Titik Balik: JAMAL: Jejak Menjelang Malam

Cerpen859 Dilihat

“Terus kenapa kalau saya perempuan, Inaq1)? Ndak boleh saya bahagia?”

Tak ada jawaban keluar dari sepasang bibir milik Inaq Farida untuk pertanyaan dari anaknya, Baiq Kirana Widiasari. Dua perempuan beda generasi itu larut dalam keheningan yang sama. Waktu telah mengajarkan pada mereka berdua untuk bisa bertahan sejauh ini. Seharusnya perbedaan pendapat tidak sampai membuat pertahanan menjadi rapuh. Hal ini benar-benar disadari oleh Inaq Farida. Lima tahun menguatkan Baiq Kirana Widiasari bukanlah perkara mudah. Pengalaman pribadi kehidupannya yang sama dengan anaknya menjadi senjata bagi keutuhan mereka. Tidak ingin ada friksi dalam hubungan ibu-anak itu, Inaq Farida memilih mengakhiri obrolan pagi dengan senyuman hangat. Dia tidak ingin memperpanjang masalah menjadi sesuatu yang pelik. Dia juga tidak mau, obrolan pagi ini justru merusak semangat Baiq untuk memperjuangkan hidup mereka. Dia ingat masih banyak hal yang harus mereka tuntaskan bersama-sama, salah satunya adalah masa depan Lalu Gading Rinjani.

Tyang2) berangkat dulu, Inaq,” kata Baiq sambil mencium tangan kanan ibunya.

“Iya, Baiq. Kamu hati-hati, ya.” Kali ini giliran Inaq Farida memeluk Baiq. Dia benar-benar ingin mengalirkan hawa hangat demi kekuatan anak perempuannya yang mulai rapuh. Dia tahu, hari ini tugas besar menanti Baiq. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Inaq Farida melepaskan pelukannya. Kedua ujung bibir Baiq tertarik ke atas membentuk lengkungan tipis. Setipis perasaannya ketika mengingat statusnya sebagai seorang orang tua tunggal bagi anak semata wayangnya. Kondisi yang sama pada ibunya atas dirinya.

Di depan pintu, Inaq Farida melepas kepergian Baiq. Sementara di depan gerbang rumah, Baiq tampak naik cidomo3) langganannya yang sudah menunggu sejak tadi pagi. Sebelum cidomo bergerak. Baiq tampak menjulurkan kepalanya keluar, “Tyang titip Gading, Inaq.”

Inaq Farida hanya tersenyum mendengar teriakan Baiq. Tanpa diminta sekalipun, dia akan tetap melakukannya. Bagaimanapun juga, dia adalah cucu kandungnya. Dia pun bergegas menutup pintu. Di belakang pintu, Inaq Farida bersandar dengan bertumpu pada kedua tangannya. Kedua kaki tanpa alasnya menjejak lantai semen rumahnya, sementara tatapan matanya lekat pada langit-langit rumah bercat putih. Kosong. Sesekali dada Inaq Farida mengembang cukup lama. Sesaat kemudian kembali mengempis dengan cepat. Dia sedikit mengangkat bahu saat bayangan seorang lelaki tiba-tiba terlukis jelas di langit-langit ruang tamu. Kegelapan menyergap kelopak mata Inaq Farida. Mendung menggelayut di rongga pembungkus kornea matanya. Sesekali dia menarik otot-otot pipi hingga timbul kerutan pada kulit pembungkus kedua matanya. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali, tetapi bayangan lelaki itu tetap tidak mau pergi. Dia semakin mendekat bersama seorang lelaki lain yang terpaut jauh usianya. Dia mengenali kedua lelaki itu sebagai suami dan anak menantunya.

Inaq Farida membuka mata. Sesenggukan. Luka lama kembali terbit di antara ingatan-ingatan. Lima tahun lalu, keduanya memutuskan mengadu nasib ke Malaysia sebagai TKI. Hal yang sama dilakukan oleh beberapa lelaki dewasa yang sudah berumah tangga di desanya. Alasannya cukup masuk akal, demi menafkahi keluarga. Tetapi, kadang hal yang mulanya masuk akal bisa saja berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dinalar. Bulan pertama hingga bulan keenam, kiriman uang dan kabar tetap datang. Inaq Farida dan Baiq mengumpulkannya sebagi modal usaha dan bukan untuk membeli barang-barang mewah seperti kebanyakan tetangganya. Hingga akhirnya, bulan ketujuh dan seterusnya, bahkan hingga hari ini, sama sekali tak ada kabar dari mereka berdua. Inaq Farida dan Baiq sudah berusaha menanyakan pada teman-teman yang berangkat bersama. Nihil. Tak ada secuil informasi pun mereka dapatkan tentang kondisi mereka berdua setelah lima tahun mereka berada di negeri jiran.

Inaq Farida dengan kesetiaan seorang perempuan yang dipelajarinya dari kehidupan tetap berusaha sabar dan tabah. Beda kondisinya dengan Baiq. Bagaimanapun juga, Baiq masih terlalu muda untuk bisa memahami apa yang dia rasakan saat ini. Tidak bisa dipaksakan. Terlebih tentang gejolak. Jelas-jelas berbeda. Dalam usianya yang masih 20 tahun, sangat wajar jika Baiq masih membutuhkan seseorang yang bisa menguatkan setiap dirinya membesarkan anaknya. Sedangkan Inaq Salmah sendiri tidak begitu bermasalah, sebab Baiq sudah punya kehidupan sendiri. Meskipun hanya sebagai penjual sate bulayak di pantai, tapi dia lapaknya selalu ramai setiap harinya. Pelanggannya pun bukan orang sembarangan. Pejabat pemerintah, pengusaha, dan beberapa artis yang kebetulan sedang liburan atau syuting di Lombok. Hal itulah yang membuat Inaq Salmah tidak pernah mengkhawatirkan kondisi psikologis Baiq. Setidaknya sampai hari ini.

Ah!

Inaq Farida menghentikan pengembaraan ingatannya. Baginya, semua tentang suami dan menantunya hanyalah masa lalu. Saat ini, dia bertekad untuk tetap bisa membuat Baiq berjalan tegak. Dia hanya khawatir pada anak Baiq, cucunya yang hidupnya masih bergantung pada ibunya. Dia tidak bisa membayangkan sesuatu hal buruk terjadi pada Gading jika terjadi apa-apa pada diri Baiq. Dia tidak ingin kesalahan dirinya di masa lalu terulang kembali.

Tubuh rapuh berbalut baju lengan panjang merah marun dipadu sarung oranye bermotif bunga-bunga itu perlahan bangkit. Tubuhnya kini tegak berdiri dan mulai melangkah ke kamar belakang melewati ruang tamu sederhana yang hanya berisi sofa butut lengkap dengan mejanya. Langkah kakinya berhenti di depan sebuah kamar bercat biru muda. Sebuah pintu berwarna biru tua dengan poster tim lengkap Manchester United terpampang di hadapannya. Tangan kanannya meraih gagang pintu.

