Sambil menunggu panggilan, saya memperhatikan lingkungan sekitar. Hampir semua kursi tunggu dipenuhi oleh pasien dan pendamping. Saya memilih berdiri karena saya merasa sehat, biarlah kursi untuk mereka yang sakit dan mereka yang sudah berumur. Mereka yang duduk di area ini juga mengalami sakit seputaran THT, tapi saya tidak tahu penyakit apa pastinya. Dilihat dari segi umur, umur mereka pun beragam, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan para manula.
Ketika saya menoleh ke arah lain terlihatlah salah seorang pasien, masih cukup muda, berbaring di dekat istrinya. Fokus saya adalah ketika saya melihat bagaimana istri nya dengan begitu sabar merawat nya. Saya memperhatikan dengan seksama cara dia memberikan cairan seperti susu ke dalam sebuah alat yang lambat laun mengalir ke mulut pasien, ternyata pasien tersebut makan lewat selang yang dipasang dokter.
Ketika suami datang, saya pun menceritakan bahwa ada pasien makan lewat selang, kelihatan nya agak ribet, tapi harus dilakukan, karena kondisi yang membuat dia demikian.
Saya pun mengalihkan penglihatan ke dasar, terlihatlah jalan raya yang selalu padat dengan kendaraan lalu lalang. Saya juga memperhatikan banyak nya mobil yang parkir di halaman rumah sakit. Rumah sakit ini adalah Salah satu rumah sakit besar dan terkenal sehingga banyak pasien yang di rujuk ke sini terutama yang tinggal di wilayah Sumatra.
Suami biasanya memilih duduk di kursi tunggu dekat musholla yang tidak terlalu ramai. Saya pun Masih berdiri di dekat ruang terbuka dimana saya bisa merasakan hembusan angin dan menyaksikan adegan demi adegan di jalan raya.
Akhirnya nama suami pun dipanggil. Saya menjemput suami dan menemani nya masuk menemui dokter yang bertugas hari itu, bukan langsung ketemu asisten dokter atau dokter utama yang menangani suami.
Suami dipersilahkan duduk. Tidak jauh dari tempat suami, berdiri lah beberapa mahasiswa kedokteran yang akan memperhatikan atau mungkin mengerjakan tugas kuliah yang diwajibkan terjun ke lapangan.
Dokter pun mulai bertanya, “Keluhannya apa pak?”
Suami langsung menjawab, “Kepala bagian Kiri nyeri, mata kiri tidak sinkron, pipi kebas, dan susah membuka mulut”
Dokter pun kembali bertanya, “Sudah berapa lama sakit berlangsung?”
Suami memberikan jawaban, “Dalam dua bulan kebelakang” Saya pun menambahkan dan menceritakan semua part yang telah dilewati sang suami.
Dokter pun kembali bertanya, “Apakah bapak kerokok? minum?” Semua dijawab “tidak” Kemudian dokter kembali berkata, “Apakah ada riyawat keluarga?” Suami pun menjawab, “Iya” dan menceritakan riwayat keluarga nya.
Saya kembali bertanya, jadi penyebab utama kanker apa, dokter? Dokter pun menyebutkan beberapa hal yang bisa memicu penyakit ini. Salah satu yang nyangkut dengan sang suami adalah gen dan dipicu oleh hal lain seperti makanan sehari-hari yang dikonsumsi.
Dokter pun meminjam hasil CT-Scan dan Patalogi Anatomi (Hasil Biobsi). Setelah dibaca dan dianalisa, akhirnya beliau berkata, “Ada tiga hal yang harus dilakukan hari ini yaitu, cek darah di Laboratorium, USG, dan cek jantung. Kami diberikan surat pengantar menuju masing-masing ruangan. Sambil menunggu, dokter pun memberi izin kepada salah satu mahasiswa untuk bertanya kepada pasien.
