Dilema Seorang Mama

Terbaru808 Dilihat

Dilema Seorang Mama

Menjadi seorang Ibu dan istri yang harus harus bekerja keluar rumah membuatku harus pandai-pandai mengatur waktu. Dari awal menikah tentu suami istri sudah saling memahami akan tugas dan kewajiban masing-masing. Di butuhkan pengertian dan kerjasama yang baik agar suami istri tak saling menyalahkan jika terjadi hal-hal yang tak di inginkan.

Bekerja keluar rumah dan dengan jarak yang tak dekat pun membuatku harus ektra hati-hati dalam mengatur waktu. Saat anak masih kecil dan masih sangat membutuhkan peran seorang ibu. Apa lagi saat anak kurang sehat. Huuuf rasanya tak karuan. Bagaimana tidak di satu sisi aku harus segera berangkat bekerja  namun di sisi lain aku harus damping anak yang sedang sakit. Saat sakit anak tak mau jauh dari ibunya.

Berbagai cara di lakukan agar anak bisa ditinggal bekerja. Waktu terus berjalan anakku pun masih juga enggan untuk dilepaskan dari gendonganku. Hati bergejolak pilu. Sakit perih namun tetpa harus iklaskan tuktingalkan si-kecil.

“Maa …  Maa …  ituut (ikut),” rengeknya.

“Mama kerja dulu ya sayang, Adek sama mbak Eka di rumah.” Bujukku.

“Maa, Maaa,” Panggilnya. Aku hiraukan panggilan anakku.

Mbak Eka panggilan kami untuk orang yang membantuku mengasih anak-anakku di rumah. Setelah aku pulang kerja ia pun harus pulang dan keesokan harinya kembali membantuku mengasuh anak-anak di rumah. Sudah hampir 2 tahun ia bekerja di rumahku semenjak kelahiran anak keduaku. Biasanya si kecil tidak se-rewel ini namun mengkin karena kurang sehat maka anakku nangis saat aku tinggalkan.

Kulaju kendaraanku yang sudah setia menemaniku selama bekerja di wilayah kecamatan lain yang masih satu wilayah  kabupaten, walau masih satu kabupaten namun jarak lumayan jauh. Membutuhkan setengah jam perjalanan. Dalam perjalanan aku masih memikirkan anakku yang menangis memanggilku. Dalam hati aku selalu berdoa agar dia baik-baik saja dan segera sehat kembali agar saat aku tinggal bekerja bisa nyaman bermain bersama Mb Eka dan tentu aku bisa bekerja dengan tenang.

Tepat pukul 07.15  WIB aku baru sampai di parkiran sekolah. Aku jelas terlambat padahal aku harus masuk kelas jam pertama di kelas 2. Segera aku bergegas untuk ke ruang guru absen dan tentu segera masuk kelas. Sampai di ruang guru ternyta Ibu kepala sekolah ada di sana. Segera aku salam dan sebelum masuk kelas aku pun mohon maaf atas keterlambatanku. Ada sedikit raut muka yang kurang mengenakkan yang dapat aku tangkap. Aku sudah berusaha untuk bisa datang ke sekolah tepat waktu. Namun apa hendak dikata keadaan anakku yang kurang memungkinkan. Ya Rabb beri aku kekuatan untuk semua ini. Aku istighfar dan mohon segera pamit dan ke ruangan kelas dua.

“Selamat pagi anak-anak, assalamu’alaikum.” Sapaku pada siswa-siswa kelas dua. Aku tetap tunjukkan wajah berseri pada mereka walu dalam hartiku masih berkabut.

“Pagi, bu Guru. Wa’alaikumsalam warah matullahi wabarokatuh.” Jawaban kompak siswa-siswaku. Keceriaan mereka menambah semangat baru buatku.

