APA MAKANAN KESUKAANMU NAK

Terbaru84 Dilihat

Tak dapat dipungkiri tumbuh kembang anak dipengaruhi makanan bergizi.

Makan itu proses memasukkan sesuatu ke dalam mulut, mengunyah dan menelannya. Ternyata banyak juga faktor yang memengaruhi. Ada  faktor internal seperti kondisi fisik (hormon, sistem saraf, alergi, penyakit), kondisi psikologis (emosi, citra tubuh), pengetahuan gizi, dan preferensi makanan pribadi.

Ada juga faktor eksternal mencakup faktor sosial budaya: kebiasaan, ekonomi, agama; lingkungan fisik :ketersediaan makanan, tempat makan, dan faktor media.

Pada anak-anak soal makan bisa gampang-gampang susah. Berawal dari kebergantungan pada ketekunan sang ibu menyediakannya di rumah.

Nampaknya faktor ketersediaan makanan, tempat makan, faktor media,
kesukaan makanan pribadi dan kebiasaan  dalam hal ini banyak juga berpengaruh.

Anthony Bourdain berujar tentang makanan.”Makanan adalah segalanya bagi kita. Ini merupakan perpanjangan dari perasaan nasionalis, perasaan etnis, sejarah pribadimu, provinsimu, daerahmu, sukumu, nenekmu. Itu tidak dapat dipisahkan sejak awal.”

Itu dapat dimaknai dengan soal makan itu bukan sekedar mengisi perut agar kenyang saja. Namun juga membawa identitas diri. Kesadaran bahwa makanan lebih dari sekadar sumber penghidupan—makanan adalah ekspresi budaya, warisan, dan kreativitas”.

Jadi jika mau menyediakan makanan bagi anak di rumah pengetehuan ibu serta keterampilan mengolah menu makanan bagi anak tentu harus memadai. Apa lagi jika makanan diberikan di luar rumah semisal di sekolah. Faktor-faktor yang memengaruhi kebiasaan dan selera anak tentu harus jadi pertimbangan seksama. Jika tidak makanan akan banyak tersisa dan terbuang. Tujuan melengkapi kecukupan gizi menjadi sia-sia.

Kebiasaan makan anak dapat menurun atau ditiru dari orang tua (ayah dan ibu). Lalu kebiasaan makan anak itu diwariskan oleh siapa dalam keluarga. Hasil penelitian “Deakin University” di Australia menunjukkan benar adanya bahwa kebiasaan makan ayah berpotensi turut memengaruhi selera makan anak.

Ditemukan bahwa ternyata anak-anak berusia 20 bulan sudah memiliki pola makan yang sama dengan Ayah mereka. Termasuk kebiasaan mengonsumsi camilan manis berdasarkan asupan Ayah.

Jadi tidak heran jika ada anak menolak makanan. Alasan utama anak tidak mau makan menurut penelitian bisa karena takut pada tampilan, bentuk, tekstur, atau rasa makanan yang masih baru.

Selain itu, ada penyebab lain kenapa anak tidak mau makan, seperti:
Anak yang suka pilih-pilih makan (picky eater) biasanya sulit ditawari variasi jenis makanan di luar dari apa yang ia sukai.

Bisa jadi juga ada rasa bosan. Sama seperti orang dewasa, anak juga bisa merasa bosan ketika menu yang disajikan itu-itu saja, cita rasanya cenderung hambar, atau tekstur makanannya kurang menantang.

Selain itu anak bisa menolak makanan karena porsi makan yang terlalu besar. Ini kerap menjadi alasan anak susah makan karena terlanjur merasa kewalahan dan ketakutan melihat tampilan jumlahnya.

Ada kata bijak berujar “Masakan rumah adalah wujud cinta yang bisa dirasakan”. Jika demikian bukankah lebih bijak jika anak-anak membawa bekal makanan dari rumah kesekolah.

Tentu upaya menanamkan kebiasaan makan yang baik ini yang harus terus menerus ditekuni. Masalahnya terletak bukan pada bisa atau tidak, tetapi mau atau tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan