
Anak anak ada yang duduk menonton televisi dan yang lainnya sibuk bercanda di teras rumah Rival yang cukup besar menjadi tempat berkumpulnya anak -anak. Mereka menunggu bunda Mut dan kak Ika menyiapkan hidangan mie kuah dan singkong rebus hasil kebun. Bunda Mut memang seorang yang senang berkumpul dengan anak -anak. Kumpul bukan sembarang kumpul, akan tetapi selalu menyediakan hidangan ringan atau santapan yang bisa disuguhkan.
Beberapa saat kemudian hidangan mie kuah panas dan singkong rebus mendarat di meja besar di teras. Wow nampak asap masih mengepul dari makanan itu. Air liur meleleh mencium aroma bawang goreng yang bertaburan di permukaan mangkuk mie. “Ayo anak – anak ambil sendiri, jangan rebutan ya?” kata Bunda Mut pada mereka. Antrian di meja berlangsung sedikit riuh dengan tawa yang tertahan akibat saling menyikut. Maklumlah! Anak- anak ada – ada saja.
Suasana santap malam itu ceria dan bahagia sekali. Ada yang menambah dan ada pula yang menyerah karena sudah mengambil “sepenuh mangkuk” di awal. “Itu ubi, makan nak jangan malu – malu!” Bunda Mut melongok dari dapur menyuruh anak- anak untuk “nambah”. Tidak sampai satu jam eksekusi makanan “over”. Narasa mpu berarti, istilah orang Kaili. Maknyuss istilah kuliner.
Setelah itu anak -anak membantu bunda Mut menyimpan meja dan piring bekas makan. Masing – masing bawa piring ke sumur dan langsung cuci agar tidak menumpuk. Itulah sebuah kebiasaan anak – anak kampung yang selalu diajarkan. Kalau dijamu makan di rumah orang, jangan hanya diam setelah makan. Bantu apa yang bisa dibantu. Demikian penanaman sikap gotong royong pada diri anak -anak.
Dalam kegiatan sehari – hari di rumah pun, kebiasaan ini selalu berusaha ditegakkan. Kalau besok – besok kamu tinggal di rumah orang nak jadinya sudah terbiasa melakukan apa – apa yang baik tanpa menunggu perintah. Itulah kalimat klise orang tua yang menjadi mantra bekal anak – anak orang Kaili. Kalau kita tidak bantu orang, orang juga sama tidak mau bantu kita kalau kita butuh. Nasihat ini begitu melekat dan selalu digaungkan setiap saat sejak kecil.
Dalam situasi kampung bersyukurlah penanaman kebiasaan mulia seperti ini tidak pernah luput meski orang tua sebagian besar tidak tamat sekolah. Kalau pun sekolah, paling tinggi setara SMP atau SMA. Setelah beristirahat sejenak, menjelang jam sepuluh malam anak – anak pamit pulang termasuk Reza dan Fari. Beruntung ini masih situasi liburan kenaikan kelas. Jadi memang mereka merasa agak bebas untuk tidur agak lambat dari biasanya.
Bersambung
Salam Literasi
Astuti, S.Pd,M.Pd
SMPN 14 Palu Sulawesi Tengah