Kriet!

Pintu pun terbuka. Sejenak dia tertegun menatap ke arah tempat tidur. Sesosok tubuh mungil tampak telentang. Desah napasnya teratur, turun-naik dengan mata tetap memejam. Dengan sedikit berjingkat, Inaq Farida melangkah mendekat. Dia menghentikan langkahnya saat melewati meja. Di atasnya berserakan pensil warna, tumpukan buku mewarnai, buku cerita, dan pensil berada di atas sebuah buku gambar yang masih terbuka. Potret sebuah keluarga terpampang di sana. Lukisan itu memang seadanya, tapi bagi Inaq Farida sangat luar biasa. Menghentak-hentak dadanya dan melahirkan airmata. Ini untuk pertama kalinya. Dia mengambil buku gambar itu dan memperhatikan setiap detailnya. Seorang anak sedang berdiri digandeng di antara ayah dan ibunya.

Deg!

Sebutir airmata pun terjatuh, tepat di wajah lukisan yang berwujud laki-laki. Inaq Farida meletakkan kembali buku gambar itu. Dia menoleh ke arah Gading yang masih tenggelam dalam mimpi-mimpi indahnya. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Begitu cara dia menguatkan dirinya sendiri. Dia melangkah mendekat ke arah sosok anak kecil berambut ikal itu. Dia kemudian duduk di pinggir tempat tidur. Perlahan-lahan, selimut yang tersingkap sudah menutup sebagian tubuh berkulit bersih itu hingga sebatas leher.

“Maafin Papuq4), Ding. Papuq yang salah.”

Di bagian pinggir tempat tidur, Inaq Farida duduk menerawang. Ingatan-ingatan kembali terjalin menjadi sebuah melankolia pagi. Melodi hati hadir dalam setiap detik mengiringi bergulirnya matahari. Hingga pada suatu pagi di suatu masa, tepatnya lima tahun lalu, Inaq Farida dan suaminya sedang duduk di ruang tamu rumahnya.

Pagi yang berbeda. Keputusannya sudah bulat. Dia akan memaksa suaminya untuk pergi ke Malaysia, segera setelah acara yang direncanakan selesai.

Mamiq5)… Hanya ini satu-satunya jalan.”

Inaq Farida membuka percakapan pagi itu setelah selesai membersihkan .

“Tapi, Inaq. Kasihan Baiq. Gimana dengan sekolahnya?”

Inaq Farida menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Sejenak kemudian, dia menghela napas panjang.

“Terus dari mana kita dapet biaya, Miq? Kalau Mamiq pergi, setidaknya hidup kita bisa lebih layak.” Inaq Farida mencondongkan tubuhnya ke arah Mamiq Sanusi.

“Tapi, Inaq. Baiq, kan, masih kecil. Belum waktunya.” Tubuh Mamiq Sanusi terhempas begitu saja di sandaran sofa.

Inaq Salmah tidak mau kalah. Dia tetap berusaha membujuk suaminya agar mau menyetujui usulannya. Semua dalih dikeluarkan untuk pembenaran setiap argumennya. Ada keyakinan dalam hati, bahwa suaminya akan menuruti kemauannya.

“Mamiq, kan, masih muda. Masih kuat bekerja. Lha masak ada kesempatan dilewatkan begitu saja? Ndak Mamiq cinta lagi sama Inaq?” Inaq Farida merajuk sambil berlalu ke kamar meninggalkan Mamiq Sanusi sendirian. Ini adalah jurus terakhir yang dipakainya.

Terdengar hembusan napas panjang berkali-kali di dalam kamar. Seperti biasa, Inaq Farida yakin kalau Mamiq Sanusi mati langkah. Mendadak dia merasa berdiri di simpang kiri jalan dekat kobaran api yang menjalar menujunya. Di sebelah kanan, Baiq Kirana Widiasari berdiri mematung menunggu diselamatkan dari terkaman buaya. Sementara Mamiq Sanusi mematung di ujung persimpangan. Dia tampak melangkahkan kaki ke tikungan kanan. Baru satu langkah, dia kembali dan memilih jalan ke kiri, menujunya. Akhirnya, dia justru memilih mengambil jalan tengah. Jalan yang hanya Mamiq Sanusi sendiri dan Tuhan yang tahu.

Inaq Farida mengusap airmata saat suara sandal jepit terdengar menapak lantai semen. Perlahan mendekat. Setelahnya suara itu menjelma derit pintu kamar. Seorang lelaki memakai kaos singlet putih dipadu dengan sarung kotak-kotak melangkah masuk. Tangan kanannya memeluk pinggang Inaq Farida setelah duduk di pinggir tempat tidur.

“Inaq… Demi membuktikan cintaku sama Inaq, Mamiq memutuskan mengikuti saran Inaq,” kata Mamiq Sanusi melingkarkan kedua tangannya di pinggang dari arah samping dan meletakkan kepalanya di pundak Inaq Farida.

Mendapat perlakuan seperti itu, Inaq Farida memutar sedikit tubuhnya yang dibalut daster hingga lutut. Kedua tangannya meraih leher Mamiq Sanusi. Dua pelukan menyatu dalam gejolak yang berbeda dengan kehangatan yang sama.

Matur tampi asih6), Miq.” Inaq Farida mempererat pelukannya di leher Mamiq Sanusi.

Dua tubuh menyatu disaksikan detak jarum jam dinding yang mendetik waktu. Pelukan masih saja menghadirkan kehangatan hingga jarum detik bergerak dari angka 1 sampai 12. Keduanya merenggangkan pelukan dan akhirnya terlepas. Mamiq Sanusi tersenyum saat kedua ujung ibu jari Inaq Farida menyentuh kedua sudut matanya. Sungguh romantisme pagi yang menghanyutkan.

***

Cairan hangat mengalir di pelupuk mata Inaq Farida. Ingatan tentang Mamiq Sanusi merenggut kekuatan hatinya selama ini. Bagaimanapun juga, hal tersulit adalah kejadian setelah mengingat hal-hal yang sebenarnya sudah ingin dilupakan. Dengan ujung sarung motif bunga-bunganya, Inaq Farida mengusap ujung matanya. Tangan kanannya berpindah ke dahi Gading, lalu melepasnya setelah mencapai puncak kepala.

“Maafkan Papuq, Ding. Papuq yang salah.”

Ingatan kembali melambai-lambaikan tangan mengajaknya kembali menyusuri masa lalu. Masih saja tentang hal yang sama.

***

“Gimana hasil nyelabarnya7), Miq?”

