Merasa Orang Minang ?

Festival Alek Gadang Minangkabau 2026.Jakarta International Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur.

Terbaru17 Dilihat

Merasa Orang Minang ?

Khawatir jangan-jangan suatu hari nanti diberi gelar Sutan Betawi. Bagaimana tidak? Sudah lama merantau di Jakarta, jangan sampai lupa asal-usul dan jati diri sebagai anak Minangkabau. Bersebab itulah, menghadiri Festival Alek Gadang Minangkabau 2026 menjadi sebuah keharusan. Bukan sekadar jalan-jalan, tetapi juga menjaga hubungan batin dengan Ranah Minang.

Kamis, 29 Oktober 2026, berempat bersama istri tercinta Enida Busri, Adinda Erlinda Busri, serta kemenakan Arifin, kami menuju Jakarta International Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur. Ini merupakan hari kedua penyelenggaraan festival. Ternyata, luar biasa ramai urang awak yang hadir. Saking banyaknya pengunjung,  tak seorangpun  urang awak yang kami kenal.

  • Pai ka Lintau membeli lado,
    Singgah sabanta di Batusangkar yo.
    Jauh di rantau hati tak lupo,
    Adat jo budaya tetap dipeliharo.

Pemandangan tersebut menjadi bukti bahwa perantau Minangkabau memang tersebar luas di Ibu Kota dan sekitarnya. Mungkin karena awak bukan orang terkenal seperti Uda Fadli Zon, maka menyapa sana-sini menjadi salah satu cara memperkenalkan diri.

“Awak anak Minang asal Lubuk Jantan, Lintau, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.”

Lumayan, siapa tahu setelah berkenalan ada yang mengajak makan rendang!

SURGA KULINER RANAH MINANG

Luar biasa! Deretan kuliner khas Minangkabau menggoda selera. Sampai bingung menentukan makanan mana yang harus dicicipi terlebih dahulu. Maklum, masakan Minang memang sudah terkenal sebagai salah satu pilihan kuliner favorit masyarakat Indonesia.

Kami memulai petualangan rasa dengan Nasi Kapau. Sambil menikmati hidangan, tak lupa memesan minuman khas durian nan lamak bana. Pilihannya begitu banyak, membuat mata sulit berpaling. Rasanya ingin mencoba semuanya, tetapi kemampuan perut tentu ada batasnya.

  • Ka Pasar Ateh membeli kain dan peci,
    Kain batik coraknya unik inda .
    Walau di rantau mencari rezeki,
    Kampuang halaman jan dilupokan Uda .

Tersedia tempat duduk dan meja makan. Namun, karena seluruh tempat penuh, kami terpaksa bersabar menunggu. Sambil antre, mata sesekali melirik ke kiri dan kanan, mencari kursi kosong. Akhirnya, datang juga pertolongan dari sanak saudara yang baik hati asal Bukittinggi. Kami dipersilakan bergabung di meja mereka.

Terima kasih, Uda dan Uni. Inilah indahnya persaudaraan Minangkabau. Belum kenal sebelumnya, tetapi keramahan terasa seperti sudah bersaudara sejak lama.

TEH TALUA, TANDA CINTA KULINER MINANG

Seperti biasa, ada satu misi khusus yang tidak boleh terlewatkan. Awak ingin memastikan apakah di festival ini tersedia minuman legendaris bernama Teh Talua atau Teh Telur.

Alhamdulillah, ternyata tersedia! Bahkan, Teh Talua memiliki stan tersendiri dengan beragam pilihan minuman.

Bagi awak, sebuah rumah makan Minangkabau terasa belum lengkap apabila tidak menyediakan Teh Talua. Minuman khas ini sudah menjadi salah satu identitas kuliner Ranah Minang.

Minum Teh Talua sambil menikmati suasana kampung halaman di Jakarta. Rasanya? Lamak bana!

