KRISMON MEMBAWAKU MENUJU CITA

Terbaru555 Dilihat

Artikel Lomba  Blog Guru

Hari              :    Kamis

Tanggal         :    11 Februari 2021

Nama            :    Juni Hidayati, S.Pd

Unit Sekolah:    SMPN 2 Gemuh

 

KRISIS MONETER MEMBAWAKU MENEMUKAN CITA

Aku dibesarkan dilingkungan keluarga sederhana.  Ayahku seorang guru di SMP swasta, ibuku seorang petani tangguh.  Melihat kedua orang tuaku yang hidup dalam kesederhanaan tak mampu membuatku ingin menyamai mereka.  Aku ingin lebih sukses dari mereka, aku ingin lebih kaya dari mereka.  Aku ingin jadi pengusaha sukses yang kaya raya.

Sekolah Dasar aku lalui dengan sempurna, hampir di setiap jenjang aku mendapat rangking yang  memuaskan.  Nilaiku hampir semua bagus.  Aku sering ditunjuk jadi ketua kelas maupun ketua regu ketika ada kegiatan perkemahan.  Pada waktu tanggal 21 April aku ditunjuk jadi pemimpin upacara peringatan hari kartini.  Aku sangat bangga dapat terpilih menjadi pemimpin upacara.  Tak kupedulikan peluh yang bercucuran di wajahku yang  terpoles make up sederhana hasil riasan ibuku terncinta.

Setamat SD aku melanjutkan sekolah di tempat di mana bapakku mengajar.  Awalnya bapak tidak setuju aku sekolah di situ, alasannya klise, bapak ingin aku melanjutkan sekolah di SMP yang bagus di kota.  SMP tempat bapak mengajar termasuk bukan sekolah favorit, gurunya tidak kompeten dan gedungnya tidak memenuhi standar.  Tapi aku tidak peduli dengan semua keterbatasan sekolah baruku, aku hanya ingin sekolah saja tanpa memiliki suatu tarjet yang muluk-muluk.  Ibuku mendukung aku sekolah di SMP dimana bapak menjadi kepala sekolah.  Di sekolah ini aku enjoy dengan pelajaran, guru maupun teman-teman.  Di sini aku dapat mempelajari pelajaran agama dengan baik.  Aku selalu mendapat peringkat 1 di sekolah ini, banyak guru yang menyukaiku karena aku tergolong anak pintar.  Bahkan aku pernah portes karena nilaiku terlalu tinggi sementara aku merasa tidak mampu, entah mengapa guru-guru itu memberiku nilai bagus dan selalu menempatkan aku di rangking 1.  Apakah karena aku anak kepala sekolah?

Tiga tahun sudah aku menjalani kehidupan anak SMP.  Atas saran dari bapakku aku diminta sekolah di SMA favorit di kotaku.  Ah, aku tidak suka dengan sistem pendidikan di SMA itu, tapi mau bagaimana lagi?  Bapakku dan beberapa guru SMP memintaku untuk sekolah SMA favorit itu.  Kuterima saran dari orang-orang tersebut walaupun dalam hati aku berontak.  Setahun bersekolah di SMA itu membuatku tersiksa lahir batih.  Aku tidak suka teman-taman baruku, mereka sombong, angkuh, egois, dan sok pintar.  Aku seperti tengah berenang di laut lepas, sementara aku tidak bisa berenang, aku hampir tenggelam.  Kujalani hari demi hari dengan berat, kupaksakan diriku untuk terus belajar dan menyukai lingkungan sekolahku.  Banyak guru yang memperhatikan ketidaksukaanku pada lingkungan baruku.  Aku ingin pindah, aku tidak tahan, aku stress. Beberapa teman menyarankan agar aku ikut ektra pramuka untuk menyalurkan stressku. Yow is tak ikuti saranmu teman.  Kegiatan pramuka justru menambah stressku, pembinanya galak-galak? Wow, sangar, tapi kuikuti terus kegiatan pramuka ini. Nanggung, aku harus cepat menyelesaikan kegiatan pramuka sampai selesai.  Salah seorang teman menyarankan agar iku pencak silat di desa.  Kegiatan dilakukan malam hari, seru, bisa teriak-terikan” ciat1, ciat11,” tendang sana, tendang sini.  Rupanya kegiatan pencak silat ini mampu menumpah segala emosi dan rasa stresku.  Namun kendala datang dari ibuku.  Ibu tidak setuju aku ikut kegiatan malam.  Pamali anak gadis keluyuran tengah malam, apalagi sebagian besar pesertanya laki-laki semua. Dari seratus peserta ceweknya cuman 6 orang.  Biarlah ibu tidak mengijinkan aku, yang penting aku bisa lepas dari beban stresku. Aku ingin cepat menyelesaikan kegiatan silat ini agar ibuku tidak malu lagi melihat anak gadisnya keluar malam.  Maafkan aku ibu.

Naik kelas 2 SMA.  Aku memilih jurusan IPS, aku masuk kelas IPS 2 bersama dua sahabat yang kutemukan secara tak sengaja.  Bersama dua orang ini aku menemukan kebahagiaan dan kebanggaan sekolah di SMA 1 Kendal.  Dua orang itu adalah Kholidah Hanum dan Sayidah.  Mereka berdualah yang membimbingku belajar bersama, bersama-sama melalui indahnya masa-masa SMA.

Selepas masa SMA aku diterima di salah satu perguruan tinggi favorit impianku yang mencetak dunia pengusaha.  Kuliah yang indah, kampus yang megah, teman-teman yang baik dan bersahabat, lingkungan kos yang nyaman dan agamis membuatku sangat betah hidup di sini.  Hari-hari kujalani dengan penuh semangat belajar, semangat memperdalam ilmu agama, semangat memahami arti persahabatan.  Sampai aku tersadar bahwa waktu tiga tahun sudah habis dan aku harus mempraktekkan ilmu yang kudapat di lapangan dunia kerja yang keras dan tidak bersahata.  Dunia bisnis yang tidak mengenal teman dan sahabat.  Satu yang ada dalam dunia ini adalah uang.  Uang mampu membuat persahabatan menjadi pecah, uang mampu membuat teman menjadi lawan, dunia bisnis tidak cocok denganku.

Krisi moneter tahun 1998 membuat banyak perusahaan gulung tikar, termassuk perusahaan tempat dimana aku bekerja.  Aku diminta keluar oleh ibuku.  Ibu menyaranku untuk jadi guru saja di tempat bapakku menjadi kepala sekolah.  Sekolah dimana dulu aku bersekolah.  Kuterima tawaran itu.  Akupun menjadi guru yang penuh semangat dan motivasi.  Ternyata hidup sederhana menjadi guru lebih cocok untukku.  Aku melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri semarang.  Temapat pendidik memperoleh ilmu kependidikan.

Setelah dua tahun aku kuliah aku mencoba melamar menjadi pegawai negeri, dan diterima.  Ternyata scenario Allah lebih indah dari cita-cita manusia

Tinggalkan Balasan