan sederhana:

“Masih ingat waktu kita mulai dulu?”

Kami tertawa. Lima tahun lalu, YPTD hanya sebuah ide sederhana. Kini, mereka sudah melahirkan hampir 400 buku. Angka yang luar biasa untuk komunitas yang berjalan dengan semangat gotong royong.

Empat Ratus Buku dan Tantangan Kualitas

Setelah doa bersama, obrolan mengarah ke hal-hal serius. Target tahun depan adalah 500 buku. Sebuah tekad yang ambisius tapi realistis. Namun, tidak ada yang menutup mata pada tantangan yang masih membayangi.

“Kuantitas sudah bagus, tapi kualitas harus kita jaga,” ucap Mas Yon Bayu tenang. “Masih ada typo, tata letak yang kurang rapi, dan editing yang belum maksimal.”

Bu DR. Nani ikut menambahkan, memberikan contoh buku-buku yang layout-nya sudah ideal. Semua sepakat: ini bukan sekadar soal menambah angka, tapi menjaga marwah literasi. Buku bukan hanya produk, melainkan pusaka.

Acara resmi berakhir dengan foto bersama di depan spanduk yang memamerkan semangat lima tahun perjalanan. Tetapi hari ini belum selesai bagi kami. Bersama Mbak Mutiah, Sukma, dan Pak Sutiono, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Lapangan Banteng. Kami memesan taksi online dari depan Thamrin City. Dalam perjalanan, kami sempat bertemu Bang Nur Terbit yang baru saja keluar dari sidang. Ia bergegas ke lantai dua, berharap masih sempat bersalaman dengan Pak Thamrin dan kawan-kawan.

Lapangan Banteng sore itu memanjakan mata. Ada Flona 2025, pameran flora dan fauna yang selalu dinanti pecinta tanaman. Suasana berubah total: dari meja makan ke hamparan hijau yang penuh bunga. Obrolan yang sebelumnya berkutat pada typo dan tata letak kini bergeser ke bonsai, anggrek, dan burung-burung cantik. Tapi semangat yang sama terasa: merawat. Entah itu buku, persahabatan, atau alam.

Harmoni, Seperti Air yang Jernih

Dalam perjalanan pulang, pikiran saya melayang kembali ke moto Batang Tabik: “Aiahnyo Janiah, Itiknyo Jinak.” Sungguh relevan untuk literasi. Dalam menulis dan menerbitkan buku, niat harus jernih, sikap harus lembut, dan kerja harus tulus.

Hari ini bukan sekadar makan-makan. Bukan pula sekadar memperingati tanggal berdiri yayasan. Ini tentang sebuah gerakan: gerakan merawat ide, merawat tulisan, dan mewariskan pengetahuan. Karena buku bukan hanya tumpukan kertas. Buku adalah pusaka. Dan pusaka ini harus kita jaga bersama, agar kelak anak cucu tidak hanya mewarisi nama, tetapi juga hikmah dan ilmu.

  • Lima tahun sudah kita lalui. Jalan ke depan masih panjang. Siapa tahu, pada perayaan ke-10 nanti, kita tidak lagi berbicara 500 buku, tapi seribu karya. Bukan hanya soal angka, tapi soal dampak. Karena literasi bukan tujuan akhir—ia adalah jalan panjang yang harus kita nikmati, bersama.

Tinggalkan Balasan