Inaq Farida menggeser duduknya di sebelah Mamiq Sanusi.

“Alhamdulillah. Semua beres, Inaq. Keluarga Lalu Agha Farabi setuju dengan jumlah uang yang kita ajukan.”

Inaq Farida antusias mendengar jawaban suaminya, “Alhamdulillah. Kapan acaranya terus?”

Mamiq Sanusi membetulkan posisi duduknya di sofa sebelum akhirnya angkat bicara, “Ijab kabulnya dua hari lagi, Inaq. Resepsinya baru minggu depan.”

“Iya, Miq. Kasihan Baiq kalau kelamaan. Udah dua hari ini dia dipaling8) dan tinggal di rumah keluarga Agha.”

Dan, hari itu pun tiba. Di samping Inaq Farida dan Mamiq Sanusi, sedang duduk anak semata wayangnya, Baiq Kirana Widiasari, mengenakan baju pengantin khas Sasak berwarna hitam dan dihiasi payet-payet kuning keemasan, bukan pakaian putih abu-abu seperti gadis-gadis lain seusianya. Di sampingnya, seorang raja sehari yang tampan tampak mengedarkan senyuman ke arah tamu undangan.

“Lihat, Miq! Cantik sekali anak kita, ya?” Telunjuk Inaq Farida mengarah ke Baiq yang diikuti oleh arah bola mata Mamiq Sanusi.

Tak beda jauh dengan sepasang pengantin, pasangan Inaq Farida dan Mamiq Sanusi pun melakukan hal yang sama. Menebar senyum sepanjang acara seolah-olah untuk menutupi gejolak yang ada di dalam dada mereka masing-masing.

***

Inaq Farida memutuskan berlalu dari kamar Gading. Dia ingin menenangkan diri dengan secangkir kopi. Tangannya sibuk membuka lemari penyimpanan gula dan kopi. Dua toples itupun berpindah ke atas meja keramik panjang di dapur dan menimbulkan bunyi yang hampir samar. Tutup toples plastik kopi terbuka. Inaq Farida mengambil tiga sendok kecil bubuk kopi Sembalun itu dan menaruhnya di dalam cangkir bertangkai ukuran sedang yang telah disiapkannya. Selanjutnya, tangannya beralih ke toples wadah gula. Dia mengambilnya satu sendok kecil saja. Setelahnya dia mencampurkan kedua zat berbeda warna itu sebelum menambahkan air panas dari dispenser di sebelah kanannya. Asap mengepul bersama aroma harum kopi yang menguar. Inaq Farida membawa kopi racikannya keluar lewat pintu samping dapur. Di sebuah meja kayu, dia meletakkan secangkir kopi itu. Butuh beberapa saat bagi Inaq Farida untuk mulai menyesap kopi itu. Dia memilih memperhatikan daun-daun mangga madu yang bergerak ditiup angin. Lima tahun yang lalu, dia menanam dua pohon mangga madu hasil cangkokan yang dibawa dari rumah orang tua Agha saat dia berkunjung untuk acara mituq mendoakan kehamilan Baiq yang memasuki bulan ketujuh. Dan, tiga bulan berikutnya menjadi awal dari semua konflik hati yang dijalani hingga saat ini.

***

“Mamiq berangkat dulu, ya, Inaq. Jaga Baiq dan Gading baik-baik.” Mamiq Sanusi mengecup kening Inaq Farida, Baiq, dan Gading bergantian.

Sebelum benar-benar meninggalkan rumah, Mamiq Sanusi menyesap kopi yang mulai dingin hingga habis. Selanjutnya, langkah kaki itu menjauh dari gerbang halaman diiringi Inaq Farida dan Baiq yang menggendong Gading. Bersama mereka juga ada Agha yang menyeret roda koper berukuran besar. Mereka tidak langsung berpisah, tetapi bergabung dengan beberapa tetangga yang ingin mengantarkan mereka ke bandara.

Tak sampai satu jam, rombongan itu tiba di bandara Selaparang. Suasana bandar cukup ramai. Beberapa orang lalu-lalang. Sebagian bercerita tentang kebahagiaan, tapi tak jarang yang lainnya mengisahkan kesedihan. Hanya di bandara dan tempat singgah lainnya, pertemuan dan perpisahan berkarib. Seolah tak bisa dipisahkan lagi. Dan, mungkin sudah seperti itu memang seharusnya. Bukan tanpa alasan memang, tapi di bandara kebahagiaan dan kesedihan bisa datang secara bersamaan. Tak bisa dipungkiri. Hal itu sudah menjadi semacam keharusan yang tidak tertulis. Keduanya terpisah sekat yang bernama langkah. Betapa langkah mendekat menandakan bahagia, dan langkah menjauh adalah sebaliknya. Meskipun, beberapa di antaranya bisa saja kebalikannya. Tidak pernah ada yang benar-benar tahu.

Tak terkecuali bagi Inaq Farida dan Baiq. Satu langkah menjauh menuju pintu keberangkatan berarti sebuah kehilangan. Kehilangan yang terselip harapan demi sebuah kebahagiaan. Lalu, selanjutnya adalah tugas bagi waktu untuk menerjemahkan semua kejadian. Mewujudkannya menjadi kebahagiaan nyata atau justru mengubahnya menjadi kesedihan yang tak terencana.

Terlebih saat suara mesin pesawat terdengar di kejauhan dan perlahan menjauh. Saat itu mungkin bukan saat terberat bagi sebuah perpisahan, tetapi merupakan saat terpenting bagi kelanjutan proses kehidupan, yang boleh dikatakan baru. Hal itu benar-benar dirasakan oleh Inaq Farida dan Baiq. Keduanya saling menguatkan dalam arti airmata masing-masing. Pelukan benar-benar terlepas saat suara pesawat yang menjauh perlahan menghilang bersama melambungnya harapan. Semakin tinggi dan akhirnya akan kembali lagi, jika ada keterbukaan hati. Inaq Farida dan Baiq benar-benar memahami, bahwa yang pergi belum tentu akan kembali. Kenyataannya, jawaban atas kepergian hari itu belum mereka temukan bahkan hingga pertanyaan itu memudar.

***

Satu kali tegukan kopi meninggalkan rasa pahit di ujung lidah Inaq Farida. Mungkin kopi yang dibuatnya pagi ini mengingatkan, bahwa untuk menemukan kenikmatan kadang harus melalui jalan yang paling pahit. Inaq Farida masih bertahan dalam posisinya seperti semula. Duduk di kursi kayu dengan secangkir kopi pahit di sampingnya. Ini bukan untuk pertama kalinya. Dia selalu saja seperti itu, menyeduh kopi pahit lalu menghabiskannya sendiri di samping pintu dapur.

