Lengser dari jabatan kepala staf presiden, tidak membuat Letjen Purn A.M. Putranto kekurangan pengabdian. Ia masih jadi ketua dewan pembina Vertical Rescue Indonesia.
Targetnya: membangun 1000 jembatan gantung di seluruh Indonesia.
Jembatan yang ke-221 ia resmikan Rabu kemarin. Di kota Malang. Saya ikut menyaksikannya.
Kota Malang perlu jembatan gantung?
Begitulah. Ada sungai Bangau yang melintas pinggiran kota Malang. Curam sekali. Siswa SMP di sisi timur harus memutar empat kilometer. Gedung SMP-nya di barat sungai.

Lokasi ini indah dan teduh. Di kanan kiri sungai tumbuh berbagai jenis bambu yang rindang: petung, apus dan bambu ori. Jembatan gantung itu sendiri dibangun di sela-sela rumpun bambu.
Yang membangun jembatan ini adalah Vertical Rescue Indonesia (VRI). Aslinya VRI adalah paguyuban panjat tebing. Komandannya pemuda dari Bandung. Alumnus Unpad: Tedi Ixdiana. Itu tidak salah tulis. Ia sendiri tidak tahu kenapa orang Sunda pakai nama Ixdiana.
Ide membangun jembatan gantung itu dari kegiatan panjat tebingnya di pegunungan Cartenz, Puncak Jaya, Papua. Gunung tertinggi di Indonesia. Di ketinggian 4.000 meter terdapat jurang yang dalam. Banyak kecelakaan di situ. Maka VRI membangun jembatan gantung di situ.
Tedi memang seorang pemanjat tebing sejati. Sejak SD. Teknik-teknik panjat tebing ia kuasai. Teknik pembuatan jembatan gantung itu pun sepenuhnya menggunakan teknik panjat tebing. Tidak pakai alat berat. Tidak pakai tangga atau pun scaffolding. Tidak pakai semen.
Misalnya yang di Malang itu. Kekuatan bentangnya ada pada batu dan baja sling. Diperlukan delapan batu yang besarnya masing-masing seberat satu ton. Empat ditanam di sisi kanan sungai. Empat di sisi kiri.
Batu itu diambil dari sungai itu sendiri. Menaikkannya pun tidak pakai alat berat. Pakai teknik panjat tebing.
Batu itu lantas dilubangi untuk ikatan baja sling.
Maka tali baja sling itu terikat kuat di batu di sisi sini dan di sisi sana. Lalu dikencangkanlah tali slingnya. Dikencangkan dengan alat pengencang yang biasa dipakai pemanjat tebing. Tiap jembatan diperlukan delapan tali baja sling. Empat di bawah jembatan, dua di atasnya.

—
Dari 221 jembatan yang sudah dibangun –dalam 10 tahun– tidak satu pun yang menggunakan anggaran negara. Semuanya biaya swadaya.
Yang di Malang itu misalnya, sepenuhnya sumbangan pengurus pusat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI). Karena itu Putranto dan Tedi didampingi Wilianto Tanta dan Teguh Kinarto dari PSMTI pusat. Wili adalah ketua umumnya. Teguh adalah ketua dewan penasihat.
Masih ada satu jembatan lagi di Malang yang sepenuhnya pakai dana Teguh Kinarto –yang memang asli Malang.

—
VRI sendiri punya anggota 30.000 orang. Mereka sekaligus menjadi relawan. Relawan itulah yang sepenuhnya mengerjakan jembatan itu –dibantu rakyat setempat.
Saya begitu ingin memberikan gelar insinyur kepada Tedi yang S1-nya Sospol Unpad.
Putranto, yang kini mendapat tugas sebagai Komisaris Utama PT Pegadaian, bertekad untuk mengawal target 1.000 jembatan gantung.
Putranto rajin menghubungi Kodim-Kodim, minta bantuan, agar kalau ada desa yang perlu jembatan gantung segera diinfokan kepadanya. Yang di Malang ini adalah berkat informasi dari Kodim Malang.
PSMTI sendiri tadi malam punya gawe: Rakernas. Di Batu. Hampir 1.000 pengusaha Tionghoa kumpul di Batu. Selama tiga hari. Karena itu sebagian bisa ikut di acara peresmian jembatan.

