Titik Balik: Kecimol (Bagian 10)

Cerpen580 Dilihat

10 | Akhir Tanpa Beban Pikir

 

“Bagaimana, Imah? Kamu sepakat dengan kontrak ini?” tanya lelaki yang hampir seharian kemarin mengamati gerak-gerik keluarga Rama diam-diam.

Imah Inges belum mulai merangkai kata-kata. Jemari tangannya masih sibuk membolak-balik tumpukan kertas di atas meja. Otaknya berusaha mencerna setiap kata. Hampir setengah jam dia kembali membaca ulang tiap pasalnya.

“Alhamdulillah Pak Ahmad tidak keberatan dengan syarat-syarat yang diajukan,” batin Imah saat menutup dan merapikan kembali berkas itu.

“Saya bicarakan dulu dengan Rama dan mamak, ya, Pak,” kata Imah yang selanjutnya pamit pulang.

Setiba di pengungsian, Imah langsung berusaha menemui adik angkatnya. Ada kabar baik yang ingin dia sampaikan segera. Namun, yang dia temui tenda kosong tak bertuan saja. Saat bertanya ke Mamak Rama pun dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya. Dengan langkah gontai dia pun meninggalkan tenda.

Suasana pengungsian sudah tidak seramai sebelumnya. Beberapa tetangga sudah ada yang kembali ke rumahnya. Mereka adalah yang tidak begitu parah kerusakannya. Sedangkan beberapa yang lainnya masih bertahan di sana. Mereka adalah tetangga yang rumahnya sama sekali tidak bisa lagi ditempati oleh keluarganya.

Mamak Rama sendiri masih belum memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Baginya kebersamaan dengan tetangga selama ini adalah kebahagiaan yang akan membawa berkah. Terlebih sepeninggal Bapak Rama saat terjadi musibah. Tetap berkumpul dengan tetangga adalah kekuatan dalam menyelesaikan setiap masalah.

Tidak terkecuali Rama yang akhirnya sedikit demi sedikit bisa melupakan kesedihan kehilangan sosok ayah. Dia punya banyak teman baru yang bisa diajak dan mengajarinya tentang bertahan saat hidup susah. Berkat teman-temannya yang aktif bergabung dalam tim pemulihan trauma pasca bencana, dia pun merasa segala keadaannya tidak lagi parah. Saat ini dia hanya bisa berserah dan tidak menyerah. Dan dengan menatap puing-puing sanggar seni yang pernah membuatnya bangga sebagai musisi itu, dia bisa tegar dan tidak meratap pasrah.

“Sudah kuduga kamu di sini, Rama,” kata Imah Inges yang serta-merta membuat Rama membalikkan badan.

“Eh … Kak Imah. Bagaimana, Kak? Urusannya lancar, kan?”

Imah menganggukkan kepala lalu berdiri sejajar dengan Rama. Wajahnya dipenuhi senyuman. Rama menangkapnya sebagai suatu pertanda baik.

“Tidak lama lagi kita akan bisa membangkitkan lagi sanggar seni ini. Pasti!” kata Imah sambil mengepalkan tangannya.

“Alhamdulillah. Oya, kapan kita mulai tampil, Kak?”

Imah masih tersenyum membayangkan sanggar seni itu kembali berdiri megah. Dia lalu berkata, “Segera setelah masa waspada bencana ini berakhir. Pak Ahmad sudah mengantongi jadwal untuk kita. Dan yang terpenting sesuai kesepakatan tidak akan sampai mengganggu jadwal sekolah kalian bertiga.”

“Alhamdulillah, ya, Kak,” kata Rama mengulurkan tangan dan menyalami Imah Inges.

Keduanya lalu berdiri mematung menatap sanggar seni yang telah mereka lukis dengan harapan. Termasuk seorang perempuan yang diam-diam mengamati keduanya di kejauhan. Perempuan yang sesaat kemudian melangkah mendekat itu melukis senyuman.

“Alhamdulillah. Semoga niat baik kalian akan dimudahkan nantinya. Aamiin.”

“Mamak?” Rama berbalik dan menghambur ke pelukan.

Tidak jauh beda dengan Imah Inges yang berlari mendekap mamak angkatnya itu. Tangis ketiganya pecah bersama harapan-harapan terbaik seiring perjalanan waktu. Butuh waktu lama bagi ketiganya untuk menuntaskan haru.

