RESENSI BUKU
ANAK DESA MENYUAPI DUNIA
Jejak Perjalanan Membangun Imperium Ekspor Pangan
Karya Datuk Diraja Dimyani (Kaji Dim)
Resensi Oleh Thamrin Dahlan
Judul Buku : Anak Desa Menyuapi Dunia
Penulis : Datuk Diraja Dimyani (Kaji Dim) Co-Writer Adtya Akbar Hakim & Among Kurnia Ebo
Cetakan : Cetakan Pertama (hard cover)
Tahun Terbit : Juli 2026
Penerbit : Gemar Maos Group
Jumlah Halaman : xxxvii + 187 halaman, 15,5 cm x 23 cm
ISBN : 978-634-05-3634-8
Daftar Isi
- Persembahan Datuk Diraja Dimyani
- Sekapur Sirih Co Writer
- Pemantik Awal
- Jejak Pertama : Benih di Tanah Luhur
- Jejak Kedua : Jiwa Petarung Masa Remaja
- Jejak Ketiga : Awal Mula Mendirikan Fondasi Ekspor
- Jejak Keempat : Onak Badai dan Navigasi
- Epilog
- Daftar Bacaan
- Sekilas Profil Datuk Diraja Dimyani (Kaji Dim)
- Tentang Co Writer
Susunan isi buku memperlihatkan bahwa Anak Desa Menyuapi Dunia dibangun sebagai sebuah perjalanan yang bertahap dan terarah. Setelah Persembahan Datuk Diraja Dimyani, Sekapur Sirih Co-Writer dan Pemantik Awal, pembaca diajak mengikuti empat jejak utama: “Benih di Tanah Luhur”, “Jiwa Petarung Masa Remaja”, “Awal Mula Mendirikan Fondasi Ekspor”, serta “Onak Badai dan Navigasi.”
Empat jejak tersebut menurut saya merupakan tulang punggung buku. Benih menggambarkan akar dan lingkungan yang membentuk manusia; jiwa petarung menggambarkan karakter yang ditempa sejak remaja; fondasi ekspor menunjukkan keberanian mengubah pengalaman menjadi karya ekonomi; sedangkan onak badai dan navigasi mengingatkan bahwa membangun usaha tidak selalu berada di jalan yang mulus.
Setelah itu, Epilog menjadi ruang perenungan, sementara Daftar Bacaan, Sekilas Profil Datuk Diraja Dimyani (Kaji Dim) dan Tentang Co-Writer melengkapi buku sebagai sebuah dokumentasi literasi. Struktur tersebut membuat pembaca tidak hanya melihat hasil akhir sebuah keberhasilan, tetapi diajak menelusuri benihnya, menyaksikan pertumbuhannya, menghadapi badai perjalanannya, lalu mengambil hikmah dari seluruh proses tersebut.
Sejatinya ada buku yang selesai dibaca lalu diletakkan kembali di rak. Ada pula buku yang setelah selesai dibaca justru mengajak pembacanya merenung tentang kehidupan. Anak Desa Menyuapi Dunia karya Datuk Diraja Dimyani (Kaji Dim), bersama co-writer Adtya Akbar Hakim dan Among Kurnia Ebo,
Menurut hemat Saya berada makna terdalam terdapat pada Sub judul : Jejak Perjalanan Membangun Imperium Ekspor Pangan, Mempertegas bahwa buku ini bukan hanya kisah seorang anak desa, melainkan rekaman perjalanan panjang membangun usaha pangan Indonesia hingga menembus pasar internasional.
Siapa sebenarnya “anak desa” yang dimaksud? Ia adalah Kaji Dim, yang tumbuh dari Desa Ariyojeding, Rejotangan, Tulungagung. Kehidupan masa kecilnya tidak dimulai dari kemapanan. Orang tua harus berjuang mencari penghidupan hingga ke Malaysia. Sang Ayah bekerja sebagai pekerja migran di perkebunan sawit. Kaji Dim menjalani masa kanak-kanak dan pendidikan dengan segala dinamika kehidupan desa. Kelak perjalanan pendidikan membawanya hingga menempuh pendidikan teknik mesin di Malang. Dari titik inilah pembaca memperoleh pelajaran pertama: asal-usul seseorang tidak menentukan sejauh mana ia dapat melangkah. Desa boleh menjadi titik keberangkatan, tetapi cita-cita tidak mengenal batas geografis.
