Aku dan Cahaya memutuskan untuk menghadiri pernikahan Andi dan Nia. Setelah kami memarkirkan mobil di depan rumah Nia, aku melihat bibi ketika masuk ke dalam kediaman Nia. Bibi berjalan ke arah kami, memeluk Cahaya sambil berkata, “ Akhirnya doa bibi terkabul, semoga kau bahagia anakku.” Sambil mencium pipi kiri kanan Cahaya.
“ Indra tidak dicium, Bi?” bibi memandangku dengan wajah kesal,
“ Hampir saja aku kehilangan calon menantu idaman, terlalu lama kau baru mengingatnya kembali Indra, bibi sudah hampir putus asa” bibi memarahiku tapi tetap saja bibi memelukku.
Kami berjalan ke arah pengantin.
“Untung saja aku tidak playboy, kalau tidak sudah kuapa–apakan istirimu.” Aku meninju Andi dan merengkuh sahabatku dalam pelukan. Kami berpelukan
“Terima kasih dengan treatmentmu yang jitu, akhirnya aku bisa mengingat kembali tulang rusukku yang hampir saja aku lupakan” Andi tersenyum mendengar perkataanku.
“ Itulah gunanya teman, jika kau tidak juga mengingat tulang rusukmu, maaf kawan kau harus menanggung kecewa lagi, karena aku tidak akan membiarkan tulang rusukku yang hilang menjadi milikmu.” Andi berkata sambil memberikan ancaman kepadaku.
“ Hai Calaon istriku yang tidak jadi, terima kasih sudah membantu mengingatkan diriku akan cahaya hidupku. “ sambil berkata aku memalingkan wajahku ke arah Cahaya yang mulai merona wajahnya karena perkataanku.
“ Bibi Indra mau menikah sekarang” perkataanku membuat semua yang hadir terkejut.
“ Boleh, Bang” aku mendengar jawaban tegas dari sudut ruangan, ternyata Azmi, Azhar dan Ibu Cahaya juga ada di sini. Aku melihat Ibu Cahaya mengangguk sambil tersenyum bahagia walaupun aku melihat tetes air mata di mata tuanya.
“ Sebelum penghulunya pulang, lebih baik kita minta penghulu menikahkan abang dengan kakak secepatnya.” Azhar mulai angkat bicara
Aku memandang Cahaya, diam seribu bahasa.
“ Diam tanda setuju” kataku memecah suasana kerana semua yang hadir menunggu jawaban dari Cahaya.
“ Bagaimana, Pak penghulu mau menikahkan sabahatku ini?” tanya Andi kepada pak penghulu.
“ Jika kedua mempelai sudah siap, pernikahaan tinggal dilangsungkan saja. “ kata pak penghulu.
Aku mengambil posisi tadi pagi dimana aku duduk di sebelah Nia, tapi sekarang yang di sebelahku adalah Cahaya. Tulang rusukku yang hilang tapi sekarang sudah aku temukan.
Mengucapkan bismilah pak penghulu memulai acara akad nikahku, dengan satu kali jawaban aku sah menikahi Cahaya. Aku menghapus air mata yang menetes di mata Cahaya.
“ Jangan menangis lagi, Indra tidak akan pernah meninggalkan Cahaya sampai maut memisahkan ki….” Belum juga selesai kalimatku, Cahaya sudah menutup mulutku
“ Jangan pernah mengucapkan itu, sudah cukup 1 kali Indra meninggalkan Cahaya. Cahaya tidak mau itu terulang kembali. Cahaya meraih tanganku menciumnya, aku mencium pucuk kepala Cahaya. Bibi menyerahkan cincin pertunangan yang pernah dikembalikan Cahaya, Cincin ini akhirnya kembali kepada pemiliknya. Tidak ada persiapan yang istimewa tapi aku melihat senyum terindah dari Cahayaku,
“ Akhirnya kita memang ditakdirkan untuk menikah di hari yang sama.” Kata Andi melihat aku tidak lepas memandang wajah Cahayaku.
“ Sudah, jangan ditatap terus wajah istrimu, dia tidak akan pergi lagi. Sekarang mari kita rayakan hari pernikahan kita ini.”
“ Mari makan semuanya, pak penghulu jangan malu makan pak. Terima kasih sudah menikahkan kami.” Aku meninju bahu temanku,
“ Andi, Kau itu baru menikah jangan berteriak juga seperti tarzan nanti Nia kabur melihat kelakuanmu.” Hahahah aku mendengar suara Andi tertawa mendengar kalimatku.
“ Nia itu sudah tahu kelakuanku, dia sudah memilih aku. Buktinya ketika aku meminta dia untuk membantu mengingatkan kau pada Cahaya dia mau saja.” sambil berkata itu Andi memandang wajah istrinya.
Akhirnya kami tertawa bersama, mungkin ini yang namannya teman sejati. Aku tidak bisa membayangkan jika bukan Andi yang menjadi sahabatku. Cahaya, tulang rusukku yang susah payah aku cari terpaksa aku lepas karena tanpa sengaja aku melupakannya. (bersambung)
***






