
Jakarta — Di saat gema ombak pelabuhan perlahan memudar di latar belakang usianya, langkah seorang Dr. Nani Kusmiati justru bergerak semakin kencang. Purnawirawan Angkatan Laut ini tidak melangkah ke masa pensiun untuk beristirahat, melainkan untuk melayarkan badai pengabdian baru yang jauh lebih garang dari samudera mana pun yang pernah ia seberangi.
Jejak langkahnya di kemiliteran adalah sebuah riwayat pengabdian tanpa cacat. Sejak melangkah sebagai prajurit junior hingga menghitung hari-hari akhir menjelang masa purnawirawan, ia mengarungi berbagai penugasan strategis, baik di medan domestik maupun di ranah internasional. Samudera bukan sekadar medan tugas baginya, melainkan ruang pembentukan disiplin dan loyalitas. Sepanjang pengabdiannya, Dr. Nani dikenal sebagai prajurit yang taat dan patuh pada perintah atasan sosok yang tidak pernah menawar waktu dan tak pernah menolak tugas, selalu mengeksekusi setiap amanat secepat kilat.
Keunggulan Dr. Nani tidak hanya terletak pada ketangguhan jiwanya, tetapi juga pada tutur kata dan kemampuan bahasanya. Kefasihan bahasa Inggris yang luar biasa membawanya dipercaya menjadi pengajar di lingkungan militer serta berdiri tegak mewakili delegasi Indonesia di berbagai forum kancah internasional. Dipadu dengan keluwesan komunikasi yang karismatik, ia kerap dipercaya memegang mikrofon sebagai pembawa acara dalam agenda-agenda berskala dunia, memadukan ketegasan prajurit dengan keanggunan seorang diplomat.

Namun, pengabdian seorang purnawirawan sejati tak pernah tenggelam bersama matahari. Ketika seragam dinasnya berganti kemeja sipil, ritme hidupnya justru melaju lebih cepat dibanding saat masih aktif bertugas di Angkatan Laut. Kini, di ruang-ruang sunyi tempat ilmu dan gagasan dirawat, Dr. Nani mencurahkan seluruh jiwanya sebagai penulis aktif di Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD), mengajar mahasiswa sebagai dosen pascasarjana di Universitas Trisakti, serta menjaga kedalaman literasi bahari sebagai redaksi di majalah Jalasena.
Jiwa adalah sebuah pelita yang tak boleh padam hanya karena angin penugasan telah usai bergulir. Pengabdian yang sejati bukanlah tentang seragam yang dikenakan atau pangkat yang disematkan di pundak, melainkan tentang cinta yang tak pernah lelah memberi bentuk bagi dunia.
Dalam diri Dr. Nani Kusmiati, kesetiaan adalah kesucian tindakan. Ketika perintah datang, jiwa itu tidak bertanya kemana atau mengapa, melainkan meluncur bagai anak panah yang dilepas dari busur kepatuhan, menembus waktu demi sebuah penuntasan. Ia mengarungi samudera tugas dari belia hingga senja, membawa harum nama tanah airnya ke negeri-negeri jauh melalui kata yang santun dan bahasa yang jernih sebab kata adalah jembatan yang menghubungkan hati dua bangsa.

Kini, ketika derap langkah militer telah reda, ia tidak memilih diam dalam keheningan pensiun. Sebab bagi jiwa yang gelisah oleh kebaikan, istirahat adalah gerak yang baru. Ia menuangkan kebijakannya ke dalam tinta tulisan di YPTD, menyemaikan benih-benih kearifan kepada para penuntut ilmu di Universitas Trisakti, dan merawat kenangan samudera melalui lembar-lembar majalah Jalasena. Hidupnya adalah bukti bahwa pengabdian tidak pernah purna; ia hanya berganti wadah, dari pedang menjadi pena, dari komando menjadi kedamaian ilmu.
Semua perjalanan hidup dan kisah perjuangan Dr. Nani tercatat lengkap dalam buku autobiografinya yang sudah diterbitkan oleh Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan.









Wah bahasanya keren, sangat menyentuh pembacanya,. terima kasih brother atas supportnya dan kebaikannya selama ini,..salam literasi… sehat, sukses dan bahagia.. Amin Allohumma Amin.