Kebiasaan mengundurkan atau menangguhkan pekerjaan secara sengaja, meski tahu dampak negatifnya, dikatakan menunda. Sering dianggap kebiasaan sepele, padahal dampaknya secara psikologis cukup dalam dan berlapis. Ia bukan sekadar “malas”, tetapi sering berkaitan dengan cara seseorang mengelola emosi, tekanan, dan harapan terhadap diri sendiri.
Saat tugas atau pekerjaan ditunda, pikiran tidak benar-benar “bebas”. Ada beban mental yang terus menggantung. Menunda justru membuat masalah terasa lebih besar dari yang sebenarnya.
Akibatnya:Muncul rasa gelisah,
Pikiran dipenuhi bisikan “harusnya saya sudah mulai”,
tekanan meningkat mendekati deadline.
Ketika seseorang terus menunda dan akhirnya hasil tidak optimal, muncul pola pikir negatif yang menurunkan percaya diri dan membentuk identitas diri yang tidak sehat. Perlahan tapi pasti mengikus self-esteem yaitu penilaian subjektif terhadap nilai atau harga diri sendiri. Ini memengaruhi cara individu berinteraksi, mengatasi tantangan, dan berpotensi memengaruhi kesehatan menta.
Menunda sering bukan masalah waktu, tetapi masalah emosi—takut gagal, perfeksionisme, atau merasa kewalahan. Meski mungkin memberi kenyamanan sesaat, tetapi hampir selalu menukar ketenangan, nengusik dalam jangka panjang.
Karena itu jangan menunda, bertindaklah karena menunda sama dengan menambah beban lebih besar untuk hari esok.” Action is power”
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)


