KMAA 4 Sekolah Pertanian atau Karawitan ?

Terbaru1545 Dilihat

4. Pertanian atau Karawitan ?

Berbicara tentang branding, saya suka senyum-senyum sendiri jika mengingat branding yang nyaris melekat kepada suatu SMK Pertanian yang kebetulan ada di suatu kabupaten di Jawa Barat.

Senyuman yang bermakna nano-nano campur sari ini bermula beberapa tahun lalu. Salah satu kolega saya memasukkan putrinya sekolah di sebuah SMA favorite di kota itu. Tentu saja harapannya agar putrinya mendapat banyak benefit dari sekian banyak kelebihan sekolah tersebut. Namun apa daya, si putri tidak bisa bertahan lama di sekolah yang banyak peminatnya itu. Dia ngotot ke ibunya ingin pindah ke salah satu SMK dengan label pertanian.

Sang ibu, kolega saya tadi, sangat masygul dengan keinginan si putri. Betapa tidak, si cantik yang sedikit rapuh dan gampang sakit itu dikuatirkan tidak akan tahan dengan kerja fisik yang cukup keras di sekolah pertanian. Ya, namanya juga sekolah pertanian, pasti ada belajar nyangkul, ngangkat-ngangkat media tanam, mengoperasikan traktor dan cultivator, serta sederet kerja “kasar” lainnya.

Namun apa kata si putri ?

Dia ingin sekolah di SMK pertanian itu karena dirinya sangat menyukai kesenian.

Loh…kok ?

Ya betul, di sanalah letak ambigunya. Ini sekolah pertanian nak, kenapa kamu mencari kesenian ke sini ?

Ternyata, prestasi kesenian SMK tersebut sangatlah banyak. Walaupun sekolah ini bertajuk pertanian, namun ekstra kurikuler keseniannya sangat diminati para siswa yang notabene punya bakat. Para pembina ekskul keseniannya juga bukan hanya guru pengajar kesenian saja. Ada beberapa guru mata pelajaran lain yang juga ikut aktif membina kesenia, termasuk guru mata pelajaran sosial dan pertaniannya sendiri.

Jadi ternyata, di sekolah pertanian itu banyak sekali guru-guru yang punya hobi kesenian dan sangat mendukung aktivitas kesenian. Dapat dipahami maka kegiatan kesenian di sana sangat subur. Kemenangan demi kemenangan di tingkat kabupaten terus-terusan menambah daftar panjang prestasi sekolah.

Semua prestasi itu ternyata tidak luput dari perhatian masyarakat, termasuk putrinya kolega saya tadi. Disadari atau tidak, SMK bertajuk pertanian itu telah memiliki branding lain sebagai gudangnya prestasi seni khususnya seni drama dan seni tari. Ini adalah branding. Branding ini tidak melekat kepada  seseorang atau personal, tapi melekat kepada lembaga yaitu sekolah. Ini bisa disebut Schooll branding. Identitas yang melekat kepada lembaga sekolah.

Sebuah lembaga, kecil atau besar sangat mungkin memiliki brand tertentu seperti sekolah pertanian itu. Brandnya sendiri bisa bermacam-macam. Bisa merupakan rangkaian prestasi dari kejuaraan-kejuaraan, bisa  karena tingkat kedisiplinan warga lembaga tadi, bisa juga karena tingkat kekeluargaan yang sangat kuat atau hal lainnya.

Tentu saja branding-branding yang positif akan memberikan banyak benefit bagi lembaga tersebut kedepannya. Seperti halnya sekolah pertanian tadi, minat masyarakat untuk bergabung ke sana bukan hanya untuk belajar pertanian, tapi juga untuk berprestasi di kesenian. Begitu juga lembaga-lembaga lain selain sekolah, branding yang positif akan meningkatkan minat masyarakat.

Sebuah lembaga yang diminati oleh banyak calon karyawan, mempunyai peluang untuk menseleksi karyawan dan merekrut hanya yang berpotensi saja. Sebuah industri dengan branding yang bagus akan mencapai angka penjualan lebih tinggi. Rumah makan dengan branding enak dan murah, akan lebih diminati dibanding yang  memasang harga tinggi tapi rasa biasa saja.

Jika demikian, perlukah seseorang manusia  atau suatu  lembaga memiliki branding tertentu yang positif ?

Tentu saja.

Jika demikian, maka tidak salah jika sebuah brand diupayakan, direncanakan.

Branding , ada yang tanpa sadar terbentuk, ada juga yang bisa sengaja dibangun. Bagaimanakah kita membangun branding diri atau lembaga ? Kembali, dimulai dengan kajian mengenai citra diri yang bagaimana yang ingin dimiliki ? Kemudian buat program untuk mencapai itu semua.

Tinggalkan Balasan