Dari Pecinta Menjadi Penggerak Kopi: Kisah Idris Ferdian, Meracik Rasa di Tengah Kesibukan Hidup

YPTD8 Dilihat

BOGOR, Citeureup — Bagi Idris Ferdian, kopi bukan sekadar minuman, melainkan hasil dari perjalanan panjang yang melibatkan pemilihan biji, pengolahan, penyangraian, dan penyeduhan. Kecintaan tersebut membawanya terjun ke dunia distribusi kopi untuk sejumlah kafe dan perkantoran, sekaligus mengolah biji kopi pilihannya sendiri.

Dari Penikmat Kopi Menjadi Distributor

Idris memasok berbagai jenis kopi dan memahami bahwa kualitas secangkir kopi dipengaruhi oleh varietas, proses pascapanen, tingkat sangrai, ukuran gilingan, serta metode penyeduhan. Ia tidak hanya menjual kopi, tetapi juga terlibat dalam proses mengubah biji mentah menjadi kopi siap seduh.

Di rumahnya, tersedia beberapa pilihan kopi Nusantara, antara lain Gayo dari Aceh, Dampit dari Malang, dan Temanggung dari Jawa Tengah. Masing-masing memiliki karakter yang dapat berbeda bergantung pada varietas, pengolahan, tingkat sangrai, dan cara penyeduhan.

Kopi Gayo dikenal dengan aroma kaya dan rasa seimbang. Kopi Dampit menawarkan pengalaman mengenal hasil perkebunan Jawa Timur, sedangkan kopi Temanggung memiliki keragaman karakter yang dipengaruhi jenis biji dan metode pengolahannya. Penikmat kopi dapat membandingkan ketiganya untuk menemukan profil rasa yang sesuai.

Mengolah Biji Kopi pada Waktu Luang

Di sela kesibukan, Idris meluangkan waktu untuk mengolah biji kopi, termasuk melakukan penyangraian atau roasting. Proses ini tidak sekadar memanaskan biji hingga berubah warna, tetapi membutuhkan pengaturan suhu, waktu, dan pemahaman terhadap karakter biji agar menghasilkan aroma serta rasa yang diinginkan.

Pengalaman tersebut juga membuka ruang untuk berdiskusi tentang kopi, mulai dari perbedaan biji utuh dan kopi bubuk, tingkat sangrai, ukuran gilingan, hingga teknik penyeduhan. Metode seperti pour-over dan French press menghasilkan karakter berbeda karena dipengaruhi rasio kopi dan air, suhu, durasi, serta tingkat kehalusan gilingan.

Bagi pemula, percakapan langsung dengan orang yang menekuni kopi dapat menjadi cara sederhana untuk memahami istilah dan proses yang sebelumnya terasa asing. Bagi penikmat berpengalaman, diskusi tersebut menjadi kesempatan bertukar pengetahuan.

Harga Bersahabat

Kopi yang ditawarkan Bang Idris tersedia dengan harga mulai dari Rp20.000 per 100 gram, bergantung pada jenis dan bentuk produknya. Pembeli dapat menanyakan ketersediaan serta harga masing-masing pilihan secara langsung.

Membeli kopi dalam bentuk biji atau siap seduh juga memungkinkan penikmat bereksperimen di rumah, baik dengan membandingkan kopi Gayo, Dampit, dan Temanggung maupun mencoba berbagai rasio dan metode penyeduhan.

Rumah Bang Idris sebagai Ruang Bertukar Cerita

Bagi pencinta kopi di sekitar Pasar Citeureup, Kabupaten Bogor, rumah Bang Idris dapat menjadi tempat untuk membeli kopi sekaligus mengenal proses dan karakter biji yang tersedia. Suasananya lebih akrab dan memungkinkan pengunjung berbincang santai tentang kopi, usaha, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari.

Kopi bagi Idris menjadi titik temu antara kegemaran, kegiatan usaha, dan hubungan sosial. Pengunjung tidak harus menjadi ahli untuk datang; rasa ingin tahu sudah cukup menjadi awal untuk belajar dan bertukar pengalaman.

Sebelum berkunjung, calon tamu sebaiknya menghubungi Bang Idris terlebih dahulu untuk memastikan ketersediaan kopi, waktu kunjungan, serta alamat atau petunjuk lokasi.

Kopi dan Cara Menikmati Hidup

Kisah Idris menunjukkan bahwa kegemaran dapat berkembang menjadi kegiatan usaha apabila dijalani dengan serius. Melalui distribusi dan pengolahan kopi, ia turut memperkenalkan kekayaan kopi Nusantara sekaligus membuka kesempatan bagi orang lain untuk belajar dan menemukan selera mereka sendiri.

Bagi warga sekitar Citeureup, Bogor, mengenal kopi dari Bang Idris dapat menjadi pengalaman sederhana untuk memperoleh kopi pilihan, menambah wawasan, dan menikmati percakapan tanpa terburu-buru.

 

Liputan Sumardi dari Citeureup Bogor

Tinggalkan Balasan