Segalanya Karena Cinta-Nya

Terbaru601 Dilihat

Memandang langit, masih ada awan hitam yang membayanginya. Aku menghela napas, sampai berapa hari hujan akan turun, semua pakaian dijemuran sudah aku angkat, sudah beberapa kali aku memindahkan jemuran dari luar ke dalam rumah. Anak – anak pada mengeluh karena stock baju mereka sudah menipis.

“Bang pengering mesin cuci rusak.” Aku merengek kepada suamiku sambil mengelus legannya mencoba merayunya untuk membeli mesin cuci baru.

“Masih bisa dipakaikan mesin cucinya?” suara berat dengan beban terdengar di teligaku.

Apa dayaku, jika musim hujan mesin cuci tua ini sungguh merepotkan, tapi aku tahu pasti dana untuk menganti dengan mesin cuci baru, entahlah.

Suara rintik hujan sudah mulai menebal, aku melangkah dari tempat dudukku, meninggalkan suamiku sendirian di kamar, tujuanku ke dapur, melihat apakah hujan yang semakin lebat akan meninggalkan airnya di dapurku yang memerlukan perbaikan. Napas berat melihat air hujan ternyata sudah menetes dan membuat genangan di bawahnya. Cepat aku melangkah ke kamar mandi mengambil ember untuk menjadi penampungan air yang tanpa permisi masuk ke rumah.

***

“Syah masih panas Han.” Terkejut aku karena sentuhan dari suamiku

“Sudah agak berkurang Bang.” Sambil memandang lemah kea rah anakku.

Sudah beberapa hari ini, si Kecil terbaring lemah. Efek hujan yang dua minggu membasahi bumi. Bukan hanya baju yang susah kering, demam anakku menjadi – jadi setelah minggu kemaren si Abang yang demam. Aku sungguh pusing dibuatnya.

“Pergilah istirahat, Abang menjaga Syah.”

“Abang baru pulang kerja, tidak penat.” Netraku menetap lekat ke arah suamiku yang sungguh terlihat jelas kepenatan di wajahnya.

“Pergilah, abang akan sambil istirahat menjaga Syah.” Sekali lagi aku di usir suamiku.

Bagaimana ceritanya menjaga sambil beristirahat, batinku. Tapi aku tidak mau mengecewakan suamiku yang sudah beritikat baik untuk menggantikan aku menjaga buah hati kami.

“Hana buatkan kopi.” Aku berlalu setelah mengatakan itu.

Dapur adalah tujuanku untuk membuatkan kopi suami, netraku membulat memandang toples kopi yang kosong melompong. Ku goyang – goyang toplesnya tetap tidak ada isinya, dadaku bagaikan tertusuk godam besar bukan hanya kopi ternyata gulapun turut sirna dari dapur kecilku. Satu persatu tetes air mata mengalir di pipi yang sudah dua hari ini tidak tersentuk sabun pencuci muka akibat sudah habis seminggu yang lalu, terpaksa aku mencuci muka dengan sabun badan saja. hembusan napas berat terdegar dari mulutku, jika sudah begini kemana aku harus mengadu. “Ya Allah tolonglah hambamu ini.” Batinku merintih.

Tok tok tok ketukan terdengar dari pintu depan rumahku, melangkah lemah, bertanya dalam hati siapa gerakan yang datang bertandang di malam dingin ini.

“Waalaikumsallam.” Menjawab salam dari luar rumah

Ku tekan gagang pintu, terpampang sepasang manusia yang sudah berumur. Mungkin seumuran Ayah dan Ibuku yang telah meninggal dunia.

“Mencari siapa Pak/Bu.” Ucapku

“Ada Nak Farhan?” Ucap si Bapak dengan suara beratnya.

“Ada Pak, mari masuk Pak/Bu.”

Beriringan kami masuk, setelah mempersilakan tamuku duduk aku berlalu menuju kamar si kecil dimana Suamiku berada.

“Bang ada yang mencari.” Suaraku menganggu lelap suamiku yang terbaring di samping anak kami.

“Siapa?” sambil mengucek mata akibat terbangun mendengar suaraku.

“Tidak tahu, sepasang suami istri sepertinya.” Ucapku

“Abang ke depan saja, biar Hana yang menjaga.” Ucapku

***

Sudah satu jam tamu belum juga pulang, mataku sudah mulai mengantuk. Siang bergadang demi si buah hati, sudah lewat pukul Sembilan malam tapi tamu belum juga pulang. Apa yang disungguhkan suamiku kepada tamu mengingat tidak ada apa – apa di dapur tadi.

Penat membuat aku terlelap, sentuhan di pipiku membuyarkan kantuk karena dingin tangan yang menyentuhku. Netraku terbuka, sosok suamiku dengan senyum mengembang membuatku penasaran.

“Abang ad…” Belum selesai ucapanku

“Alhamdulillah.” Hampir saja aku terjatuh, tiba – tiba saja suamiku memelukku dan terus mengucapkan Alhamdulillah. Amplop coklat membuatku tercegang, mulutku mengangga lebar. “Alhamdulillah, rezeki dari mana Bang.”

“Abang lupa cerita, seminggu yang lalu, ingat ketika Abang pulang terlambat. Abang membantu Bapak/Ibu tamu kita tadi dari para jambret, si Ibu sempat shock dan dirawat di rumah sakit. Setelah membantu Bapak/Ibu tadi, sempat si Bapak menanyakan alamat Abang. Setelah memberikan keterangan kepada Polisi Abang pulang. Ini rezeki dari mereka karena merasa Abang sudah menolong kita.” Akhir cerita suamiku.

Kami memandang amplop coklat dengan berdebar, dengan tangan bergetar aku membuka amplop yang diberikan suamiku. sambil membaca bismillah aku membuka amplop.

“Allauakbar.” Ucapku spontan setelah melihat isi amplop

“Sepuluh juta Bang.” Jeritku tertahan dengan mata yang berair karena terharu

“Alhamdulillah.” Ucap suamiku tidak mau kalah.

Kami saling berpandang, suamiku meraih badanku kami berpelukan tak lepas mulut kami mengucapkan syukur atas nikmat Allah ini.

“Tadi tamu di suguhi apa Bang.”

“Hanya air putih yang ada di belakang.” Ucap suamiku

“Ya Allah Bang hanya air putih yang bisa kita berikan pada tamu yang sudah berbaik hati dan memberikan kita rezeki.”

“Itu yang ada, kita tidak perlu malu dengan keadaan kita Hana.” Ucapan suamiku membuat ku malu.

“Maafkan aku Ya Allah karena malu dengan keadaan kami.” Batinku

“Kita bawa Syah ke rumah sakit ya.”

***

Matahari pagi sudah terang benderang, aku mencuci dan mengeringkan baju dengan mesin bekas tapi masih berfungsi baik. Panas menusuk pucuk kepalaku, walaupun panas belum tentu hujan tidak turun. Tapi aku tidak perlu takut lagi bajuku tidak kering. Rezeki dari tamu kemaren lusa sudah sangat membantu kami sekeluarga, kondisi anakku sudah membaik. Lubang kecil di atap dapurpun sudah di tambal. Aku memandang langit sambil mengucapkan syukur segalanya karena cinta-Nya kepada kami, nikmat apa lagi yang mau kau dustakan. Aku mengingat sepengal kalimat itu dengan senyum dan setetes airmata di sudut netraku yang siap meluncur.***

 

 

Tinggalkan Balasan