Seringkali dia berlaku sama hanya untuk menuntaskan rasa rindu pada suaminya. Hanya seperti itu, menyesap kopi dengan komposisi yang sama kegemaran suaminya untuk merayakan rindu yang datang tiba-tiba. Sederhana. Selain itu, tempat dia duduk sekarang adalah di dekat pintu. Awal saat dia mengantar suaminya melangkah keluar ke bandara dan baginya untuk memulai kehidupan baru, sendiri saja.

Inaq Farida beranjak dari duduknya ketika mendengar suara rengekan dari arah kamar. Itu adalah pertanda dimulainya rutinitas hari ini. Tak berbeda dengan yang dijalaninya selama ini, menyiapkan air untuk mandi, sarapan, dan mengajarinya baca-tulis atau sekadar mengawasinya saat dia bermain bola dengan teman-temannya di lapangan belakang kampung. Dan, sebentar lagi akan bertambah dengan mengantar jemput Gading sekolah. Tak pernah ada desah keberatan selama ini. Sebab bagaimanapun juga, dia dan Baiq sudah sepakat sejak semula. Merawat Gading adalah tugasnya sebagai kepala keluarga, sedangkan Baiq bertugas sebaik-baiknya mengais rezeki yang halal. Sebab Inaq Farida benar-benar menyadari, bahwa ini adalah garis hidup yang sudah ditakdirkan, meskipun dia sendiri tidak pernah tahu, kapan takdir akan menemukan kembali mereka dengan kebahagiaan.

Inaq Farida bergegas menuju kamar Gading. Dia tidak ingin Gading menangis seperti kemarin saat terbangun tidak ada siapa pun di rumah karena ditinggalkan belanja ke warung depan.

Papuuqqq!

“Iya, Ding.”

Tergopoh-gopoh, Inaq Farida menemui Gading yang sedang menggosok-gosok mata dengan tangan kanannya. Inaq Farida meraih tangan kanan Gading dan menuntunnya menuju kamar mandi. Anak kecil berusia empat tahun itu pun menurut.

Byur!

Suara air terdengar jatuh di kamar mandi. Inaq Farida menunggu dengan handuk di tangan di luar kamar mandi. Tak sampai lima menit, Gading keluar dan disambut dengan handuk oleh Inaq Farida.

“Udah kamu sikat gigi, Ding?”

Sampun9), Puq.” Gading menyengirkan giginya yang putih kecil-kecil berderet rapi.

“Pinter!”

Inaq Farida mengelus kepala rambut ikal Gading, lalu menuntunnya untuk ganti baju. Sementara Gading ganti baju sendiri, Inaq Farida menyiapkan air putih di mug putih bertuliskan ‘Dad’. Gading memang tidak mau minum dari mug lain selain mug itu.

“Udah Inaq berangkat, Puq?” Gading membetulkan posisi duduknya di kursi kayu yang lebih tinggi dari panjang tungkai kakinya.

“Udah. Kenapa?” Inaq Farida menyodorkan sepiring nasi dengan lauk ikan asin goreng dan sambel terasi serta sayur bening daun bayam dicampur jagung yang masih hangat.

“Ndak papa, sih, Puq.”

Gading segera menyuapakan nasi itu sedikit demi sedikit ke mulutnya dengan tangan kanannya. Pun Inaq Farida. Dengan lahap keduanya menghabiskan sarapan.

“Ding… Sore ini kamu ndak usah main bola dulu, ya?” Inaq Farida memberesi meja makan.

“Kenapa, Puq?” Gading masih mengunyah sisa kerupuk gigitan terakhirnya.

“Hari ini Paman Jun repot. Dia harus bantu inaqmu jualan,” kata Inaq Farida meletakkan piring yang baru saja selesai dicuci.

“Tapi, dia udah bejanji mau nemenin saya main bola.” Gading memukul meja.

Inaq Farida mengelap tangannya lalu memegang pundak Ganding dari belakang sebelum akhirnya berkata, “Ding… Kan kemarin-kemarin tetep kamu ditemenin maen bola sama Paman Jun. Sekali doang ndak papa.”

“Iya, Puq. Terus ke mana kita pergi hari ini, Nek?”

Inaq Farida menjawab pertanyaan Gading dengan senyum. Hari ini Inaq Farida hendak mengajak Gading ke rumah adiknya. Ada sesuatu hal yang ingin ditanyakannya terkait keberadaan suami dan menantunya. Keduanya meneguk air putih dalam gelas masing-masing, lalu bersiap untuk berangkat. Beda keadaannya dengan Baiq yang sudah sampai di pantai Kerandangan.

“Kak Jun… Minta tolong sekali angkatin baskom itu ke sini.”

Baiq menunjuk ke arah benda bermotif lurik hijau di sudut lapaknya. Seorang lelaki muda yang juga merangkap kusir langganan Baiq itu segera mengangkatnya. Mereka berdua memang sudah lama dekat. Lelaki yang dipanggil Jun itu selalu ringan tangan membantu Baiq saat dibutuhkan. Bukannya tanpa alasan, Jun melakukan hal ini karena bagaimanapun juga dia berhutang budi pada Baiq. Adiknya yang putus sekolah waktu kelas 1 SMA diterima untuk membantunya berjualan selama setengah hari. Hal ini mengingat, saat sore hari adiknya harus mengikuti pelajaran gratis yang diselenggarakan oleh tetangganya yang seorang guru SMA. Tak heran jika hubungan keduanya semakin lama semakin dekat.

“Assalamu’alaikum.”

Terdengar suara seorang gadis hinggap di indera pendengaran Baiq yang secara refleks menolehkan wajahnya ke sumber suara.

“Walaikumsalam. Baru selesai ngurusin Inaq, ya, Mar?”

Gadis yang dipanggil Mar itu pun mengangguk. Keduanya beradu senyum, lalu bersama-sama menyiapkan perlengkapan. Sebentar lagi pesta tahunan akan segera dimulai. Dan, itu berarti akan banyak rezeki yang datang. Masih banyak waktu, setidaknya sampai prosesi tahunan itu selesai.

“Baiq… Jadi ikut saya kamu?”

Suara Jun mengagetkan Baiq yang sedang bersandar pada tiang lapaknya. Dia tidak menatap Jun, tetapi ke arah Mar yang sedang mengelap piring-piring keramik bermotif bunga-bunga kecil.

“Gimana, Mar? Boleh saya ikut Kak Jun?”

Mar meletakkan piring yang sedang dipegangnya sebelum akhirnya menjawab, “Iya, Kak. Ndak papa. Ikut aja. Di sini masih sepi juga, kan?” Mar tersenyum sebelum melanjutkan kata-katanya, “side10), kan, belum pernah. Kalau saya, sih, udah sering.”