LAGU MINANG MENGOBATI RINDU KAMPUNG

Di area Velodrome tersedia panggung hiburan. Para penyanyi membawakan lagu-lagu Minang, baik klasik maupun modern. Lengkaplah sudah kebahagiaan kami ketika terdengar lagu Bareh Solok, yang mengingatkan pada kampung halaman istri tercinta.

Suasana semakin meriah. Pengunjung terus berdatangan. Bukan hanya anak keturunan Sumatera Barat, tetapi juga saudara-saudari dari berbagai daerah di Nusantara ikut menikmati festival ini.

Sungguh membanggakan. Budaya Minangkabau ternyata mampu menjadi daya tarik dan ruang pertemuan bagi masyarakat Indonesia yang beragam.

TAARAK JO KAMPUANG, RANAH MINANG DI TENGAH JAKARTA

Festival ini hanya berlangsung lima hari. Inilah kesempatan bagi sanak saudara untuk berkumpul, bersilaturahmi, menikmati kuliner, menyaksikan kesenian, sekaligus mengobati kerinduan terhadap kampung halaman.

Ada istilah taarak jo kampuang, kerinduan terhadap kampung halaman. Di sinilah kita bisa menikmati aneka makanan khas Ranah Minang tanpa harus menunggu Lebaran atau menunggu kesempatan pulang kampung.

Berdasarkan informasi penyelenggaraan, Festival Alek Gadang Minangkabau 2026 berlangsung pada 28 Oktober sampai 1 November 2026, pukul 10.00–22.00 WIB. Acara terbuka untuk umum dan gratis masuk.

Ada banyak kegiatan menarik yang patut dikunjungi:

  1. Surga Kuliner Minang: Lebih dari 200 pilihan hidangan, mulai dari sate Padang, gulai itiak lado mudo, bika, rendang lokan, hingga Teh Talua.
  2. Pameran UMKM: Lebih dari 50 stan UMKM Sumatera Barat yang menawarkan pakaian adat, kerajinan tangan, dan berbagai oleh-oleh khas.
  3. Panggung Seni dan Budaya: Lebih dari 50 pertunjukan kesenian tradisional Minangkabau, termasuk penampilan komunitas dan Bundo Kanduang.
  4. Artis Minang Ibu Kota: Panggung hiburan yang menghadirkan sejumlah penyanyi, antara lain Ratu Sikumbang, Kintani, Adim MF, Arahmanda, dan Sony Prosky.

Festival ini bukan hanya tempat berbelanja dan menikmati makanan. Lebih dari itu, menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, merawat budaya, dan memperkenalkan kekayaan Minangkabau kepada masyarakat luas.

  • Makan nasi Kapau jo gulai tunjang,
    Minum Teh Talua ajak  kawan kawan.
    Walau awak lah lamo di rantau urang,
    Jiwa Minang tetap di dalam badan.

PENUTUP: JANGAN SAMPAI DAPAT GELAR SUTAN BETAWI!

Perut sudah kenyang, hati pun senang. Saatnya beranjak untuk melanjutkan kegiatan lainnya. Namun, ada satu kesan yang ingin kami bawa pulang: menjadi orang Minang bukan hanya soal menikmati rendang, gulai, atau Teh Talua. Lebih penting lagi adalah menjaga persaudaraan, adat istiadat, budaya, dan kecintaan kepada kampung halaman.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat dan menjadi ajakan bagi sanak saudara di Jabodetabek. Ayo, manfaatkan hari terakhir, Ahad 1 November 2026, untuk datang ke Festival Alek Gadang Minangkabau.

Jangan sampai ketinggalan! Mari berkumpul, bersilaturahmi, menikmati kuliner, dan merasakan suasana Ranah Minang di tengah Ibu Kota.

Kalau tidak hadir, bagaimana awak bisa membuktikan masih merasa orang Minang? Jangan-jangan benar-benar diberi gelar Sutan Betawi!

Salam Minang Maimbau. Salam Silaturahmi. Salam Literasi.

  • BHP, 1 November 2026
  • Thamrin Dahlan
  • Sutan Sati

Tinggalkan Balasan