Hari pun seolah sangat cepat berlalu. Rama dan Imah Inges menjalani profesi baru. Rama dikontrak sebagai gitaris, Ipang Jering sebagai penggebuk drum, Rudi Solong sebagai pengatur sound system milik bapaknya, dan Imah sebagai pembawa lagu. Keempatnya berhasil menjadi pendatang baru yang diperhitungkan di jagat musik yang sangat seru.

“Alhamdulillah, ya, Kak. Sedikit demi sedikit kita bisa membangun kembali sanggar seni ini. Terima kasih,” kata Rama mencium tangan Imah Inges.

“Sudah. Ndak papa. Ini berkat perjuangan dan kesabaran kita semua. Termasuk kak Rajab dan mamak juga,” kata Imah memeluk adik angkatnya itu.

Keharuan menghias keindahan petang. Kebahagiaan membuncah sedikit demi sedikit mengobati luka hati yang meradang. Namun, masih ada masalah lain yang menghadang. Keduanya bergegas menemui mamak Rama dan Rajab yang sedang berbincang di berugak belakang. Dengan langkah beriringan mereka berdua menapak lorong samping rumah sambil berdendang.

Di berugak berukuran besar dengan enam tiang penyangga yang disebut ‘sekenem’ itu, mamak Rama dan Rajab sedang berbagi cerita. Keduanya tersenyum ketika melihat kedatangan Rama dan Imah Inges ke arah mereka. Mereka berempat akhirnya berbincang sambil sesekali diselingi tawa.

Sementara di halaman belakang empat orang anak perempuan sedang melakukan gerakan sesuai irama yang mengalun dari pengeras suara. Keempatnya adalah murid tari mamak Rama yang sedang mempelajari gerakan dasar tari sebagai awalnya. Dinamisasi gerakan murid tari itu membuat mereka berempat di berugak terpana. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau ternyata banyak bakat-bakat seni terpendam di desa mereka.

“Wah! Anak-anak asuh Mamak hebat-hebat, ya,” kata Rama sambil bertepuk tangan.

Mendapat sanjungan dari anak lelakinya, mamak Rama hanya tersenyum lalu berkata, “Setidaknya ilmu Mamak ndak akan sia-sia, Nak.”

“Bener itu, Mak,” kata Rajab tiba-tiba.

Imah Inges pun tidak mau kalah dengan menimpali, “Seperti kata Mamak, ndak akan ada yang sia-sia selama kita mau berusaha. Bukan begitu, Mak?”

“Bener itu, Imah. Rasanya baru kemarin kejadian-kejadian berat dalam hidup kita. Hari ini sepertinya kita harus merayakan dengan syukur dan doa,” kata mamak Rama sambil mengangsurkan segelas kopi panas pada Rajab.

Tanpa menunggu komando, Rajab menghirup uap kopi yang mengepul dari cangkir keramik berwarna putih itu. Namun, dia belum menyeruputnya karena masih terlalu panas dan dia juga sedang tidak terburu-buru.

“Wah enak sekali aroma kopi ini, Mak,” kata Rajab sambil meletakkan kembali secangkir kopi yang belum diseruputnya itu.

Mamak Rama menyahut, “Ya sudah pastilah, Jab. Kopi Sembalun memang tiada duanya.”

Keempatnya pun akhirnya mengalihkan pembicaraan ke pokok persoalan. Keheningan terasa mencekam ketika Rajab mengungkapkan sebuah kenyataan. Awalnya dia tidak mau menceritakan. Namun, akhirnya dia terbuka hatinya karena tidak mau menyimpan rahasia itu sendirian.

“Mamak, Rama, dan Imah. Sebelumnya saya minta maaf karena menyimpan sudah lama menyimpan ini semua. Sebenarnya …” kata Rajab sambil menerawang.

Rajab pun akhirnya membacakan surat yang ditandatangi oleh Bapak Rama. Dia membaca baris demi baris dengan teliti. Tidak ada satu pun kalimat yang terlewati. Hingga sampai pada akhir catatan, Rajab menarik napas dan melanjutkannya dengan hati-hati.