Baiq mengangguk ke arah Jun dan segera berdiri. Setelah melewati tempat pembakaran sate yang beberapa arang tempurung kelapanya sudah membara. Dia mengibaskan tangan saat asap tebal terbawa angin ke wajahnya.

“Aku pergi dulu, ya, Mar.”

“Iya, Kak,” jawab Mar sambil mengipas-ngipas arang tempurung kelapa dengan kipas persegi dari bambu.

Langkah Baiq semakin dekat dengan Jun, “Ayok, Jun!”

Keduanya beriringan meninggalkan lapak sate bulayak milik Baiq. Dua pasang telapak kaki beralas sandal kulit itu menapak rumput yang terhampar di kebun kelapa pinggir pantai itu. Sesekali mereka melewati bagian tanah yang rumputnya sudah mati dan hanya meninggalkan debu. Butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk bisa keluar pantai seiring kesibukan yang terjadi di arena itu. Banyak pedagang sedang mengatur lapak yang dibayar dengan sistem sewa selama dua hari. Beberapa malah sudah siap di depan lapaknya masing-masing. Pedagang souvenir, mainan anak-anak, VCD bajakan, dan tak ketinggalan pedagang kuliner sudah siap menyambut pengunjung. Dengan penampilan lapak yang hampir sama membuat arena ini tak ubahnya seperti pasar malam. Dan, benar adanya. Setahun sekali acara Lebaran Topat ini digelar di Pantai Kerandangan Lombok Barat. Acara berlangsung hingga malam dengan pertunjukan orkes atau artis ibukota yang sengaja didatangkan pihak pemerintah daerah untuk menghibur masyarakat.

Baiq dan Jun perlahan akhirnya bisa keluar dari jebakan kerumitan suasana pesta rakyat. Tiba giliran mereka, masuk ke dalam labirin rasa yang tanpa disadari sebenarnya enggan untuk mereka tinggalkan. Hanya saja, sebagai perempuan, Baiq paham betul bagaimana cara menunjukkan sikap pada laki-laki. Terlebih status perkawinannya yang biasa disebut ‘bebalu gantung’ menjadi kendala baginya untuk membiarkan hati menyusuri tepian rasa yang mulai berkembang menjadi asa sebuah cinta. Cinta yang hingga dua tahun kebersamaan belum juga terucap dari bibir Jun.

Jun tampak menghentak-hentakkan sandalnya di jalan aspal untuk menghilangkan debu-debu yang menempel. Tak beda jauh dengan Baiq. Dia melakukan hal yang sama. Mereka kembali beriringan menapak jalan aspal menuju lokasi prosesi Lebaran Topat diselenggarakan. Sesaat kemudian, mereka berdua tampak melangkah di jalan aspal yang sedikit menanjak.

“Kamu capek, Baiq?” Jun diam mematung di depan Baiq yang menunduk dan menumpukan dua tangannya pada lutut.

“Ndak, Kak. Jalan lagi ayok!”

Baiq melewati tubuh kekar Jun yang buru-buru berbalik dan mengejar Baiq. Hingga akhirnya dia pun berhasil menyejajari langkah Baiq.

“Kok, buru-buru?”

Jun berusaha menahan gerak cepat Baiq dengan senyuman. Gagal. Baiq tetap saja berjalan seolah-olah hendak meninggalkan Jun. Menyadari hal itu, Jun berusaha meraih tangan Baiq.

“Baiq…! Tunggu!”

Baiq mengacuhkan panggilan Jun. Dia terus saja melangkah mendaki jalanan aspal mulus menuju keramaian. Diperlakukan seperti itu, Jun tidak menyerah. Setengah berlari dia berusaha mendahului dan mencegat Baiq. Berhasil.

“Kenapa kamu, Baiq? Kok, tiba-tiba kayak gini?” Jun menggenggam erat kedua tangan Baiq.

Sementara Baiq berusaha melepaskan genggaman itu, “Ndak baik diliat orang banyak, Kak.”

Menyadari kecerobohannya, Jun melepaskan genggamannya. Kedua tangan Baiq kembali terbebas dan hal itu membuat Baiq memutuskan untuk segera meninggalkan Jun. Dia menyelinap di antara cidomo hias yang terparkir berderet di depan makam tempat ziarah. Dengan kekuatan sepenuhnya, dia berhasil menyibak kerumunan massa. Perlahan-lahan dia mendaki tangga dari semen menuju tempat berlangsungnya prosesi. Butuh waktu cukup lama bagi Baiq agar bisa mencapai posisi strategis untuk melihat rangkaian prosesi. Berhasil. Dia mengatur napasnya yang memburu saat dia tiba di dekat tiang penyangga berukuran besar. Atas kebaikan seorang lelaki muda di dekatnya, dia berhasil bersandar. Lega. Acara belum dimulai.

“Maafkan saya, Kak.”

Sementara di bagian bawah makam ziarah, Jun masih bergeming di tempatnya. Tanda tanya tiba-tiba berkeliaran di dalam kepala. Berkelindan membentuk simpul-simpul mati yang tak bisa lagi dibuka oleh jawaban dari ingatan kesalahan mana pun. Jun mencoba mengurai simpul-simpul mati itu. Sia-sia. Semakin dia berusaha keras mengurai, justru tanda tanya semakin tidak berbentuk karena simpul mati semakin kuat. Sesekali dia memukul-mukul kepalanya dengan ujung tulang tangannya. Berharap ada jawaban tercecer yang membantunya untuk memperbaiki kesalahan. Jun salah. Sebab kesalahannya tidak terletak dalam kepala, tetapi hati. Dia yang hanya seorang pemuda desa dari keluarga sederhana manalah paham urusan hati. Yang dia tahu hanyalah berjuang dan bertahan hidup, bukan memperjuangkan hati. Dia berpikir secara realistis dengan mengutamakan perjuangan hidup, sebab setelahnya akan lebih mudah memperjuangkan hati.

Jun merogoh sakunya. Sederet angka muncul di layar handphone monokromnya. Dia kemudian memencet tombol panggilan keluar.

“Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah …”

Klik!

“Sumpret! Dimatiin hapenya sama Baiq.”

