KETIKA TIBA-TIBA IDE MENULIS HILANG

Terbaru511 Dilihat

Sudah sekian lama mencoba menulis setiap hari minimal  1 halaman, minimal 300 kata dI YPTD PGRI. Memang perlu waktu untuk mencapai 300 kata. Apalagi sampai 1500 kata. Wah, wah…. Luar biasa. Waktu yang diperlukan untuk membuat tulisan 1500 kata, luar biasa lama. Apalagi kalau lebih dari itu. Tentu saja menyita waktu. Meski tulisan yang akan diceritakan adalah realita  yang ditemui sehari-hari. Apalagi untuk pemula seperti saya.

Saya memang jarang membaca. Apalagi jika disuruh membaca tulisan yang tidak bermakna, menurut saya, cerita sehari-hari yang tidak melibatkan perasaan. Membaca cerita sehari-hari, membaca artikel setiap hari, ternyata membangun memori baru dalam benak saya. Kata-kata yang mengalir dan enak dibaca tentu saja membutuhkan waktu. Karena ini adalah sebuah proses. Mungkin jika yang menulis cerita sehari-hari adalah orang yang hebat sekelas Om Jay, tidak banyak waktu yang dibutuhkan. Seketika muncul ide, seketika menulis, dan jadilah sebuah tulisan yang hebat dan berkelas.

Ketika tiba-tiba ide menulis hilang, target untuk mencapai minimal 300 kata, ternyata memang tidak mudah. Harus menulis apa, mulai dari mana, endingnya bagaimana. Itu yang  ada dalam pikiran saya. Hingga kemudian ingin menulis  yang dialami setiap hari. Lalu menulislah tentang pembelajaran daring, menggunakan M365 yang setiap hari saya geluti. Termasuk bagaimana saya menyiasati apa yang saya alami ketika terjadi kendala dalam pembelajaran daring menggunakan M365.

Seringkali juga saya membantu teman-teman yang sedang mengalami kendala dalam pembelajaran daring dengan M365. Masalah terbanyak yang muncul adalah ketika memulai pembelajaran daring dengan teams M365.

Teams M365 seringkali melakukan update secara tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan. Sehingga tidak bisa login. Teams tiba-tiba hang, macet, sign out, tidak muncul gambar, dan banyak kendala yang lainnya yang muncul secara tiba-tiba. Gejala-gejala ini seringkali menunjukkan sebagai gejala bahwa teams M365 membutuhkan update. Harus dilakukan update saat itu juga. Jika tidak, teams tidak bisa running. Menyebalkan ?  Jelas.

Berawal dari menulis yang melibatkan perasaan ternyata lebih mudah, daripada menulis yang tidak melibatkan hati. Menulis yang berkaitan dengan tutorial juga lebih mudah. Jika lupa, buka bukunya, atau langsung dipraktekkan.

Memang benar seperti yang dikatakan Om Jay, menulislah dengan hati. Menulis dengan hati, melibatkan perasaan. Apakah itu perasaan marah, jengkel atau senang. Lebih tepatnya  menulis pengalaman sehari-hari yang melibatkan perasaan. Baik itu perasaan senang, sedih, jengkel atau bahkan perasaan marah.

Lalu bagaimana jika suatu saat kita tidak mengalami peristiwa yang melibatkan perasaan? Pernah juga saya mengalami hal seperti ini. Seperti hari ini. Meski sudah dua puluh tiga hari menulis tentang M365, mulai dari sign in hingga mengatasi kendala yang terjadi selama pembelajaran. Mau menulis apa? Tidak ada hal penting yang saya alami hari ini. Otomatis tidak ada ide.  Berusaha untuk selalu focus pada satu ide selama sebulan ini, berusaha  komit pada satu gagasan, yaitu menulis tentang teams M365. Namun hari ini, apa yang mau diceritakan. Pembelajaran daring hari ini normal terkendali. Tutorial melaksanakan pembelajaran daring dengan M365 juga sudah diceritakan. Bahkan saya pernah menanyakan kepada siswa apakah ada kendala selama pembelajaran daring. Yah, rata-rata mereka menjawab, selama mengikuti pembelajaran daring dengan M365 selalu terkendala kuota. Apalagi jika bapak/ibu gurunya selalu memaksa siswa untuk menyalakan kamera, dengan kata lain siswa harus oncam. Kuota yang mereka miliki pasti terkuras banyak, dan bahkan ada yang pernah kehabisan kuota, hingga tak dapat mengikuti pembelajaran daring sampai selesai. Wajah sedih terbias di paras siswa. Saya yang kebetulan melaksanakan pembelajaran daring pada jam kedua, tak tega hati memaksa kehendak agar siswa selalu oncam. Saya putuskan siswa boleh tidak oncam, tapi sebagai bukti bahwa saya sudah melaksanakan pembelajaran, siswa harus oncam ketika saya absen. Saya ambil gambarnya, dan saya kirim di percakapan baru atau meeting chat..

Mengapa saya meminta siswa untuk oncam meski hanya diawal dan diakhir pembelajaran? Meskipun saya tahu,  tanpa diambil gambarnya pun, kepala sekolah/ wakilnya tetap dapat memantau apakah pembelajaran dilaksanakan atau tidak. Padahal dengan oncam, sangat menguras kuota siswa. Hal ini saya lakukan agar ada kedekatan antara saya dan siswa. Agar saya dapat memantau dan melihat siswa dalam kondisi apa dan bagaimana, apakah menggunakan seragam atau tidak, dan berbincang ringan tentang siswa sebelum pembelajaran daring dimulai. Misalnya, siswa mengikuti pembelajaran daring dalam keadaan rambut acak-acakan, saya beri komentar agar siswa menyisir rambut dengan rapi. Dan banyak lagi cara lain, untuk membangun kedekatan saya dan siswa.

Tinggalkan Balasan