Mahasiswa tersebut dengan gesit memanfaatkan waktu yang ada. Sebelum mulai bertanya, dia izin terlebih dahulu. Setelah mendapat izin barulah dia mengajukan beberapa pertanyaan. Semua pertanyaan bisa dijawab suami dengan lancar.
Ketika dokter menulis, saya pun izin bertanya, “Izin bertanya Dokter, selain kemoterapi dan radioterapi, adakah cara lain untuk penyembuhan sakit suami?”
Dokter pun berkata, “Untuk saat ini, kemoterapidan radioterapi menjadi cara untuk menghentikan penyebaran dan mematikan sel kankernya” Saya pun mendengar dengan seksama penjelasan dokter.
Dokter pun memberikan kesempatan untuk bertanya sebanyak-banyaknya, saya pun menanyakan makanan yang mesti dikonsumsi. Dokter berkata, untuk saat ini tidak ada pantangan makanan. Makan lah sebanyak mungkin untuk persiapan kemoterapi. Beliau hanya berkata hindari makan makanan yang mengandung pengawet, hasil bakar dan mie instant.
Kalau susah makan, maka harus dipaksa. Dokter pun tidak lupa memberi motivasi, bapak harus semangat, bapak harus kuat karena kesembuhan tergantung dari bapak sendiri. Makanan yang Sebaiknya dikonsumsi apa dokter? Minumlah susu yang banyak mengandung nutrisi, sayuran, buahan, serta lauk pauk segar seperti daging, ikan dan sebagai nya. Bapak harus memaksakan diri untuk makan.
Setelah dirasa cukup, sebelum meninggalkan ruangan jangan lupa berkas-berkas dicap dan meminta surat kontrol.
Setelah mengembalikan hasil CT-SCAN dan biobsi, kami izin pamit. Suami langsung meninggalkan ruangan sementara saya mampir di bagian pengesahan berkas. Saya memberikan semua berkas kemudian langsung dicap dan saya pun diberikan surat kontrol.
Setelah selesai, kami pun langsung ke lantai satu menuju laboratorium, saya menoleh kiri-kanan mencari dimana tempat menyerahkan berkas cek darah. Saya pun langsung meletakkan berkas, tidak lama kemudian saya Pun dipanggi dan diberi nomor antrian untuk cek darah.
Saya benar-benar dibuat stress, untuk cek darah saja antrian nya sangat panjang. Suami pun saya suruh menunggu di tempat yang agak sepi.
Entahlah kata apa yang cocok untuk gambaran hari ini. Bagaimana nasib almarhumah adekku dulu, ketika dia berjuang sendiri? Ya Allah SWT, semoga Engkau tempatkan adek Kami di Surga Mu. Lapangkan kubur nya, lipatgandakan segala kebaikan dan maafkan segala kesalahannya. Engkau Sang Pencipta Tuhan Maha Tahu akan segala yang terbaik untuk umat Mu.
Aku tidak boleh down, gara-gara mengingat almarhumah adekku. Aku harus semangat dan kuat. Memang harus banyak bersabar dan menyerahkan semua kepadaNya.
Saking lamanya mengantri, saya pun melangkahkan kaki menuju ruang radiologi untuk melakukan USG. Setelah menunggu cukup lama, menjelang istirahat siang, petugas yang bertugas masih mau melayani kami. Ternyata, untuk USG harus puasa terlebih dahulu sehingga USG dilakukan besok pagi nya.
Alhamdulillah, kami sudah membuat janji untuk USG. Selanjutnya saya berjalan ke arah ruang rawat inap dan menanyakan dimana tempat cek jantung. Petugas pun membaca pengantar yang saya bawa, beliau sempat berkata, ada dua tempat untuk cek jantung, yang pertama di bangunan ketiga dan yang kedua di bawah sana. Kira-kira pengantar ini mau ke ruang mana? Saya pun bingung. Saya hanya bilang disuruh cek jantung. Satpam pun mengarahkan saya, dicoba saja dulu bu, mana tahu benar yang di lantai dua. Dengan semangat tinggi saya pun berjalan ke arah ruang cek jantung.