Sumpah serapah tanpa sadar lahir dari rasa yang bergejolak dan tak menemukan tuan. Dia kembali menekan nomor yang sama. Jawaban yang sama pun dia terima kembali. Dengan mata agak mendelik, dia memasukkan kembali handphone ke saku celana jeans biru dongkernya. Dia melangkah berusaha menembus kerumunan yang semakin padat. Sesekali dia mengelap keringatnya dengan handuk putih kecil yang terkalung di lehernya. Sesekali dia mengibaskan kaos oblong coklatnya yang basah. Gelombang manusia semakin besar. Riuh semakin memekakkan telinga. Suara-suara bercampur dengan bermacam-macam aroma tubuh. Jun terus berusaha naik ke makam ziarah. Sesekali ada yang melotot ke arahnya saat tubuh kekarnya menyenggol. Beberapa di antaranya malah mengeluarkan kata-kata kotor saat kakinya terinjak oleh sandal Jun. Semua itu bukan halangan bagi Jun untuk merangsek naik. Dan, prosesi sudah dimulai saat Jun tiba di arena. Dia berdiri tak jauh dari Baiq yang tampak antusias menyaksikan setiap detail prosesi. Jun sengaja tidak mendekat. Dia tahu kalau Baiq akan semakin menjauh saat dia berusaha mendekat dan memaksanya mengatakan kesalahannya. Setelahnya, dia larut dalam prosesi acara lebaran topat. Pun dengan Baiq. Seolah-olah tidak pernah ada masalah yang dia hadapi sebelumnya dengan Jun.

Pandangannya terpaku pada beberapa sosok yang berada di tengah arena. Mereka adalah pejabat kabupaten, pemuka agama, pemangku adat, dan beberapa tamu undangan yang semuanya menggunakan pakaian adat Sasak. Baju warna hitam berhias kancing rantai, kain songket sebagai bawahan, dan sapuq11) sebagai penghias kepala.

Prosesi budaya lebaran topat ini dilaksanakan pada hari ketujuh setelah lebaran Idulfitri ini dikenal dengan lebaran mame12) oleh masyarakat Sasak. Prosesi diawali dengan tradisi nyangkar13) oleh Bupati Lombok Barat dan dilanjutkan dengan pengambilan air untuk bejanjam14). Setelahnya dilakukan zikir secara bersama-sama dan dilanjutkan dengan ngurisang15). Selesai acara inti, barulah dilaksanakan makan bersama dari ketupat yang disiapkan oleh panitia maupun bekal yang disiapkan oleh masing-masing peziarah dari rumah. Acara tidak berhenti sampai di situ saja. Masih banyak acara lain digelar untuk memeriahkan, di antaranya yaitu lomba mengulat kulit ketupat, lomba bedug, dan lomba pesaji16) berisi lauk khas lebaran ketupat.

Baiq mematung saat menyaksikan beberapa keluarga mulai berkelompok dan menyantap bekal yang mereka bawa. Bayangan keluarga kecil dan bahagia pun tercetak di benaknya. Dia, Gading, dan Agha duduk melingkar menikmati bekal dengan penuh tawa. Tak lupa bergabung bersamanya adalah kedua orang tuanya, Inaq Farida dan Mamiq Sanusi. Itu saja. Dan, tiba-tiba dia tersadar saat bayangan Agha dan Mamiq Sanusi berpendar dan menghilang. Diganti oleh seraut wajah yang selama dua tahun ini setia menemani dan membantunya, Jun. Jun tiba-tiba saja telah duduk di hadapannya. Tangan kanannya bergerak menuju ketupat yang sudah dipotong-potong dicampur ayam opor dan urap daun turi. Sepotong kecil ketupat diambilnya bersama seiris daging ayam, lalu perlahan-lahan menyuapkannya pada Gading yang duduk di sebelah kanan. Baiq hanya bisa diam sesaat setelah semua bayangan itu menghilang. Dia diam dan bersandar di tiang penyangga. Sama sekali tidak paham mengenai bayangan yang barusan dilihatnya. Dia bingung menerjemahkan bayangan tadi sebagai harapan yang terpendam atau hanya sebuah halusinasi atas hati yang kerontang.

Bola mata Baiq bergerak ke sana kemari mencari keberadaan Jun setelah acara selesai. Masyarakat perlahan-lahan membubarkan diri dan bergerak menuju arena pasar rakyat di bagian bawah. Baiq masih bertahan. Ada harapan seseorang menepuknya dari belakang — Jun.

Dada Baiq sejenak membusung dan tak lama kemudian kembali mengempis. Suara desah tertinggal, ketika dia memutuskan kembali ke lapaknya untuk menemani Mar. Asa telah dia tinggalkan setelah mengetahui Jun tak tampak batang hidungnya. Dia menapakkan jejak di tangga semen. Pelan-pelan dengan mata merembang.

Di anak tangga paling bawah, Baiq menghentikan langkah. Sedikit tersentak, tubuhnya terlonjak. Di tebing sebelah kirinya saat dia mau membelok, Jun tampak bersandar.

“Kak Jun?”

Bola mata Baiq membesar dengan kedua ujung alis terangkat. Syaraf matanya menangkap bayangan senyuman.

“Kok kaget gitu?”

Tanpa menunggu jawaban Baiq, Jun bangkit dan berdiri sejajar dengan Baiq sebelum akhirnya kembali mengungkapkan sebuah pertanyaan, “Di mana, sih, kamu tadi? Kok, tiba-tiba ngilang?”

AroooSide jak. Padahal dia tahu kalau saya ngilang, ndak kek dia cariin kita.” Baiq kembali merajuk sekadar membuktikan, bahwa perasaannya tidaklah bertepuk sebelah tangan.

“Tahu, sih, saya kamu tadi di mana. Sengaja ndak saya tegur. Takut kamu tambah marah. Hahaha…”

Tawa keduanya pecah berbaur dengan riuh suara masyarakat yang masih juga mengalir menuju arena pesta rakyat. Terlebih saat rombongan pejabat meninggalkan tempat. Hampir tak berhenti teriakan mengelu-elukan terdengar.

“Masih kamu marah sama saya, Baiq?” Jun memutar sedikit tubuhnya, sehingga tatap matanya jatuh tepat di bola mata Baiq.

“Eee… Siapa yang marah cobak?! Ndak saya marah we.” Tangan kanan Baiq berpindah ke bahu kiri Jun yang sengaja tidak berusaha menghindar.

“Terus kenapa? Kok, tiba-tiba berubah?” Jun menarik tangan Baiq dan mengajaknya jalan.

“Ndak ada dah.”

Baiq berusaha mengelak. Dia hanya tidak ingin, Jun tahu kenyataan yang bergejolak dalam hatinya.

“Ya udah, sih. Kalau gitu, ayok! Kasihan, Mar sendirian.”

Keduanya mempercepat langkah menuruni jalan aspal. Di sebuah jalan pintas, mereka langsung berbelok. Suasana arena pasar rakyat sudah berubah menjadi lautan manusia. Baiq dan Jun mempercepat langkahnya ketika melihat kerumunan orang di depan lapak sate bulayaknya.

“Ayok buruan, Kak!”

Setengah berlari, Baiq menarik tangan Jun. Dirasakannya aliran hangat meresap dari sentuhan jemari itu, lalu mengalir dan mengendap di dalam hati.

