Kicauan burung camar terdengar di pagi hari menambah suasana bertambah hangat. Budiyono mengambil sepeda dan mengoeskannya dengan santai dan menikmati udara pagi yang sejuk. Disebuah taman dia berhenti dan menyandarkan sepedanya ke pagar taman. Lalu menuju lapangan olah raga taman sambil belari-lari kecil. Matanya memandang bunga-bunga yang indah, dilihatnya seorang gadis cantik jelita bagaikan bidadari turun dari kayangan. Denyut jantungnya berdebar-debar ketika melihat seorang gadis yang memasuki kedai taman.Siapakah gadis itu begitu cantiknya dikau.Pikiran Budiyono berkecambuk dalam hatinya terus sambil memkirkan gadis yang masuk kedai. Budiyono langsung masuk kedai dan memesan secangkir kopi untuk mengetahui gadis yang dilihatnya. Secangkir kopi dibawanya olehseorang gadis, ternyata gadis tersebut Elsa teman SMA nya dulu yang pernah Budiyono senangi. Seminggu kemudian mereka bertemu di sebuah taman dan melepas rindu yang terpendam selama bertahun-tahun. Canda tawa mereka pecah ditengah taman yang sejuk ketika mengingat masa lalu di SMA. Dibawah pohon rindang ini menjadi tempat pavorit teman teman SMA Budiyono dan Elsa untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Tiba-tiba Budiyono mengeluarkan sebuah cincin permata untuk melamar Elsa di tengah taman. Elsa terkejut matanya terbelalak melihat cincin yang dipasang dijarinya.Rasa senang bekecambuk gembira Elsa menangis haru di hadapan Budiyono. Secangkir kopi membawa kami ke pelaminan, trimakasih Mas Budiyono , kau telah memilihku untuk pendamping hiduprumah tangga.






