MENSYUKURI HIKMAH DALAM WABAH

Terbaru698 Dilihat

Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom

Ketika gelombang wabah itu datang merambah, menggoyah semua sendi kehidupan tanpa daya dan tak tertahankan. Mahluk yang mengenakan kostum bernomor Covid-19 itu menyekat berbagai aktivitas. Semua mengerang seakan meregang nyawa.

Waktu yang dijalani penuh rasa was-was, jalan yang ditempuh serasa begitu panjang tak menampakkan unjung kapan akan berakhir. Sujud dan doa tak lagi mengenal waktu, seakan terlontar menyertai helaan nafas.

Namun, seiring berjalannya waktu, dan atas kebesaran yang Maha Kuasa kepada mahluk mulia ciptaanNya, cobaan dahsyat yang datang tentu saja tidak akan diizinkan lebih dari kekuatan yang dimiliki manusia.

Geliat berbagai upaya semakin nampak menandai bangkitanya asa mengatasi masalah dengan mendayagunakan karunia akal budi yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta kepada umat ciptaanNya.

Rasa peduli terhadap sesama tumbuh. Rezeki yang dimiliki yang mungkin dulu hanya dinikmati sendiri kini penuh rasa iklas distebar lewat amal berbagi. Doa-doa yang dipanjatkan mungkin dulu lebih mengutamakan keinginan dipenuhinya permintaan diri sendiri, sekarang banyak dipanjatkan untuk sahabat dan kerabat serta orang-orang yang mungkin juga tidak dikenal, tanpa membeda-bedakan ras, agama dan bangsa dengan harapan semoga mereka juga dalam lindungan Tuhan yang Maha Esa.

Banyak kreasi jadi andalan sehari-hari terlahir dari talenta-talenta terpendam yang dulu tidak disadari sebagai potensi yang diberi oleh Illahi, kini muncul membawa rezeki.

Ada tantangan dalam dunia edukasi yang di bentang oleh sekelompok komunitas literasi. Berbagai puisi mewarnai sapaan di pagi hari, juga pengalaman menyikapi dan menghadapi pandemi dirangkai dalam bunga rampai atau anthologi hadir melengkapi kehidupan sehar-hari.

Terhentak awak menyadari anugerah yang Allah beri. Lima judul siap jadi buku. Dua telah dicetak berlabel ISBN pula, tiga judul siap diluncurkan untuk mendapat pengakuan.

  • Kurun waktu setahun yang dilalui, tanpa sadar untaian kata menjadi kalimat dalam satu alur cerita, mengalir begitu saja mengisi hari-hari sepi di masa pandemi ini. Sebelumnya tak pernah terbayangkan awak akan mampu menulis buku. Namun naskah itu kini tergelar nyata di depan mata dipenuhi  harapan semoga membawa  maslahat bagi orang banyak.

Inilah hikmah dalam wabah yang harus disyukuri.

 

Tinggalkan Balasan