Tanpa banyak cakap, Baiq dan Jun segera berbagi posisi membantu Mar yang tampak kewalahan melayani pelanggan. Dengan kolaborasi yang solid, beberapa pelanggan telah mereka layani. Lapaknya yang terbuat dari bahan dominan bambu itu penuh. Beberapa orang duduk melingkar di atas dipan bambu tanpa kaki beralas tikar pandan menunggu pesanan datang. Mereka tampak menikmati kelapa muda dengan sedotan yang sudah disajikan oleh Jun.

“Silakan,” kata Baiq menyodorkan satu piring berisi campuran sate daging, usus, dan hati ayam yang diberi bumbu bulayak dan irisan cabai serta satu piring berisi lontong yang dililit dengan daun kelapa yang masih muda.

Pelanggan terakhir yang dilayani Baiq tampak mengupas daun kelapa muda yang melilit. Sedikit demi sedikit lontong terbuka dan langsung dipotongnya kecil menggunakan tusuk sate dari bambu, lalu ditancapkan pada ujungnya untuk dimasukkan ke dalam mulut. Baiq tersenyum saat melihat binar wajah pelanggan.

Dia bergegas kembali menemani Mar yang sedang mengipas sate pesanan. Baiq memutar-mutar tusukan daging, usus, dan hati mentah pada bumbu, lalu menyodorkannya pada Mar untuk diletakkan di atas pembakaran dari seng. Setelahnya, mereka berdua duduk di bagian pinggir lapak sambil menunggu pelanggan menyelesaikan dan membayar makanan dan minumannya.

“Kak… Ndak side pengin merariq17) lagi?”

Mar langsung menutup mulutnya saat melihat Baiq terdiam menatap gelombang lautan. Ombak bergulung berkejaran seperti hendak memangsa setiap kesedihan dan menggantinya dengan senyuman.

Benar saja adanya. Senyuman dari bibir tipis itu tercetak jelas di wajah Baiq, tepat di bawah hidungnya yang mancung, tertarik hingga pipinya yang penuh. Satu kalimat meluncur setelahnya, “Entahlah, Mar. Kalaupun iya, memangnya ada lelaki yang mau menerima statusku, seorang ibu dengan satu anak?”

“Saya yakin pasti ada, kok, Kak,” jawab Mar menunjuk ke arah Jun yang sedang membuat lubang pada bagian atas kelapa muda dengan menggunakan sebilah parang.

“Heh! Situ serius, Mar?” Kedua ujung alis Baiq terangkat.

“Seriuslah, Kak. Kak Jun, sih, sering cerita tentang Kak Baiq.” Mar meletakkan tangan kirinya di tangan kanan Baiq.

“Apa aja diceritain sama Kak Jun, Mar?” Mata Baiq berbinar menatap ke arah Mar.

Tanpa mereka sadari, dari tumpukan bekas kelapa muda, Jun melemparkan lirikan sepanjang percakapan mereka.

“Dia bilang hari ini dia akan menemui… ”

“Berapa semua?”

Suara seorang pelanggan mengagetkan mereka berdua. Mar segera bangun tanpa melanjutkan kata-katanya. Setelah membersihkan rok panjangnya dari pasir, dia menerima uang dan memberikan kembalian.

Tanpa terasa, matahari terus mendetik waktu. Sore pun tiba. Kebetulan hari ini libur, Mar membantu Baiq sampai lapak tutup. Suasana pesta rakyat masih ramai saat mereka bertiga naik cidomo untuk pulang.

Setelah mengantarkan Mar sampai depan rumah, Jun melanjutkan laju kuda ke rumah Baiq. Sepanjang perjalanan keduanya membisu. Tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang terpendam jauh di dasar lubuk hati masing-masing.

Sampai akhirnya…

“Baiq… Saya mampir ke rumah situ, ya?” Jun memelankan derap kaki kuda penarik cidomo.

“Serius, Kak? Tapi, di rumah ndak ada apa-apa.” Baiq mencengkeram erat tiang penyangga atap cidomo yang terus bergerak pelan.

“Ndak papa, Baiq. Saya hanya pengin ngobrol sama Inaq dan juga Gading. Ndak enak saya sama Inaq, karena hari ini ndak sempet nemenin Gading main bola.” Jun mempercepat laju cidomonya. Suara roda berderit sepanjang perjalanan berpadu dengan derap langkah cepat kuda penariknya.

Di depan rumah Baiq, Jun memarkirkan cidomonya. Dia membawakan Baiq barang-barang yang memang harus dibawa pulang.

Inaq Farida menyambut mereka di pintu rumah dan menyilakan keduanya untuk masuk. Sementara Baiq membuatkan minuman di belakang, Inaq Farida tampak serius mengobrol dengan Jun di ruang tamu.

Jun menunduk dengan kedua tangan bertaut dan bertumpu pada lutut. Dia menoleh ke arah Inaq Farida dan berkata, “Maafkan tyang, Inaq. Tadi ndak sempat nemenin Gading maen bola.”

“Ndak papa, Jun. Udah saya kasih tahu juga tadi si Gading. Awalnya keberatan juga, tapi akhirnya di bisa mengerti.” Inaq Farida membetulkan letak taplak meja dari kain songket khas Lombok.

Jun menghela napas seolah melepas beban yang berat. Setidaknya dia tidak mengecewakan Gading. Dan, tidak pernah ada niat untuk melakukannya. Meskipun belum menjadi seorang ayah, tapi berkat Gading dia telah belajar banyak. Dia sudah tahu cara membujuk saat Gading merajuk. Cukup dengan membawakannya oleh-oleh berupa pernak-pernik yang terkait dengan Manchester United. Jun telah membelikan poster besar di pintu kamar Gading, bola, dan kaos yang semuanya berbau Manchester United.

“Ke mana dia Gading, Inaq?” Jun meletakkan cangkir kopi yang baru saja dihidangkan oleh Baiq.

“Dia barusan aja keluar, Kak. Katanya ke warung beli pensil warna.”

Baiq mendahului ibunya menjawab pertanyaan Jun. Setelahnya dia menunduk dalam-dalam saat mendengar ibunya meneruskan perbincangan dengan Jun terkait dirinya. Dadanya membuncah saat menyadari persepsinya tentang Jun salah. Waktu mau menyaksikan prosesi budaya Lebaran Topat dia berpikir, bahwa Jun tidak pernah serius berhubungan dengannya. Tapi, ternyata salah besar. Sore menjelang malam ini, Jun menunjukkan keseriusannya. Sedikit demi sedikit harapan terang kembali berbinar dan melahirkan senyuman diam-diam.

Situ yakin, Jun?”

“Yakin, Inaq.”

“Ndak kek situ malu sama status Baiq yang Jamal alias Janda Malaysia?”

“Untuk apa malu, Inaq. Kalau saya malu, pasti ndak tyang ngomong kayak tadi ke Inaq.”

Situ juga udah siap nerima Gading?”

