MENGEJAR LAYANG-LAYANG (1)

Terbaru856 Dilihat

Selama perjalanan pulang dari bungi  (baca:kebun;bahasa Kaili), ketiga bocah ini selalu bersenda gurau. Ada ada saja yang mereka jadikan bahan untuk tertawa. Mulai dari diri mereka sendiri yang entah bagaimana modelnya menjinjing sepasang kelapa yang lumayan berat bagi anak seusia mereka. Nenek Sadiyah dan om Mistar pun tak luput dari sorotan tiga spionase kampung ini.

Ketika mendekati jalan aspal menuju pemukiman mendadak Reza berteriak lepas “he layang – layang putus” sambil menunjuk ke atas. Semua terkejut dan berhenti mendengar teriakan Reza yang cukup keras. Spontan nenek Sadiyah balas berteriak tak kalak kerasnya “weh, masalisamo nadea gau”. Artinya ayo cepat tidak usah macam – macam. Fary dan Rival tersenyum melihat nenek Sadiyah memarahi Reza.

“Kita taruh dulu ini kelapa bari kemari lagi kita nha”? Reza berbicara pelan pada kedua temannya yang juga sudah setengah mati membawa kelapa. “Iyo, sebantar jangan baribut, didengar lagi nanti kita” Jawab Fary hati – hati. “Ayo kemon bro” Reza memberi semangat sambil berjalan cepat di depan. Fary dan Rival hanya mengikuti dari belakang. Ingin rasanya cepat sampai di rumah Mina pikir mereka tentunya.

Tidak berselang lama iring iringan bungi telah sampai dihalaman depan rumah Mina. Beliau adalah kakak sepupu Reza dan juga ponakan kandung nenek Sadiyah. “Mina ditaruh dimana ini kelapa”? Teriak Reza dari depan pintu dapur. “Taruh situ saja tidak apa – apa” Sahut Mina dari dapur. Tercium aroma pisang goreng. “Sini kamu orang Reza, Fary, dan Rival” Mina memanggil tiga bocah itu untuk masuk ke dapur.

Tanpa menunggu panggilan kedua, ketiga sahabat ini sudah berada di dapur dan langsung mencolek pisang goreng yang masih panas itu. “Duduk saja ambil kursi itu” perintah Mina sambil menyodorkan sepiring pisang goreng panas. Ehm… narasa mpu (baca: enak sekali)

“Mbana ka yaku Mina”?  (baca:mana untuk saya?) Nenek Sadiyah merasa cemburu dengan ketiga bocah yang sudah larut dalam dansa lidah karena pisang goreng masih panas.. “Hii ranga Sadiyah anu ka komiu (baca: ini bagiamu ada) Jawab Mina kalem dan langsung memberikan sepiring kecil pisang goreng untuk Bibinya.

“Habis ini kamu tiga mandi semua apa navau soa/bau badan” Tandas nenek Sadiyah pada tiga  sahabat yang lagi asyik dengan pisang goreng dan teh hangat hidangan tante Mina. Mereka bertiga saling bertatapan penuh arti. Apa gerangan yang ada di pikiran mereka sehingga mereka tidak menjawab perintah nenek Sadiyah.

Setelah gelas teh dan piring pisang goreng bersih tak berbekas, ketiga bocah itu berdiridan langsung keluar. Mereka berjalan beriringan. Terlihat mereka ingin segera berlalu dari depan nenek Sadiyah.

“Mari cepat sudah ba kejar layang – layang tadi kita” Reza memberi isyarat kepada dua temannya ini. Tanpa menunggu jawaban lagi, segera mereka kabur tanpa pamit lagi. Dasar anak – anak tengil.

Bersambung

Salam Literasi

Astuti, S.Pd,M.Pd.

SMPN 14 Palu Sulawesi Tengah.

Tinggalkan Balasan

2 komentar

  1. TTerima kasih mbak Weni sudah meluangkan waktu untuk membaca. Ini cerita bocah kampung yang tengil. Suasana kampung turut berpengaruh terhadap pola bermain mereka. Moga berkenan untuk mampir lagi. Salam literasi