
Gula Aren Khas Cikuning Kecamatan Sobang
Sudah memasuki postingan ke-21, hati mulai gelisah ingin menulis tentang apa. Ide sempat berlari meninggalkan diri ini. Teman-teman peserta KMAA sudah melejitkan postingan andalan, sampai kaget melihat postingan Pak Taufiq sudah memasuki postingan ke-35.
Akhirnya sebuah ide datang dari percakapan dengan seorang teman guru yang memiliki usaha sampingan. Namanya adalah Ustaz Muhidin. Ia adalah seorang guru di sekolahku sejak pengabdian pertama. Setelah menikah, ia memiliki usaha lain berjualan gula aren. Kalau di sini kami menyebutnya gula merah.
Setekah cukup lama mengobrol, ia mencatat proses pembuatan gula aren. Lalu berharap, tulisan ini bisa bermanfaat bagi semua orang. Berikut adalah resep gula aren yang diketik Ustaz Muhidin.
Proses pembuatan gula aren
Bahan bahan
1. Pohon aren
2. Lodong atau tempat air aren, terbuat dari bambu
3. Kompor atau hau.
4. Kayu bakar
5. Sendok untuk mengaduk
6. Buah kemiri

Foto Ustaz Muhidin membawa lodong
Proses pembuatan:
Ambil air aren dari pohonnya. Sebelum air aren ada di pohon biasanya para petani melakukan ritual bahasa kampungnya berdoa dulu pas ketika bongol pohon aren ditingur/ dipukul-pukul dengan menggunakan kayu atau balok dengan tujuan agar air yang ada dalam pohon aren ada mengalir ke dalam lorong. Adapun cara melakukan nya itu si petani aren itu menungu waktu selama 3 bulan dari mulai peninguran ke proses keluarnya air aren.
Nah, setelah 3 bulan kemudian si petani mulai mengambil hasil dari tinguraan dengan mengunakan lodong tujuannya agar air aren masuk di dalam lodong, biasanya petani gula aren melakukannya sehari semalam 2 kali atau pun pagi dan sore biasa nya petani bila di waktu pagi ngambil air aren, sore hari petani meletakan lodong lagi dengan tujuan mempersiapkan untuk esok hari. Setelah itu air aren pun di pindahkan ke wajan yang ukurannya besar.

Foto Hau
Dari sini mulai proses pembuatan aren setelah si petani menyalakan api dengan secara stabil agar gula arennya cepat matang biasanya proses pembuatannya di mulai dari 8 sampai jam 3 sore. Prosesnya lumayan sangat lama sekali. Adapun setelah 4 jam kemudian si penati menumbuk buah kemiri dengan tujuan agar gulanya berwarna ke coklatan cerah dan terasa wangi gulnya.
Setelah selesai memasukan kemiri, gula pun di aduk dengan rata sampai busa yang ada dalam wajan menghilang. Si petani pun mengambil alat mencetak gula dan biasanya mengunakan wadah yang berbetuk panjang seperti mainan congklak.
Adonan gula di pindahkan ke tempat adonan sekiranya sudah siap di packing atau pun di bungkus gula arennya di tiriskan dulu kira-kira 30 menit dengan tujuan agar gula mudah dibungkus dan tidak rusak saat dikemas.
Si petani membungkus gula tersebut menggunakan daun salak. Ada pun proses pembukaannya juga ada tutorial yang harus dilakukan tidak semudah yang kita bayangkan. Biasanya si petani sudah ahli dalam waktu 2 menit pun sudah bisa dibungkus dikarenakan keahliannya yang sudah mantap.
Setelah beres di packing gula pun siap di orderkan oleh si pengepuk barang atau disebut tangkulak. Kadang sehari si petani bisa menghasikan 4-5 kojor (satu kojor, satu ikatan isinya 5) tergantung kondisi air aren atau pun banyak tidaknya air aren karena yang namanya nyadap gula itu tidak selamanya mengalir indah, tergantung situasi keadaan si petaninya. Bila pemikiran nya lagi santai maka hasilnya juga banyak, sebaliknya bila pemikirannya sedang kacau maka air aren makin kecil bahkan sampe tidak ada airnya.
Setelah semuanya dikumpulkan gula pun siap di order ke warung-warung atau pun diletakkan di beberapa tempat. Biasanya, iabaru bisa menaruh gula di daerah atau pun kampung di antaranya Kp. Hamberang, Kp. Cigelung, Kp. Curug, dan Kp. Liyud. Satu kojor gula aren harganya hanya Rp. 50.000,00 saja.
Alhamdulillah sampai saat ini ia masih merintis gula aren sebagai usaha kecilnya setelah beberapa hari dari mulai barang dikirim, jangka 4 sampe 7 hari barang sudah habis. Ia ambil hasil penjualannya sambil mengantarkan gula aren yang baru. Itulah kegiatan Ustaz Muhidin untuk usaha sampingannya selain mengajar. Ia berkata bahwa kita harus berusaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh.
“Setinggi apapun pangkat kita, kita adalah kariawan dan sekecil apapun usaha kita, kita adalah bosnya. Jika ingin bahagia, jangan jadi karyawan. Jadilah bosnya.” – Bob Sadino
Sumber. www.google.com
Ternyata, dengan ngobrol ringan bersama teman, bisa jadi ide lahirnya sebuah tulisan. Ayo kumpulkan ceritamu bersama teman lalu tuliskanlah. Pengalaman akan hilang jika tidak dituliskan. Maka, ayo menulislah. Buatlah hidupmu bermakna dengan mengukir sejarah bahwa KARENA MENULIS AKU ADA!
Salam blogger inspiratif
Aam Nurhasanah, S.Pd.
#KarenaMenulisAkuAda(KMAA)
#DAY21KMAAYPTDChallenge