- Dari Tulung Agung merantau ke Malaysia
Datuk Singgah sejenak di Tanjung Pinang
Menerbitkan Buku ikhtiar nan sangat mulia
Meninggalkan rekam jejak selalu dikenang
Perjalanan Kaji Dim menjadi semakin menarik ketika dunia pendidikan bertemu dengan dunia kewirausahaan. Usaha keluarga membuat kacang sukro menjadi salah satu pengalaman awal yang memperkenalkannya kepada dunia perdagangan. Produk sederhana yang dikerjakan dengan tangan dan ketekunan ternyata dapat memiliki nilai ekonomi lebih luas. Dari pengalaman itu tumbuh keberanian untuk melihat peluang. Kemudian produk pangan Indonesia mulai dibawa menuju pasar Malaysia. Dalam perjalanan bisnis tersebut, ekspor yang semula sederhana berkembang menjadi pengiriman dalam jumlah yang lebih besar. Ada proses panjang di baliknya: keberanian memulai, membangun kepercayaan, memahami pasar, menjaga kualitas dan terus memperluas jaringan.
Di sinilah saya tertarik pada kata “menyuapi”. Lazimnya seorang ibu menyuapi anaknya. Ada kasih sayang, ketulusan dan keinginan agar sang anak tumbuh sehat. Dalam buku ini maknanya menjadi lebih luas. Seorang anak desa justru “menyuapi dunia” melalui pangan yang diproduksi dan diperdagangkan dari Indonesia. Kerupuk, kacang dan makanan ringan bukan lagi sekadar barang dagangan. Di balik sepotong makanan terdapat petani, pengolah, pelaku UMKM, pekerja, pengemas, pengangkut, pedagang dan konsumen. Maka menyuapi dunia dapat dimaknai sebagai memberi makan melalui karya dan memberi manfaat melalui usaha.
Kata “dunia” juga memiliki arti penting. Perjalanan Kaji Dim tidak berhenti pada pasar di sekitar kampung halaman. Produk pangan Indonesia menyeberangi batas negara menuju Malaysia. Bahkan perjalanan tersebut berkembang dari pengiriman awal hingga skala beberapa kontainer. Di sinilah ekspor memperoleh makna yang lebih manusiawi. Yang bergerak bukan hanya barang, tetapi juga harapan para pelaku usaha Indonesia. Produk lokal mendapatkan kesempatan bertemu konsumen mancanegara. Seorang pengusaha dengan demikian dapat menjadi jembatan antara produsen Indonesia dan pasar dunia.
Sub judul Jejak Perjalanan Membangun Imperium Ekspor Pangan menjadi penting untuk membaca buku ini secara utuh. Kata “imperium” jangan dipahami semata-mata sebagai kebesaran materi. Ia lebih tepat dibaca sebagai bangunan jaringan usaha yang dibangun setahap demi setahap. Tidak ada imperium yang lahir dari satu langkah. Ada langkah pertama, ada kegagalan, ada pembelajaran, ada kepercayaan yang harus dijaga, ada mitra yang harus dihormati dan ada konsumen yang harus dilayani. Dari usaha kecil kemudian tumbuh jaringan yang lebih luas. Itulah sesungguhnya jejak perjalanan yang layak dipelajari generasi muda.
Buku ini menjadi semakin bernilai karena memperoleh kata sambutan dari dua figur yang memberikan perspektif berbeda. Dahlan Iskan, Mantan Menteri BUMN, seorang jurnalis dan pengusaha yang dikenal dekat dengan dunia usaha, melihat perjalanan Kaji Dim dari sisi pengalaman dan perjuangan kewirausahaan. Sementara Dato’ Indera Harmono, yang pernah menjabat Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia Periode 2020–2025, memberikan perspektif yang berkaitan dengan hubungan Indonesia–Malaysia. Kehadiran dua tokoh tersebut membuat buku tidak hanya berbicara dari ruang pribadi penulis, tetapi juga memperoleh bingkai yang lebih luas: antara perjalanan individu, dunia usaha dan hubungan lintas negara.
Bagi saya, bagian yang paling berharga dari buku semacam ini justru bukan angka keberhasilan bisnisnya. Angka dapat berubah. Kontainer dapat bertambah atau berkurang. Pasar dapat naik dan turun. Tetapi nilai perjuangan tetap dapat diwariskan. Anak-anak desa yang membaca buku ini tidak harus menjadi Kaji Dim kedua. Mereka cukup menangkap pesan bahwa keberhasilan selalu mempunyai proses. Jangan takut memulai dari kecil. Jangan merasa rendah karena berasal dari desa. Jangan malu menjual produk sendiri. Dan jangan berpikir bahwa pasar dunia hanya milik perusahaan besar.