—
Tidak hanya jembatan gantung. Putranto, kelahiran Jember, ternyata juga ketua pembina ikatan pemulung Indonesia.
Putranto tampak masih gesit. Apalagi kemarin itu ia mengenakan seragam VRI –seperti siap terjun ke wilayah bencana. Saya tidak menyangka itu Jenderal Putranto.
Ia juga sangat supel. Ia menyapa seluruh penduduk desa dekat jembatan itu. Terlihat akrab dengan rakyat. Tidak heran kalau Putranto bisa memenangkan Capres Prabowo di Jawa Tengah yang mestinya sangat sulit. Menundukkan kandang banteng itulah jasanya pada Prabowo ketika Putranto menjadi ketua tim pemenagan Prabowo di Jateng.
Putranto tidak sampai setahun di Istana. Jabatan KSP harus ia lepaskan. Tapi seorang pengabdi tidak akan pernah kehilangan lapangan pengabdian. (Dahlan Iskan)
Komentar
Komentar Thamrin Dahlan YPTD
Salam hormat, Jenderal Putranto. Jabatan sebagai Kepala Staf Kepresidenan tentu prestisius dan penuh tanggung jawab. Namun dalam kapasitas sebagai Relawan Jembatan Gantung, nilai manfaatnya jauh melampaui gelar dan kedudukan. Di sana ada ruh kemanusiaan yang nyata — menghubungkan yang terpisah, menyatukan harapan, dan membuka akses kehidupan.
Pembangunan jembatan gantung bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi jembatan kasih dan kepedulian sosial. Masih banyak anak sekolah di pelosok negeri yang harus menyeberangi sungai deras demi menuntut ilmu. Ketika sebuah jembatan terbentang, bukan hanya langkah mereka yang dipermudah, tapi juga masa depan mereka yang diterangi.
Salam hormat juga untuk VRI, Mas Tedi Ixdiana, dan seluruh anggota PSMTI. Doa kami, semoga Anda semua selalu dikaruniai kesehatan, kekuatan, dan keistiqamahan hingga target 1.000 jembatan gantung bisa tercapai. Betapa indah bila seluruh Indonesia tersambung bukan hanya oleh beton dan baja, tetapi oleh semangat gotong royong dan cinta sesama.
Saya pribadi sangat senang dengan penggunaan istilah relawan dalam tulisan Abah kali ini. Kata itu terasa hidup dan positif. Relawan sejati bekerja bukan karena pamrih, melainkan karena panggilan hati. Mereka adalah pelita di tengah gelap, yang berjuang dengan niat tulus demi kemaslahatan umat.
Namun di sisi lain, perlu juga kita renungkan makna relawan agar tidak bergeser. Ada sebagian kalangan yang membawa embel-embel relawan, namun niatnya tersurat dan tersirat demi cuan atau jabatan. Di sinilah pentingnya menjaga kemurnian makna pengabdian, agar kata relawan tetap harum, bukan tercemar oleh kepentingan pribadi.
Semoga gerakan Jembatan Gantung menjadi teladan bahwa nilai manfaat lebih berharga daripada jabatan. Apa yang dilakukan Jenderal dan para sahabat relawan ini adalah cermin dari sila kedua Pancasila: kemanusiaan yang adil dan beradab. Inilah prestasi sejati yang pantas mendapat penghormatan dan doa terbaik dari seluruh rakyat Indonesia.
Alhamdulillah, penghargaan dari alam semesta telah lebih dulu menghampiri Jenderal dan para relawan sejati. Semoga langkah Anda semua diberkahi Allah SWT, dilipatgandakan pahala, dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menebar kebaikan.
Salam Jum’at Berkah,
Thamrin Dahlan – YPTD







