Menulis PGRI
KESETIAAN SEORANG WANITA (Bagian 3)
Oleh: Lili Suriade, S.Pd
“Oya kak..kenalkan, ini teman aku, Dessi dan Indah.” Ucap Licha lagi. Mulyan pun mengulurkan tangannya yang disambut antusias oleh Indah dan Dessi disertai dengan senyuman. Licha ikut tersenyum melihat ulah kedua sohib nya itu.
Sore itu pertemuan dengan Mulyan berakhir dengan saling tukar nomor Whatsap.
Seperti biasa, Licha sholat magrib di mesjid depan kosan nya. Selesai sholat, Licha akan mengikuti tadarus atau terkadang mendengarkan pengajian. Licha akan pulang setelah selesai menunaikan sholat Isya. Kebiasaan itu sudah tertanam dalam dirinya sejak masih SD. Ayahnya selalu mendidik dengan disiplin anak-anaknya terutama urusan agama. Dari tempat kosnya hanya dia dan Murni yang rutin ke mesjid tiap magrib. Handphone Selalu ditinggalkan di kosan.
Begitu masuk kamar, Licha mendengar Handphone nya berdering.
“Hallo Cha, ini kak Mulyan. Apa Licha lagi sibuk..?”
“gak kok, ini aku juga baru pulang dari mesjid.”
“Pantesan dari tadi ditelphon gak angkat-angkat.”
“Ya. Kenapa kak?”
“Apa boleh kakak main ke kos Licha sebentar?”
Licha berpikir sejenak.
“Boleh.”
“Baik..Tunggu ya.”
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar Licha diketuk.
“Kak Cha..ada tamu tuh..” suara Murni dari luar kamar.
“Ya Murni..terima kasih.”
Licha segera memasang hijab sorongnya. Ia pun berkaca sekejap, kemudian menuju ruang tamu.
“eh kakak, dari mana tadi?” Sapa Licha.
“Gak, tadi kakak pulang dari rumah teman. Gak pha-pha kan mampir?”
“Oh..gak masalah kok.” Jawab Licha.
Setelah berbincang lebih kurang 30 menit, Mulyan pun pamit pulang. Licha beru tahu bahwa mulyan ternyata seorang dosen tetap di Fakultas teknik universitas Andalas. Ia diangkat PNS, setelah berhasil meraih IPK 4,00.Di dalam hatinya Licha begitu salut sama dosen muda itu. Malam itu Licha seolah-olah tak ingat lagi pada Marlon. Ia sengaja tidak men chat kekasihnya itu. Ia takut akan kecewa lagi.
Sehari, dua hari bahkan hampir seminggu Marlon tak lagi menghubungi Licha. Licha merasa sangat kecewa dengan sikap Marlon. Setiap dihubungi selalu beralasan sedang sibuk. Setiap janji akan menelphon, selalu tidak ditepati. Licha makin kecewa. Sementara itu, Mulyan selalu memberikan perhatian lebih kepada Licha. Bahkan tak segan-segan Mulyan menyatakan cinta kepada Licha. Licha jandi bingung sendiri. Dia sudah jujur kapada Mulyan, bahwa dia sudah punya kekasih, namun Mulyan tetap berjuang mendapatkan hati Licha.
Hingga di hari Wisudahnya, Licha yang sejak pagi selalu didampingi Mulyan, tiba-tiba kaget melihat kedatangan Marlon. Licha yang tengah asik berfoto dengan Mulyan menjadi salah tingkah.
“Bang..” Dengan spontan Licha berlari ke arah Marlon.
“Selamat ya dik..semoga ilmunya berkah. Maafkan abang akhir-akhir ini sangat sibuk, tapi abang dah izin kok, abang bakalan seminggu di sini.” Ucap Marlon lagi. Sepertinya Marlon tak menyadari hubungan Licha dengan Mulyan. Sementara Mulyan dengan ekspresi santai terus berbincang dengan ayah Licha.
“Bang..kenalkan ini Mulyan, dosen Fakutas Teknik. Oya kak Mulyan, ini bang Marlon yang sering aku ceritakan.” Ucap Licha kemudian. Marlon dan Mulyan pun saling berjabat tangan. Setelah itu mereka pulang ke kos Licha. Beberapa saat, Marlon mulai curiga. Ia melihat kedekatan Licha dengan Mulyan. Mereka sepertinya sudah sangat akrab. Marlon merasakan kecewa yang dalam. Ia jauh-jauh datang memberikan surprise untuk kekasihnya itu, namun hanya kekecewaan yang ia dapatkan. (Bersambung)
Comments
Theme images by Michael Elkan
LILI SURIADE LOMBA PGRIVISIT PROFILE





