Oleh : Ardiansyah
Meikyo, adalah salah satu kata (jurus) dalam aliran karate Shotokan. Secara harfiah, meikyo diartikan sebagai cermin dikarenakan gerakan awal dari kata ini seperti seseorang yang sedang bercermin dan dalam kata ini juga terkandung gerakan dari dua teknik identik yang dilakukan pada saat yang sama (seperti saling mencerminkan). Kata ini adalah kata yang sederhana, namun sangat jarang digunakan dalam turnamen. Meikyo terkadang lebih disukai oleh para veteran karate yang berpengalaman dan masih memiliki teknik tinggi karena tidak terlalu berat untuk dibawakan. Meikyo adalah kata refleksi diri dan introspeksi, terkadang diartikan sebagai “cerminan jiwa”. Sebagai seorang karateka kita harus mampu merefleksikan diri dan teknik untuk mencapai perubahan dan peningkatan menuju arah perbaikan.
Dalam kehidupan sehari – hari, bercermin bisa memiliki dua pengertian, yakni bercermin secara fisik dan bercermin dalam pengertian mengintrospeksi diri. Bercermin secara fisik merupakan suatu tindakan yang sudah tak asing lagi bagi manusia, minimal sekali dalam sehari kita akan bercermin untuk melihat penampilan fisik kita. Namun terkadang kita lupa, bahwa bercermin secara batin juga tidak kalah pentingnya. Setidaknya manusia sekali dalam sehari perlu untuk bercermin diri atau bisa diartikan melakukan introspeksi diri.
Saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menghitung diri. Maka Nabi Muhammad SAW pun mencontohkan sebuah doa yang sangat dalam maknanya. “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah rupaku maka perindahlah pula akhlakku.” (HR. Ahmad).
Dalam doa di atas terkandung makna bahwa bercermin bukan sekedar meraih penampilan fisik terbaik, namun yang terpenting adalah menjaga akhlak dan tingkah laku kita. Apakah tindakan atau keputusan yang kita ambil, sudah baik dan sesuai dengan tuntunan beragama dan tuntutan bermasyakat kita ? Jika belum, maka kita harus memikirkan cara untuk memperbaikinya. Introspeksi diri ini menjadi penting agar kita mampu memahami kesalahan apa saja yang telah kita lakukan. Baik kesalahan disengaja ataupun tidak disengaja. Introspeksi diri juga melatih sikap mental kita, agar jauh dari keangkuhan diri dan agar tidak gegabah dalam mengambil kesimpulan bahwa orang lain tidak lebih baik dari diri kita.
Jadi dengan bercermin, kita seharusnya tidak hanya memperbaiki penampilan diri (fisik) kita saja, namun juga harus mampu menjadikan cermin ini sebagai wahana untuk introspeksi diri menuju kearah perbaikan.
Semoga bermanfaat, Osu ….