Ada pelajaran lain yang tidak kalah penting: pendidikan dan kewirausahaan bukan dua dunia yang bertentangan. Pendidikan memberi cara berpikir; pengalaman memberi ketajaman membaca keadaan; kerja keras memberi daya tahan; sedangkan keberanian memberi kesempatan untuk mencoba. Perjalanan Kaji Dim memperlihatkan bagaimana pengalaman hidup, pendidikan dan dunia usaha dapat saling menguatkan. Karena itu buku ini layak dibaca bukan hanya oleh pengusaha, tetapi juga oleh mahasiswa, pelajar, guru, orang tua dan siapa saja yang sedang mencari inspirasi untuk mengubah keterbatasan menjadi peluang.
Buku ini juga mengajarkan arti pulang kepada akar. Seseorang boleh pergi jauh, membangun usaha di negeri orang, bergaul dengan dunia internasional dan mencapai keberhasilan. Namun desa tempat ia berasal tetap menjadi bagian dari identitas. Dari desa terdapat kenangan, keluarga, nilai kesederhanaan dan pengalaman pertama mengenal kehidupan. Maka Anak Desa Menyuapi Dunia sesungguhnya bukan cerita tentang meninggalkan desa. Sebaliknya, ia merupakan cerita tentang bagaimana seseorang membawa semangat desanya sampai ke dunia. Inilah pesan humaniora yang membuat kisah bisnis menjadi lebih bernilai.
Semakin menarik ketika perjalanan hidup tersebut akhirnya dibukukan. Buku bukan sekadar benda yang dicetak. Buku adalah cara manusia menyimpan pengalaman agar tidak hilang bersama perjalanan waktu. Ketika pengalaman seorang anak desa dituliskan, pengalaman tersebut berubah menjadi bahan belajar bagi anak-anak desa lainnya. Ketika kisah perjuangan dibaca generasi berikutnya, sebuah pengalaman pribadi telah berubah menjadi pengetahuan publik. Lebih indah lagi apabila buku diniatkan untuk berbagi dan memberi manfaat. Sebagaimana disampaikan dalam pemberitaan mengenai buku ini, hasil penjualannya juga dikaitkan dengan kepedulian kepada yayasan yatim piatu di Tulungagung. Dengan demikian, perjalanan hidup tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi berlanjut menjadi amal sosial.
Sebagai penutup, saya membaca Anak Desa Menyuapi Dunia bukan sekadar sebagai kisah seorang bernama Datuk Diraja Dimyani. Saya membacanya sebagai pesan kepada anak-anak desa Indonesia: jangan pernah merasa kecil karena dilahirkan dari kampung. Dari desa dapat lahir pemikir, pengusaha, guru, penulis dan manusia-manusia yang mampu memberi makan dunia melalui karya. “Anak desa” adalah asal-usul. “Menyuapi” adalah pengabdian. “Dunia” adalah ruang manfaat yang tidak mengenal batas. Dan imperium ekspor pangan adalah jejak bahwa sesuatu yang besar dapat dibangun dari sesuatu yang sederhana apabila dikerjakan dengan ilmu, keberanian, ketekunan dan kejujuran.
Buku Validasi International Standard Book Number (ISBN) tersimpan rapi dan aman di Perpustakaan Nasional. Inilah rekam jejak abadi sosok Warga Negara Indonesia yang telah melewati Proses Mambaca Mengenal Dunia, Menulis Dikenal Dunia dan terakhir Menerbitkan Buku di Kenang Dunia. Selamat sahabat sesama Perusuh Disway.id Asuhan Bapak Dahlan Iskan
Pembelajaran hidup dan kehidupan nan terpatri dalam Kitab diniatkan semata oleh Datuk Diraja Dimyani hanya ingin berbagi maka nilai tambahnya ibarat multi level marketing. HHarapan kita semua kehadiran buku ASnak Desa Menyuapi Dunia menjadi inspirasi bukan saja untuk anak anak Indonesia namum lebih luar pagi pembaca buku ini.
Akhirnya siapapun membaca buku yang diwakafkan Untuk Pendidikan di Tulung Agung akan membela dirinya sendiri dan mengikuti takdirnya sesuai Ucapan Pujangga Buya Hamka. Menemukan keberanian di dalam diri , kemudian menulis dan pada gilirannya perjuangannya berhasil mengikuti sukses Datuk Diraja Dimyani bahlan Lebih
Amiin Ya Rabbal ASlamiin.
- Thamrin Dahlan YPTD
- BHP, 24 September 2026
- Penulis dan Owner Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan
Moto : 3 Pena : PenaKawan, PenaSehat, PenaSaran - Membacalah maka anda akan mengenal dunia
- Menulislah maka anda akan dikenal dunia
- Terbitkan buku maka anda akan di kenang dunia






