
alexandra_koch-video-conference-5964262
Ramadhan: Hari-Hari yang Menenangkan Hati
Day 23 Tetap Berkontribusi dari Jarak Jauh
Beberapa teman menghubungi saya hari ini. Mereka bertanya mengapa saya tidak dapat hadir langsung di acara buka bersama yang telah direncanakan sehari sebelumnya. Beberapa bahkan mengatakan bahwa acara terasa kurang seru tanpa kehadiran saya.
Saya tersenyum mendengarnya.
Namun mereka juga memahami kondisi saya. Beberapa dari mereka pun tidak dapat hadir karena harus menghadiri acara buka bersama di kantor masing-masing.
Saya kemudian meminta beberapa teman yang memang memiliki waktu luang untuk tetap hadir di tempat acara. Saya berharap suasana akan menjadi lebih bersemangat dengan kehadiran mereka.
Syukurlah dua sahabat perempuan saya bisa datang langsung. Saya merasa senang karena sudah ada yang mewakili kehadiran saya di sana.
Semoga masih ada beberapa teman lain yang juga dapat hadir di sore hari itu.
Sementara itu di rumah, saya sudah berpesan kepada putra saya agar membeli makanan yang praktis saat ia pulang dari tempat kerja. Saya memang jarang memasak untuk berbuka puasa, karena banyak pilihan makanan yang bisa dibeli di sekitar rumah.
Acara buka bersama yang dilakukan secara online dan offline (hybrid) dijadwalkan mulai pukul 16.30.
Saya pun mulai mempersiapkan diri, termasuk memilih kerudung yang akan saya kenakan saat menjadi pembawa acara.
Siang hari saya sempat beristirahat dan melakukan beberapa kegiatan rumah yang saya sukai.
Namun tiba-tiba saya mendapat telepon dari kampus. Dari pembicaraan tersebut saya mendapat kabar bahwa dua proposal PKM dan satu proposal penelitian dapat diteruskan, tetapi nama saya tidak dapat dimasukkan sebagai anggota tim karena saya bukan dosen tetap, melainkan praktisi.
Ibu Profesor di kampus menyampaikan permintaan maaf karena proposal tersebut sebenarnya merupakan hasil jerih payah saya.
Saya menjawab dengan tenang bahwa tidak masalah jika proposal itu tetap digunakan dan dapat memberi manfaat bagi kampus.
Bagi saya, amal ilmu di bulan Ramadhan justru terasa lebih bermakna.
Saya tidak terlalu kecewa. Hanya saja ke depan, tim yang tidak ikut menyusun konsep tersebut mungkin perlu mencari referensi sendiri untuk melanjutkannya.
Saya berharap mereka dapat menyelesaikannya dengan baik tanpa harus banyak bertanya lagi mengenai konsep yang telah dibuat.
Menjelang sore hari saya sudah siap untuk menjalankan tugas sebagai pembawa acara.
Acara berjalan cukup baik dan bisa dikatakan sukses, walaupun ada beberapa gangguan kecil. Beberapa peserta tidak mematikan mikrofon sehingga suara mereka sempat masuk ke dalam Zoom ketika narasumber sedang menyampaikan materi.
Dalam situasi seperti itu, kesabaran memang diuji. Acara hybrid memang memerlukan persiapan yang lebih matang, terutama dari admin yang menangani teknis di tempat acara.
Hal ini juga menjadi pengingat bahwa etika dalam mengikuti acara online atau hybrid masih perlu banyak disosialisasikan.
Namun secara keseluruhan acara berjalan dengan baik. Saya berusaha tetap menenangkan narasumber agar suasana tetap kondusif.
Ketika waktu berbuka puasa tiba, saya meminta izin untuk leave sebentar dari Zoom, karena saya belum sempat menyiapkan teh untuk berbuka.
Tepat saat itu putra saya sudah tiba di rumah dengan membawa dua kotak makanan HokBen spesial.
Saya tersenyum lega melihat putra saya menikmati makanannya dengan lahap.
Beberapa saat kemudian beberapa foto dari tim juga dikirimkan kepada saya. Ternyata tidak terlalu banyak teman yang hadir di lokasi acara, namun suasana tetap hangat karena ada beberapa tamu baru yang kebetulan juga berbuka puasa di hotel tersebut bersama kelompok atau keluarga mereka.
Hari ini kembali mengajarkan saya bahwa kehadiran tidak selalu harus berada di satu tempat.
Kadang kita tetap dapat berkontribusi dari jarak jauh, selama niatnya tulus dan dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Self Reminder Day 23
Memberi yang terbaik tanpa selalu menuntut pengakuan,
tetap tenang menghadapi situasi yang tidak sempurna,
dan mensyukuri kebersamaan sederhana di rumah.
“Tidak semua usaha harus terlihat oleh banyak orang.
Yang terpenting adalah ketulusan saat kita melakukannya.”
Jonggol, Jumat, 13 Maret 2026
Nani Kusmiyati
Pecinta Literasi