 

‘Untuk anakku, Rama. Tolong jaga mamakmu sebaik-baiknya. Jangan sampai kamu menyakiti hatinya karena itu artinya kamu menyakiti Bapak juga.’

 

Terdengar isak tangisan pelan ketika Rajab kembali melanjutkan.

 

‘Bapak minta maaf karena sebenarnya yang menginginkan kecimol itu bubar adalah Bapak sendiri. Bapak sengaja minta bantuan Paman Rajab untuk melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Kamu tahu kenapa, Nak? Bapak melakukan ini karena sudah terikat janji padamu. Kamu masih ingat bukan kalau kamu berjanji akan menjadi penurut kalau Bapak memberikanmu kesempatan menjadi gitaris kecimol?’

Rajab menghentikan suaranya sementara waktu. Dia berusaha menengkan Rama yang sedang tergugu. Setelah keadaan lebih tenang, Rajab pun kembali menekuni lembaran-lembaran itu.

 

‘Bapak sengaja bersembunyi di balik tangan Paman Rajab agar kamu tidak tahu. Bapak khawatir kalau kamu sampai tahu, kamu akan kembali seperti dulu. Sekali lagi maafkan Bapak jika mungkin saat ini Peraturan Desa tentang pelaranagn kecimol itu telah ditandatangani oleh Kepala Desa. Kamu mau kan memaafkan Bapak, Nak?’

 

Dalam tangisan Rama menganggukkan kepala pelan. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata bapaknya yang menjadi dalang semua kekacauan. Dia berusaha memahami itu karena memang kecimol mereka sudah terlalu sering menjadi pemicu keributan. Mendadak dia pun mencoba mengubah pendirian dan kemauan.

“Kak Imah … sepertinya kita harus mengubah rencana kita,” kata Rama masih sambil terisak.

Imah menyeka cairan hangat di sudut matanya lalu berkata lirih, “Maksudmu kita akan membubarkan kecimol kita?”

Rama mengangguk. Sementara di ujung lorong smaping rumah, dua orang anak mencoba terus masuk. Mereka adalah Ipang Jering dan Rudi Solong yang diminta mamak Rama untuk berkumpul ikut menyelesaikan masalah yang menumpuk.

“Kamu yakin, Rama?” tanya Ipang Jering ketika sudah berdiri di samping berugak.

Mata Ipang Jering dan Rudi Solong terlihat sembab. Meskipun baru datang, tetapi mereka telah mendengar banyak melalui angin sore yang lembap. Tidak heran kalau mereka pun ikut menangis seolah-olah tanpa sebab. Dan, mereka pun ikut larut dalam kesedihan di sebuah ruang yang tidak kedap. Mereka pun merasa harus terlibat meskipun dalam suasana yang tidak begitu sedap.

“Lalu bagaimana dengan latihan kita selama ini, Rama?” Rudi Solong ikut menimpali.

Perkataan kedua sahabatnya itu mau tidak mau membuat Rama berpikir ulang. Mereka telah lama bersama-sama berjuang. Mereka juga telah bersama-sama menembus hambatan setinggi gunung menjulang. Pun kendala-kendala sedalam jurang. Kekompakan mereka adalah kunci saat melahirkan kembali kecimol sebagai sebuah tualang. Demi apa pun dia akhirnya meradang.

“Hhh!” Rama mendadak berteriak lalu meloncat dari atas berugak menuju sanggar seni.

Sekali loncat peralatan yang ada porak-poranda. Dia mengamuk hampir tanpa jeda. Kegamangannya tiba-tiba menyeruak di dada. Tangannya masih bergetar ketika memegang gitarnya. Ada dorongan mematahkannya. Namun, akal sehat mampu menahannya. Dia terduduk dalam tangisan panjang kekesalan bercampur duka.

Berpasang-pasang mata melihat semua dari arah pintu. Tidak ada sedikit pun keberanian untuk masuk dan menenangkan amukan itu. Mereka semua menjelma sebagai patung batu. Hingga akhirnya waktu yang membuat Rama tidak lagi ragu. Dia bangkit dan mengatur kembali peralatan seolah tidak pernah terjadi apa-apa di tempat itu.

“Maafkan Rama, Mak.” Tangis Rama tertahan di pelukan perempuan yang terlihat lebih anggun dengan selendang biru di pinggangnya itu.