“Ndak ada yang lebih membahagiakan selain menerima keduanya dalam kehidupan tyang, Inaq.”

“Kalau Inaq, jujur ndak bisa memutuskan. Prinsipnya setuju-setuju aja. Tapi, terserah Baiq sama Gading aja. Mereka yang akan menjalani.” Inaq Farida melontarkan kalimat tanpa beban. Ingatan-ingatannya sepagian hari ini telah membuka hatinya, bahwa bagaimanapun juga cucunya butuh seorang ayah. Dan, anak perempuannya membutuhkan seseorang yang bisa menguatkan jejak langkah hidupnya. Lima tahun ditinggalkan suami dan menantunya tanpa kabar berita, dia akhirnya bisa menerima kenyataan, bahwa mereka dianggap sudah tiada. Tak ada lagi yang bisa mereka harapkan, karena bagaimanapun juga hidup harus terus berjalan. Inaq Farida menemukannya dalam diri Jun.

Baiq sedikit mengangkat bahunya ketika mendengar ucapan panjang lebar ibunya. Kali ini, ucapan ibunya berbeda seratus delapan puluh derajat dengan yang diutarakannya tadi pagi yang jelas-jelas menyatakan ketidaksetujuannya. Baiq tidak tahu apa yang membuat ibunya tiba-tiba berubah pikiran menyetujui tentang keinginannya menikah lagi demi anaknya, Gading. Apa pun alasannya, Baiq tak peduli. Dia telah mengangguk setuju dengan rencana Jun. Itu berarti dia telah siap dengan segala konsekuensi yang harus ditanggungnya.

Malam menjelang, mereka bertiga hanyut dalam pikiran masing-masing. Azan Magrib berkumandang. Mereka bertiga pun salat berjamaah. Gading pun tak mau ketinggalan.

Belum selesai mereka memanjatkan doa, terdengar suara pintu depan diketuk dengan keras. Berkali-kali dibarengi dengan ucapan salam. Ketiganya saling pandang. Inaq Farida yang mengenali suara itu segera bangkit tanpa melepas mukenanya. Dia langsung menuju ke pintu ruang tamu. Sementara Jun dan Baiq melanjutkan doa-doa, Gading memilih meninggalkan mereka berdua menuju kamar.

Tangan kanan Inaq Farida memegang gagang pintu dan memutarnya hingga pintu terbuka. Seraut wajah yang dikenalnya berdiri kaku di depan pintu dengan napas memburu.

“Masuk, Mat.”

Inaq Farida menyilakan seorang lelakiyang sangat dikenalnya itu untuk masuk. Dia adalah Mat, adiknya. Mat segera duduk di sofa sambil memegang dadanya. Sesekali dia mengembuskan udara dari dadanya melalui mulut. Inaq Farida meninggalkan Mat ke belakang dan mengambilkan air putih, melewati Jun dan Baiq yang masih merapal doa-doa. Setelah Mat minum air putih itu, dia berubah menjadi agak tenang, Inaq Farida pun pelan-pelan menanyakan maksud kedatangan Mat.

“Kenapa jak, Mat? Kok gopoh sekali kamu?” Inaq Farida menatap wajah Mat yang penuh dengan peluh.

“Kak… Barusan saya dapet kabar dari KBRI di Malaysia.”

Mat tidak meneruskan kata-katanya. Inaq Farida tampak membelalakkan matanya ke arah Mat demi mendengar kata Malaysia. Tak terkecuali Baiq yang tiba-tiba muncul di dekat ibunya, meninggalkan Jun sendirian di ruang tengah.

“Apa kata mereka, Tuaq18)?” Baiq mencondongkan tubuh ke arah pamannya itu.

Mat mengatur napas sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya, “Dia bilang, Mamiq Sanusi dan Agha sudah ditemukan di sebuah hutan. Mereka berhasil melarikan diri dari majikannya yang menjadikan mereka sebagai budak di kebun kelapa sawit, hampir lima tahun lamanya.”

Deg!

Bukan hanya satu jantung saja yang mendetak sama, tetapi setidaknya ada empat jantung yang mendadak berubah ritme detaknya menjadi lebih cepat. Inaq Farida, Baiq, Jun, dan Gading merasakan hal yang sama.

Tanpa memedulikan gejolak hati orang-orang yang saat ini di sekitarnya, Mat meneruskan ceritanya, “Untuk sementara waktu mereka tinggal di KBRI sambil menunggu kondisi kesehatan mereka berdua membaik. Katanya akan segera dipulangkan setelah kasusnya selesai.”

Mat menutup ceritanya sambil mengusap airmata di sudut matanya. Binar-binar kebahagiaan tampak dari senyuman yang sesekali diiringi isakan. Sementara Inaq Farida dan Baiq saling pandang. Penantian itu telah berakhir dan mengantarkan mereka berdua ke jurang pilihan yang membingungkan. Di bawahnya, lembah tangis telah menunggu dan akhirnya pecah. Tak terkecuali Jun yang telah menutup doa dan melipat sajadahnya. Dia bergegas bangkit dan berlalu.

Inaq, Baiq, TuaqTyang pamit dulu, nggih. Assalamu’alaikum.”

Tanpa menunggu jawaban mereka bertiga, Jun melangkah keluar pintu rumah. Ketiganya menjawab salam itu dengan lirih, hampir tak terdengar. Di balik pintu, tubuh Jun perlahan raib meninggalkan jejak kehilangan menjelang malam.

“Kak Jun…” Suara Baiq tersendat berusaha menghambat langkah Jun untuk pergi. Inaq Farida memegang pundak Baiq, mencegahnya agar tidak menyusul Jun. Sementara di depan pintu dengan poster Manchester United, Gading berucap lirih, “Mamiq…”

Catatan:

  • Inaq: Ibu
  • Tyang: Saya
  • Cidomo: Kendaraan tradisional beroda dua yang ditarik kuda
  • Papuq: Kakek/Nenek
  • Mamiq: Sebutan Ayah dalam keturunan ningrat
  • Matur tampi asih: Mengucapkan terima kasih
  • Nyelabar: Pertemuan pihak calon perempuan ke pihak lelaki untuk kesepakatan
  • Dipaling: Dicuri/diculik
  • Sampun: Sudah
  • Side: Kamu (halus)
  • Sapuq: Ikat kepala seperti udeng
  • Mame: Laki-laki
  • Nyangkar: Tradisi menandai selesainya puasa enam hari setela Idulfitri
  • Bejanjam: Ritual membasuh wajah anah-anak dengan harapan kelak mereka menjadi anak yang saleh.
  • Ngurisang: Memotong rambut anak bayi
  • Pesaji: Makanan khas lebaran
  • Merariq: Menikah
  • Tuaq: Paman

Tinggalkan Balasan