Pernikahanku diatas penderitaan orang lain (Tantangan Menulis Di Blog Setiap Hari= Hari ke 18)

Terbaru1068 Dilihat

 

 

Cerpen
Perkenalkan aku Ana Althafunnisa, seorang gadis yang terus memperjuangkan cintanya bersama seorang laki laki bernama Galang.
2 tahun sudah aku menjalin hubungan pacaran dengan Galang , tepat 2011 setelah aku lulus dikampus yang sama dengan Galang aku langsung mendapatkan pekerjaan, tentu saja aku masih setia tinggal di bandung demi memantau perkembangan skripsi Galang .

Tiap pagi sebelum berangkat kerja aku singgah kekosan galang membawakan sarapan dan mencuci pakaiannya, membangunkannya dan memastikan Galang bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya. Karena jika tidak begitu maka tiap hari bisa dipastikan Galang hanya akan menghabiskan waktunya untuk tidur dan bermain game bersama teman temannya.

“Bagaimana bimbingan skripsi hari ini yang? Lancar? Tanyaku sepulang kerja .

“G jadi bimbingan soalnya tadi aku ketiduran” jawabnya tetap terpaku dengan permainan gamenya.

“Ya Allah,, kamu ini gimana sih yang? Tadi kan pagi sebelum berangkat udah aku bangunin kamu juga udah mandi kok malah ketiduran???” Tanyaku gemas, rasanya ingin sekali ku menjambak rambutnya.

“Ya abis gimana yang orang masih ngantuk, namanya orang ketiduran itu kan enggak sadar, kalau sadar namanya bukan ketiduran kamu gimana sih yang?” Jawabnya lagi tanpa dosa.

Ya Allah harus bagaimana lagi aku menyemangati dia, apakah dia benar benar mencintaiku? Batinku penuh sesal.

“Kamu serius mau lulus g sih yang?? Usia semakin bertambah, mau sampai kapan begini?? Kapan mau kerja kapan mau mengumpulkan dana untuk pernikahan kita??”

“Kau ingat mamahmu sering bilang ingin sekali merasakan hasil keringatmu untuk membiayai kuliah adikmu sebelum kamu menikah, nyatanya sekarang kamu sudah telat 2 tahun masih saja seperti ini?? Harus berapa lama lagi aku nunggu yang??” Repetku penuh emosi dan cucuran air mata.

“Yang kalau kamu enggak bisa menerimaku apa adanya sok aja cari laki laki lain, percuma berhubungan juga kalau salah satu diantara kita tidak menerima diri kita apa adanya, seperti kamu yang selalu nuntut aku untuk lulus”. Jawabnya tanpa rasa bersalah.

Yaa mungkin aku adalah wanita yang sangat bodoh se Bandung raya, ribuan kali Galang memintaku mencari laki laki lain saja tapi aku masih tetap mendukungnya untuk segera lulus kuliah.

Selama mereka pacaran tak pernah aku merasakan kebahagiaan, karena Galang sangat perhitungan dalam pengeluarannya, tak pernah mengajakku jalan keluar walau hanya untuk makan. Tapi entah setan apa yang merasukiku sehingga hatiku sedikitpun tidak bisa berpaling darinya.

___####___###____

Setelah 3 tahun menunggu dan mendukungnya layaknya seorang ibu memantau anaknya belajar, akhirnya Galang bisa lulus dan mulai melamar kerja. Tentu saja aku sangat bahagia, begitu juga dengan orang tuanya.

“Mamah ingin Galang bisa membiayai kuliah adiknya, mamah ingin merasakan hasil kerja keras mamah menyekolahkan Galang selama ini, kemungkinan 4 tahun lagi sampai adiknya selesai kuliah.” Tuturnya kala aku ikut menghadiri acara wisuda Galang .

“I- iya mah,, ” jawabku lirih. Setelah 3 tahun mendapinginya lulus kuliah, aku masih harus menunggu 4 tahun lagi? Artinya usiaku 29 tahun baru bisa menikah.

Allaaaah, kuatkan hamba,,,

_######___######_

Tepat 3 tahun 4 bulan hubungan kami dan 25 tahun usiaku. Galang keterima kerja dan mulai bekerja dengan gaji UMR Jakarta saat itu. Galang juga bersedia meninggalkan kota kelahirannya Majalengka untuk merantau ke Jakarta .

Namun, orang tuaku terus mendesak ku untuk menikah, karena adikku sudah ada yang akan melamar. Akupun mengutarakan ganjalan hatiku pada Galang .

“Yang ibu dan bapakku ingin aku segera menikah, karena adikku sudah ada yang akan menikah. Bagaimana menurutmu” tanyaku penuh kekhawatiran.

“Enggak bisa begitu donk yang, kamu kan tau sendiri keinginan mamahku bagaimana? Lagian bagaimana mau nikah setelah membiayai adikku kuliah aku juga harus kumpulin uang sendiri untuk mahar dan resepsi nanti, jadi masih lama atuh g akan bisa diburu buru”. Jawabnya tidak suka dengan pertanyaan yang aku sampaikan .

“Bagaimana kalau kamu main ke rumahku yang? Ketemu ibu dan bapak biar mereka yakin sama kamu sekaligus kenalan”. Tanyaku kemudian penuh harap.

“Yang aku capek kamu tuntut terus, kalau kamu g bisa nunggu aku dan Nerima aku apa adanya mangga cari aja laki laki lain, aku mah enggak bisa diburu buru begini .” Jawabnya menyadarkanku dari kebodohanku selama ini.

Jawaban yang kutakutkan akhirnya terlontar dari bibirnya terus menerus dengan kalimat yang sama.

“Baiklah, terimakasih atas semuanya. Mungkin kita memang tidak berjodoh, sudah cukup kamu menyuruh aku mencari laki laki lain untuk menjadi pendampingku , sekarang aku sadar,, maaafkan aku karena terlalu terobsesi pada cintamu selama ini.” Jawabku sambil bercucuran air mata.

Seperti biasa setiap aku menangis dan pergi karena berdebat dengannya, Galang tidak pernah sekalipun mengejarku. Bahkan dia membiarkan aku pulang sendirian.

“Mungkin hubungan ini memang harus berakhir disini”. Gumamku lirih dalam hati.

###———–###————###———-

Tak butuh waktu lama akhirnya aku dijodohkan dengan seseorang bernama  Anggara . Mas Angga berasal dari Jogja , iya adalah pria mapan yang sudah memiliki rumah dan penghasilan yang lumayan dari bisnisnya menjadi distributor minuman kemasan di terminal yang menjadi tumpuan hidup para pengasong disana.

Para pengasong itu sangat terbantu dengan usaha mas Angga karena bisa membawa barang dulu untuk dijajakan dan akan setor jika barangnya laku. Puluhan pengasong tiap harinya yang menjadi rekanan bisnis mas Angga hingga mas Angga menghasilkan rupiah yang sangat lumayan tiap bulannya.

Tepat 2 Minggu sebelum lamaran aku dan mas Angga digelar, Galang menelponku dan tidak terima jika aku menikah dengan mas Angga .

“Aku akan menghilang dari semua orang selamanya,, maafkan aku”
sebuah pesan SMS masuk di hp ana..

 

 

Tinggalkan Balasan