Mamak Rama berkata, “Sudah, Nak. Ini sudah kehendak-Nya. Kamu tenang saja. Biarkan paman Rajab menjelaskan semua.”

Rama menurut lalu berjalan bersama-sama mereka menuju berugak. Di tempat itu mereka kembali duduk tanpa berjarak. Semuanya duduk menunggu Rajab tanpa keinginan untuk beranjak. Mengetahui hal itu pria yang juga sekaligus pengacara itu pun menjelaskan lebih lanjut tentang rahasia yang telah terkuak.

“Sebelum meninggal Kak Tuan menunjuk saya sebagai pengacaranya untuk menyelesaikan segala urusan. Alhamdulillah semua sudah beres. Dan, kemarin saya telah mengunjungi makam Kak Tuan untuk meminta maaf,” kata Rajab dengan suara tertahan.

Rama dan yang lainnya tidak ada yang berani memaksa Rajab melanjutkan kata-kata. Mereka menunggu dan sengaja memberikan Rajab sebuah jeda. Mereka paham ini tidak mudah baginya. Mengemban tugas dan amanah dari orang yang sudah meninggal dunia.

“Saya telah minta maaf pada Kak Tuan karena saya gagal menjalankan amanah beliau. Jujur saya tidak sanggup melihat semangat Rama dan yang lain untuk kembali menghidupkan kecimol,” lanjut Rajab sambil menahan air matanya yang hendak berlinang.

Rama yang duduk tepat di samping Rajab berusaha menguatkan dengan genggaman tangan. Dia tahu sekuat apa pun seseorang tetaplah membutuhkan sandaran atau pegangan. Benar saja setelah digenggam Rama, tubuh Rajab tidak lagi gemetaran. Dia bisa melanjutkan bicara dengan lancar tanpa hambatan.

“Saya pun memutuskan untuk mengambil alih kepemimpinan kecimol dan berjanji akan mengembalikannya ke akar budaya serta membuatnya lebih santun agar tidak dipandang sebelah mata. Karenanya saya butuh dukungan kalian semua,” kata Rajab dengan mantab.

Semuanya saling pandang dalam senyuman. Mereka seakan-akan sudah tidak lagi mengenal kata beban. Yang mereka tahu saat ini hanyalah kelegaan. Terbebas dari segala tekanan dan akan lebih mudah menapaki kehidupan. Kehidupan masa sekarang yang jauh lebih baik dari masa yang telah terlewatkan.

Mamak Rama memecah kebahagiaan dan berkata, “Terima kasih, Rajab. Kak Tuan pasti akan bahagia jika kamu bisa membimbing mereka menjadi lebih baik.”

“Insyaallah, Mak. Doakan saja kecimol kita akan lebih baik dan semakin bersinar,” kata Rajab menepuk-nepuk pundak Rama.

“Terus bagaimana dengan Pak Ahmad, Paman?” tanya Rama berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan yang sedikit mengganjal.

Rajab tidak segera menjawab. Dia justru memilih melihat ke arah Rudi Solong untuk beradu tatap. Dia merasakan tidak salah mengambil sikap. Dia pun menjelaskan kalau kecimol akan jalan seiring dengan kontrak mereka menjadi anggota manajemen secara tetap.

Mereka semua menarik napas lega. Tidak terkecuali Imah yang sejak tadi diam saja. Dia memilih menyimak karena sebenarnya sudah tahu semuanya. Berkat dia juga Rajab berubah pikiran untuk mendukung langkah mereka.

Waktu pun mengantarkan kehidupan ke arah baru. Pengungsian yang semula riuh kini kembali menyisakan bisu. Pun lusuhnya tenda-tenda biru. Di sana hanya tertinggal kenangan-kenangan kehangatan sebuah kebersamaan sepanjang waktu.

Dari teras rumah megah itu, Rama, mamaknya, dan neneknya menatap halaman luas yang menyisakan jejak-jejak tapak kaki. Pun bekas-bekas sampah di sebelah kiri. Tidak terkecuali sisa tali tenda di sana-sini. Semuanya terangkum dalam syukur di hati. Untuk salah satu berkah besar atas bencana yang telah terjadi.

 

***

Tinggalkan Balasan