Aku sampaikan maaf atas keterlamabatanku. Aku lanjutkan pelajaran dan tak terasa waktu begitu cepat. Pembelajaran yang menyenangkan di kelas mampu membuatku sedikit hilangkan kegelisahan memikirkan anakku dna juga tanggapan Ibu KS yang kurang nyaman. Aku sudah berusaha berikan yang terbaik untuk siswa-siwsaku.

Saat jam istirahat tiba aku segera hubungi Mb Eka untuk mengeetahui keadaan anakku.

“Bagaimana Mbak, keadaan Adek? obatnya sudah diminum belum? Tanyaku bertubi-tubi.

“Ya bu,  Adek sudah tidak nangis lagi, ini hanya minta gendong terus bu, badanya masih panas, ini baru saja tidur.” Jawab Mb Eka.

“Semoga tak rewel. Maaf aku belum bisa pulang lebih awal ya.” Kataku. Dalam hatiku tetap merasa bersalah tapi aku tetap harus lakukan tugasku dengan baik.

“Iya , Bu. Semoga Adek segera sehat.” Pinta Mbak Eka.

Beruntung aku bisa mendapatkan Mbak Eka selain dia  telaten dalam menjaga dan bersamai anakku, dia juga sangat sabar. Tiba-tiba dering ponselku mengagetkan lamunanku.

“Halo assalamu’alaikum, Yah.  Ada apa? Tanyaku pada suamiku. Ternyata suamiku yang call.

“Wa’alaikumsalam.” Jawabnya pelan.

“Ada apa, Yah? Aku masih ada jam nanti.”jawabku.

“Aku baru saja sampi rumah ini, dan Adek aku lihat kondisinya sangat lemas dan badanya masih  panas.Jika bisa Mama izin pulang ya! Pintanya.

“Tapi tadi Mbak Eka aku tanya Adek bisa tidur.” Jelasku.

“Iya, Ma. Tapi saat aku lihat badanya lemas sekali. Kita bawa ke dokter saja” Ajak suamiku.

Aku tak bisa berkata apa-apa selain hanya istghfar dan perasaan gemuruh berkecamuk dalam dada. Riwayat bayi premature membuat aku harus ekstra dalam  merawat dan menjaga anakku. Anakku sangat rentan terserang penyakit. Daya tuahan tubuhnya sanagt lemah.

Aku masih berusaha untuk menyelesaikan tugas mengajarku sampai jam pelajran habis. Biasanya saat setelah jam pelajaran habis, kami guru-guru masih melanjutkan pekerjaan untuk mengerjakan adminitrasi guru. Aku beranikan diri untuk mohon pamit pada Ibu KepalaSekolah.

“Maaf, Bu. Hari ini saya mohon izin untuk pulang lebih awal.” Pinataku.

“Izin? Bukannya tadi ibu sudah datang terlambat. Dan sekarang akan izin pulang lebih awal? Ga salah, Bu? dengan nada ketus jawaban Bu Kepala sekolah membuatku ciut.

“Maaf bu, suami memberi kabar keadaan Adek dan meminta sya untuk segera pulang.”Jelasku.

Bukannya memberi izin namun Ibu Kepala sekolah malah memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku hanya sia-sia saja aku minta izin.

“Apa ibu tidak merasa berdosa, jika datang saja terlambat tapi mau minta izin pulang lebih awal.” Ucap Beliau.

“Jika Adek tidak sakit tentu tidak begini buk keadaanya.” Jawabku.

Tidak ada jawaban yang menandakan aku di izinkan pulang. Akupun berpamitan untuk kembali ke ruang guru. Ada sesak di dada. Aku berusaha kuat dan sabar. Semua ibu tentu merasakan hal yang sama sepertiku jika melihat keadaan anaknya yang sakit dan tak bisa menjaganya.

Ya Rabb kuatkan aku. Butiran bening menetes di sudut mataku,  sementara pesan suami tak aku hiraukan. Aku ga tahan. Pesan audio aku dengar, suami memintaku untuk segera pulang.

