POV ESI
Pulang kerja menjelang senja, ketika ayam sudah masuk ke kandangnya. Keringat bercucuran masih menempel di badan ketika rasa gelisah menyeruak di balik dada yang sedikit gemetar. Entah mengapa, hari ini rasanya badan sangat lelah. Padahal tadi di tempat kerja tidak banyak yang aku lakukan. Sekedar semprot bangku teman-teman yang aku pakai duduk dan sedikit bangkuku sendiri.
Memang setiap hari aku selalu membawa semprotan desinfektan yang berisi karbol sere yang kubeli dengan biaya sendiri. Meski dengan uangku sendiri aku ikhlas, demi menjaga protocol kesehatan. Mengingat kondisi tubuhku yang kormobid, mempunyai penyakit bawaan, diabet. Nah, karena aku menderita diabet, penyakit bawaan dari neneknya ibu, tentu saja aku selalu was-was sejak adanya pandemi covid 19.
Setahun telah berlalu. Aktivitas membawa botol semprot masih kujalani. Meski teman-teman bilang aku seperti OB, aku tidak peduli. Biarlah, yang penting aku sehat. Toh, semua akan kembali padaku juga. Aku selalu berprinsip bahwa kebaikan yang kita lakukan hari ini akan berbuah kebaikan di masa mendatang. Untuk itulah aku selalu berusaha berbuat baik kepada teman-temanku dengan cara semprot meja dan kursi dengan desinfektan yang selalu kubawa kemanapun aku pergi
“ Pak Esi….”, suara yang tidak asing lagi di telingaku. Pak Antok, teman kerjaku. Aku menoleh ke arah datangnya suara.
“ Hei “, sapaku. Tidak lupa dengan senyum manis.
“ Kok kayak OB saja, kemana-mana bawa semprotan”, kata Pak Antok polos.
Nah, kan. Pasti ada saja yang membuatku bahagia jika di dekatnya. Humornya lepas tanpa rasa. Aku tersenyum mendengarnya. Aku dibilang Office Boy. Masa aku disamakan dengan OB. Kutatap wajahnya penuh makna. Biarlah mereka mau bilang apa. Untuk apa ditanggapi, kalau hanya akan sakit hati. Tapi aku tidak sakit hati dengan kalimatnya. Sungguh aku sangat bersyukur, sudah setahun pandemic covid19 berlalu, aku dan keluargaku sehat-sehat saja. Meskipun sempat datang di keramaian, di acaranya Pak Rana, orang kaya yang selalu membagi-bagi sebagian rejekinya pada kami semua, guru dan karyawan di SMA Amanah.
“ Ayo Pak Esi, makan kikil bareng,” kata Pak Rana.
“ Siap “, sahutku. Dan akupun gabung di acara makan kikil bareng dengan Pak Rana dan kawan-kawannya di suatu hari, pagi-pagi sekali.
Masih terbayang indahnya suasana makan kikil bareng dengan Pak Rana. Suasana pagi yang sejuk segar, kulewati bersama istri tercinta, menuju resto kikil, tempat yang dijanjikan makan kikil bersama Pak Rana.
“ Makan kikil, bisa meningkatkan imunitas”, kata Pak Rana setelah tiba di tempat tujuan. Aku mengambil posisi pojok, agar tidak terlalu berdekatan dengan banyak orang. Bukankah kita harus selalu jaga jarak, untuk mengurangi terdampak virus covid19 ? Pojok adalah tempat yang tepat agar tidak terlalu berdekatan dengan banyak orang. Makan kikil dipagi hari memang terasa lezat. Didukung suasana pagi. Dingin masih menusuk kulit, matahari belumlah terbit. Sarapan kikil yang hangat sungguh terasa lezat, apalagi tidak perlu keluar uang.
