‘Bukdal, Utkel, Dusol’ Selalu di Hati

Terbaru695 Dilihat

 

Bukdal Utkel dan Dusol adalah singkatan untuk tiga jenis makanan khas ‘tanah Kaili’  kota Palu provinsi Sulawesi tengah. Bukdal adalah buku dale alias beras jagung, Utkel adalah uta kelo alias sayur kelor sedangkan Dusol adalah duo sole atau teri goreng. Ketiga jenis makanan ini selalu bersama dan berada dalam satu team hidangan khas suku Kaili yang berdiam di lembah Palu dan sekitarnya.  Berikut profilnya

 

 

https://www.tokopedia.com/blog/travel-makanan-tradisional-khas-palu/

Sekedar info ya? Orang orang Palu yang rantau ke daerah lain terutama rantau ke pulau Jawa untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan seringkali merindukan makanan khas ini.

Jika mudik pas liburan maka target utama adalah makanan ini. Tidak menginjak Kota Palu rasanya dan tidak mau pulang  jika belum makan makanan ini. Pokoknya orang Palu yang pulkam pastinya punya target utama wisata kuliner atau cuci leher istilah orang Palu.

Jenis makanan ini sesungguhnya terbuat dari bahan sederhana saja. Namun,mengapa makanan ini selalu menjadi pujaan dan dirindukan,  apalagi jika kita jauh di rantau? Bagi mereka yang di rantau bila mendapat kiriman bahan mentahan untuk makanan khas ini merupakan suatu kenikmatan yang tiada tara .

Sseringkali orang Palu yang tinggal di Jakarta atau kota kota lain khususnya di pulau Jawa tidak segan segan membawa pulang makanan ini , (yang sudah masak pula tentunya) bila mereka menggunakan pesawat yang penerbangan langsung.

Yah,satu jam lebih Insha Allah pasti sudah nyampe Jakarta. Yang jelas makanan ini belum basi dan bisa disantap oleh seluruh keluarga dan handai taulan terutama untuk para mahasiswa yang nge kost narasa sekali  (bahasa Kaili “enak”)

Semoga info sederhana ini bermanfaat bagi sahabat  pembaca. Tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan Olehnya kritik dan saran sangat diperlukan untuk pengembangan ke depan.

Makanan daerah adalah bagian dari budaya yang merupakan kearifan lokal. Bila tidak dipelihara, perlahan tapi pasti akan tergerus oleh zaman. Berangkat dari munculnya kesadaran akan makna sebuah budaya yang di dalamnya sarat makna dan pesan moral, bergeraklah jemari ini untuk mencoret, menggores selintas yang ada di benak dalam bentuk tulisan sederhana.

Wasallam

 

 

 

Tinggalkan Balasan