Kau Sesalku

Terbaru459 Dilihat

Jari – jariku mengetuk meja di depanku, sudah satu jam berlalu. Untung saja aku tidak ada jam mengajar hari ini. Surat panggilan yang ku layangkan dua hari yang lalu aku pastikan sampai, tapi inilah yang sering terjadi semua bagaikan angin lalu. Lelah, tentu lelah tapi mengalah rasanya tidak, aku sudah berjanji dalam hati ini tanggung jawabku setelah aku berani menentukan pilihan menjadi seorang guru dengan mengambil akta IV karena aku dari jurusan bukan pendidikan.

Imran, bukan siswa yang bodoh tapi karena masalah keuangan keluarga serta orangtua yang tidak peduli dengan pendidikan membuatnya jadi tidak bersemangat untuk sekolah. Sangat  disayangkan siswa dengan segala kelebihannya harus mengalah dengan keadaan. Masih teringat hari pertama aku bertemu dengannya di dalam kelas, dengan suara lantang ia menjawab pertanyaaku

“Ada yang merasa pelajaran ekonomi tidak bermanfaat, jika jawaban yang diberikan bisa diterima nalar maka kita tidak akan belajar hari ini.” Kataku mantap

Aku melihatnya mengacungkan jari, sambil tersenyum aku mempersilakannya menjawab.

“Terlalu banyak teori bu, belum tentu jika dipraktekkan akan berhasil. Contohnya masih banyak yang tidak mau menabung walaupun tahu menabung itu penting.” Dengan suara lantang dia menjawabnya

Aku tersenyum mendengar perkataanya, dan menjawab

“Itu bukan materinya yang bermasalah tapi pelaku ekonominya, itulah yang menjadi inti materi motif ekonomi, setiap orang akan bertindak sesuai dengan yang diinginkannya tentu dengan mempertimbangkan baik dan buruknya.” Jelasku

Semua siswa yang berada dalam kelas mengangguk – anggukkan kepala tapi aku tidak yakin dengan anggukan kepala mereka berbeda dengan Imran yang aku lihat mencerna apa yang aku katakana.

Waktu berjalan, dari setiap pertemuan di dalam kelas aku selalu memperhatikan siswaku yang satu ini, setiap yang aku jelaskan akan selalu menimbulkan pertanyaan kepadanya. Sehingga setiap habis menjelaskan aku selalu memberikan kesempatan kepadanya untuk bertanya.

Tapi sekarang aku seperti kehilangan sesuatu di dalam kelas sudah 2 kali pertemuan Imran tidak masuk, aku sudah mencari tahu dengan walikelasnya Imran ternyata sudah lebih dari 2 minggu Imran tidak masuk sekolah. dan walikelasnya sudah mengirim surat pemanggilan tapi orangtuanya tidak datang.

Setelah 1 jam, aku memutuskan untuk mencari Imran saja. Dari  informasi temanya Imran sekarang bekerja pada sebuah kedai kopi sebagai pelayan. Setelah meminta izin dari sekolah aku melangkahkan kakiku dengan menaiki motor aku menuju tempat Imran bekerja. Pandanganku nanar siswaku sedang membersihkan meja dan mengangkat piring dan gelas bekan pelanggan, dengan cekatan ia mengerjakannya. Hampir saja netra ini mengalirkan airnya, tapi aku tahan. Aku mengambil salah satu kursi yang di pojok, duduk menatapnya mengerjakan tugasnya. Tak lama dia menghampiriku, ada pancaran terkejut di netranya tapi dia tetap menghampiriku dan bertanya apa yang mau aku pesan. Aku tersenyum miris sambil berkata

“Jadi ini alasan Imran tidak kesekolah?”  Tanyaku

“Emak dan Ayah sakit Bu, kami butuh makan. Sebagai anak tertua tidak mungkin saya hanya berpangku tangan. Disini gajinya perhari, tapi Imran selalu mengingat pesan Ibu untuk selalu menabung walaupun pendapatan Imran tidak besar. Insyaallah, besok lusa Imran akan datang kesekolah untuk mengambil surat pindah ke paket C.” katanya miris dengan senyum yang dipaksakan.

Akhirnya airmata ini membasahi netraku, aku tidak bisa berkata – kata lagi. bagaimana anak yang belum dewasa ini bisa berpikiran seperti itu. Aku juga tidak bisa memberikan solusi, jika hanya uang komite yang menjadi masalah mungkin aku masih bisa membantu tapi jika sudah masuk masalah keluarga mungkin lain lagi ceritanya.

“Ibu pesan apa?” tanyanya lagi kepadaku

Aku hanya mengeleng dan memberikan uang yang tidak seberapa kepadanya sambil berkata

“Doa terbaik ibu untuk Imran, berusahalah yang terbaik. Jika ada masalah pelajaran setelah nanti di paket C, Imran bisa datang menemui Ibu.” Sambil menepuk pelan bahunya aku berlalu, tapi pancaran Netra Imran membuatku menangis di dalam hati ternyata masih banyak siswa – siswa yang karena keadaan ekonomi keluarga harus putus sekolah. Tapi semangat Imran membuatku yakin suatu saat nanti dia akan sukses hanya doa yang bisa aku panjatkan semoga Imran sukses kelak.***

 

 

 

Tinggalkan Balasan