Selesai makan kikil bareng Pak Rana, aku langsung pamit pulang. Acara hari ini masih banyak. Jam 7.00 aku harus sudah mulai online melaksanakan pembelajaran daring dengan siswa yang selalu kurindukan canda dan tawanya. Kadang bila sehari tidak berjumpa dengan siswa, hari terasa hampa tanpa canda dan gurau mereka.
Uhuk…uhuk… terdengar suara batuk. Sepertinya istriku. Habis makan apa dia, kok batuk?, batinku menerka. Pastilah bukan karena makan kikil bersama Pak Rana. Terus makan apa ?
“ Kamu batuk, Dik ?”, tanyaku khawatir. “ Cepat dikasih obat batuk”, lanjutku. Kuraba keningnya, hangat. Terselip rasa khawatir di dalam hati, semoga bukan terpapar. Istriku juga selalu menjaga agar tidak pergi kemana-mana untuk menekan penyebaran virus.
“ Sudah minum obat panas?,” tanyaku lagi. “ Badanmu panas”
Kulihat istriku menuju dapur. Mungkin mau mengambil obat panas seperti saranku. Aku melanjutkan pekerjaanku, membuka laptop dan mulai membuat media pembelajaran sebagai persiapan esok hari.
Sejak adanya pandemic covid 19, aku mulai rajin membuat media pembelajaran. Ini kulakukan untuk mempermudah selama pembelajaran. Media yang kubuat sederhana saja, menggunakan power point.
Baru buka laptop, kepalaku terasa nyut nyut lagi. Laptop masih loading. Baru saja kuminum obat proxxx, untuk mengurangi gejala batuk dan demam yang mulai kurasa. Badan sedikit tidak nyaman
***
Pagi hari, sekujur tubuh terasa sangat lelah. Persendian terasa sakit, seolah-olah mau lepas. Tak banyak yang dapat kulakukan, karena berjalan ke dapur yang hanya 2 meter dari kamar, seperti berjalan puluhan kilometer. Napas mulai ngos-ngosan. Sesekali tenggorokan terasa gatal, dan batuk tidak berdahak “ Kok aku lemas ya”, pikirku. “ Apa aku harus ke dokter?” Aku mulai berpikir dan mengingat, makanan apa yang sudah kumakan. Istriku tadi malam juga agak hangat badannya. Dan sekarang, tenggorokanku juga mulai gatal. Belum lagi rasa lemas yang membuatku semakin berpikir bahwa aku harus ke dokter. Tidak perduli apa yang akan dikatakan tetangga. Yang penting bagiku saat ini, aku harus ke dokter.
Apakah aku ke dokter sendiri? Tentu saja tidak. Aku ke dokter bersama dengan istri tercinta. Semoga bukan terpapar, doaku dalam hati. Tujuan utama adalah dokter Budi, dokter langganan keluargaku.
“ Alhamdulillah, sakitnya flu biasa”, dokter Budi memberiku penjelasan.” Tekanan darah sistole 130 , saturasi O dua 98. Cuma flu biasa”. Dokter menuliskan sesuatu di kertas kecil dan diberikan padaku. “ Obatnya bisa dibeli di apotek sebelah. Diminum sampai habis ya, jika gejala tidak berkurang, kesini lagi “.
“ Puji Tuhan”, aku bernapas lega. Ternyata flu biasa, batinku. Tentu saja aku gembira tiada tara. Pulang ke rumah bersama istri tercinta dengan hati riang. Belum sampai di rumah, istri batuk lagi. Tak lama setelahnya, tenggorokanku juga gatal. Kutahan untuk tidak batuk. Rasa gatal yang sangat dari tenggorokan juga kutekan agar istri tidak cemas. Kami berdua batuk. Malu juga kalau tetangga tahu. Beban moral dengan tetangga juga kalau tahu kami berdua terpapar. Pasti disisihkan. Pasti diasingkan. Ah, kami pasrah padamu Tuhan. Engkau tahu rencana terbaik buat kami, batinku merintih.