Aku disini namun hatiku di rumah. Ku lirik jam dinding yang ada di sudut ruangan guru. Berharap jarum berputar lebih cepat agar aku bisa segera pulang. Aku tetap tak bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Aku tak dapat menyelesaikan adminitrasi apapun.

Tak ada yang dapat aku lakukan disini. Aku  beranjak tuk ambil air wudu dan segera ke mushola. Aku berdoa dan hatiku pun mulai tenang. Aku ambil ponsel yang aku taruh di saku baju seragamku. Dan apa yang aku baca.

[Maa, pulanglah Maa, keadaan Adek makin memburuk] pesan suamiku

[Bu, Adek belum bangun-bangun juga dari tadi, badanya panas. Ibu pulang ya]

Dan masih banyak chat chat yang lain. Deeg.. jantungku berdetak kencang. Aku tak hiraukan Ibu Kepala Sekolah. Aku hanya berpaitan pada rekan guru-guru yang lain. Dan aku meminta temanku untuk sampaikan Bu Kepala Sekolah.

Perjalanan yang biasa memakan waktu setengah jam, dapat aku tempuh hanya 25 menit smaapi rumah.

Kudapati Adek tergeletak lemas di ranjang bayinya. Sementara suamiku hanya duduk menungguku.

“Maafkan aku, Nak. Maafkan aku Yah.” Aku raih tubuh mungil anakku. Tak henti-hentinya aku menangis. Dan segera suamiku bangkit dan stater mobil tua milik kami. Tak banyak bicara aku langsung naik sementara Mak Eka mengikutiku sambil membawa peralatan Adek.

Sesampainya di Rumah Sakit pusat Kota Adek segera di tangani oleh Dokter yang biasa menangani Adek dari sejak bayi.

“Untung Ibu segera membawanya, terlambat sedikit tak tau apa yang terjadi bu.” Kata Dokter.

“Iya, Dok. Tolong berikan yang terbaik untuk anak kami.” Begitu kewatir kami dengan keadaan ank kami.

“Kita tunggu satu jam, obat yang saya berikan bereaksi ya, Bu. Jika tidak ada perkembangan maka anak ibu harus di rawat inab.” Kata Dokter.

“Kami ikut Dokter, bagaimana baiknya, Dok.” Jawabku.

Satu jam berlalu dan tak ada tanda-tanda Adek membaik. Seperti yang dikatakan Dokter. Adek harus di rawat inab. Ya Allah, berikan kesembuhan pada anakku. Tak ada yang dapat aku lakukan selain berdoa dan berharap untuk kesembuhan anakku. Seharian anakku belum juga minum Asi. Dia dehidrasi.

Maafkan aku Nak, aku tak bisa berikan terbaik untukmu. Mama banyak meninggalkan dirimu sedangkan kau membutuhkan Mama. Tangisku pilu. Suami hanya bisa menenagkanku dan memintaku terus berdoa.

“Sudah, Maa. Jangan menangis jangan salahkan dirimu. Kita berdoa ya.” Bujuk suamiku.

Aku tumpahkan segala isi hatiku, aku pasrah Ya Rabb.

Seiring pilu hati ku hujan turun begitu derasnya seolah mewakili rasa yang menghimpit hatiku.  Segera Aku call Ibu kepala sekolah meminta maaf dan beri kabar jika anakku di rawat di rumah sakit. Aku pun meminta izin untuk besok tidak masuk kerja. Ibu kepala Sekolah memberi izin serta meminta maaf untuk tak kata-kata yang beliau ucapkan saat aku meminta izin pulang lebih awal. Kami saling memafkan, semoga kejadian ini bisa memberi pelajaran untuk kami. Aku tutup telephone dan kembali aku berdoa untuk kesembuhan anakku.

#KarenaMenulisAkuAda

#Day25KMAAYPTDChallenge

Tinggalkan Balasan

3 komentar