“ Cepat diminum obat yang dari dokter Budi. Biar batuknya cepat hilang dan tenggorokan juga tidak gatal. Ini aku juga minum obatnya”, kataku sambil memberi obat yang diberi dokter Budi. Periksa di dokter Budi memang enak dan praktis. Tidak perlu jauh-jauh pergi ke apotek untuk beli obat, karena di sebelah tempat praktik dokter Budi, ada apotek yang lengkap.
Setelah minum obatnya, rasa gatal ditenggorokan hilang. Badan terasa enakan. Tapi hati masih terasa tidak nyaman. Mungkin bawaan pikiran sehingga hati selalu was-was dan tidak nyaman.
“ Apa kita perlu swab , ya Dik?” tanyaku pada istriku di suatu senja di hari yang sama setelah periksa ke dokter Budi. “ Kok, rasanya gimana yah? Badan masih terasa lelah. Sekujur tubuh terasa sakit dan letih. Sendi terasa mreteli. Memang sih, batuk masih jarang. Tapi tenggorokan sudah mulai terasa gatal”, keluh istriku
Esok hari, kondisi badan semakin lemah. Semalam tidak bisa tidur karena tenggorokan gatal dan badan meriyang. Kuputuskan saat itu juga aku dan istriku pergi swab ke rumah sakit terdekat. Hasilnya baru diketahui esok hari.
Pulang dari swab, mulut mulai terasa bebal. Kucoba untuk minum teh manis hangat yang baru kubuat. “ Kok ndak enak, ndak ada rasanya”. Kutambahkan 1 sendok gula ke dalam gelas yang berisi teh manis, padahal tadi sudah kuberi gula. Harusnya sekarang lebih manis. Sebagai seorang penderita diabet, tentu aku harus mengontrol pemakaian gula dalam minumanku. Namun kali ini aku terpaksa membuat teh manis dengan gula yang sedikit lebih banyak. “ Semoga manisnya terasa,” pikirku. Tetap saja, teh manis yang kuteguk tidak berasa. Bahkan hambar. Apakah bukan gula yang kumasukkan? Kalau bukan gula, lalu apa? Kalau aku salah memasaukkan garam ke dalam minumanku, pasti rasanya asin. Ini tidak ada rasanya sama sekali.
Teringat jelas dalam salah satu gejala covid 19, adalah mulut tidak bisa merasakan apa-apa. Waduh. Panik mulai menyelinap di relung hati yang paling dalam. Apakah aku terpapar?, pikirku. Semoga saja tidak.
Aku segera beranjak menuju tempat penyimpanan obat. Kuambil minyak kayu putih dan kuteteskan ke dalam gelas minumanku. Aku mengoleskan ke dalam hidungku dan seluruh tubuhku. Kuhirup dalam-dalam bau khas minyak kayu putih. Anehnya, aku tidak merasakan bau khas minyak kayu putih. Seperti tidak menghirup apa-apa. Kuoleskan sekali lagi ke seluruh tubuh dan hidungku. Tetap saja tidak mencium bau khas minyak kayu putih.
Batuk mulai sering. Aku dan istriku berbaring di kamar dalam kondisi lemas hingga tertidur ketika malam menjelang. Berharap ada perubahan di hari esok, kami berdua berdoa dalam diam dikeheningan malam
***
Pukul 09.35 hasil swab pcr dikirim lewat wa oleh petugas lab. Hasilnya positif. Gen N : 21,68 dan Gen RdRp 21,73. Langsung satu keluarga saya kirim untuk melakukan pemeriksaan swab pcr. Esok harinya hasil PCR anak-anak dikirim lewat wa.
Puji Tuhan, hanya aku dan istriku yang terpapar. Anak-anak kuungsikan ke rumah keluarga. Aku memutuskan untuk isolasi mandiri. Tidak lupa memberitahu pak RT, mencari obat-obatan dan jamu-jamu yang direkomendasikan teman-teman melalui grup wa.







