
Direktur Utama Penitipan Sendal
Titip
Pak Sugeng kini punya jabatan baru. Purnawirawan Polri ini didapuk menjadi Direktur. Bukan sembarang Direktur , tetapi Pak Sugeng di aklamasi menjadi Boss Penitipan Sendal. Ini dia fasilitas baru di Masjid Jami’ An Nur yang berdiri sejak tahun 1962. Selama ini Khadimullah Masjid menganggap semua orang yang datang ke masjid punya tujuan baik. Namun akhir akhir ini diterima laporan dari jamaah ada yang kehilangan barang bawaan.
Poisisi strategis masjid yang terletak di KM 20 Jalan Raya Bogor Jakarta Timur memang merupakan tempat paling nyaman untuk transit. Menara Masjid setinggi 33 meter terlihat dari jauh sehingga para musafir dengan leluasa bisa singgah. Apalagi dihalaman depan dan belakang masjid tersedia tempat parkir luas. Itulah sebabnya ketika shalat maghrib banyak jamaah yang mampir sebelum melanjutkan perjalanan menuju kediaman.
Laporan kehilangan sepatu, tas, sandal dan barang berharga lain membuat khadimul berpikir keras bagaimana cara agar maling ini bisa ditangkap. Memang ada monitor CCTV namun alat canggih ini hanya bisa membantu setelah terjadi peristiwa. Walaupun sudah acap di umumkan kepada jamaah musafir agar menjaga barang bawaan masing masing tetap saja terjadi kehilangan. Bisa jadi karena terburu buru maka barang bawaan diletakkan begitu saja.
Fasilitas Baru
Memang kalau ada niat di tambah kesempatan maka criminal terjadi. Maling spesialis masjid memang licik, menunggu jamaah lengah dengan kecepatan luar biasa mereka telah berlari pergi mengondol barang curian. Ya ketika jamaah sedang khusyu shalat, Astaqfirrulah maling beraksi, Selaku Khadimul kami meminta maaf kepada jamaah, apa hendak dikata barang sudah ghaib.
Akhirnya berdasarkan usulan beberapa jamaah terutama kaum ibu maka di putuskan menyediakan fasilitas penitipan barang. Kotak sepatu sebenarnya sudah lama tersedia, namun lemari ini tidak berfungsi karena tidak ada yang menjaga. Kemudian di sepakati lokasi penitipan sepatu, sandal, tas dan lain lain di tempatkan di depan tempat wudhu. Maka dipasanglah meja dan kursi untuk pejabat yang diberi tanggung jawab menerima barang titipan.
Pak Sugeng bersedia menjadi jamaah yang setia mejaga fasilitas penitipan. Guna melengkapi dan memudahkan pekerjaan maka di buatkan nomor ganda sebagai bukti penitipan. Dipasang pula spanduk besar di bawah meja kerja Pak Sugeng. Disisi kanan dan kiri kantor terdapat lemari terbuka guna meletakkan barang titipan. Kemudian diatas meja diletakkan kotak amal. Memang penitipan barang gratis namun apabila ada jamaah infag maka sumbangan bisa langsung di masukkan ke kotak amal.
Alhamdulillah dengan kahadiran tempat penitipan barang maka secara otomatis kesempatan maling bisa di eliminir. Apalagi posisi kedudukan Pak Sungeng sangat bagus di tinjau dari perluasan (viewer) pemandangan. Dari arah muka dan belakang masjid tempat penitipan barang ini terlihat. Jadi para oknum yang berniat melakukan aksi menjadi keder karena ada seorang penjaga permanent disana.
Disamping itu Pak Sugeng tetap berada di posisi ketika jamaah sedang menegakkan sholat. Inilah kesempatan emas maling yang hilang untuk melakukan aksi. Pasti ketahuan aksi maling kata Pak Sugeng biasanya si maling clingak clinguk memperlajari situasi sebelum beraksi. Sudah pastilah orang jahat ini tidak menegakkan sholat mereka memang niat maling di Rumah Suci. Astaqfiruullah.
Aman
Kerelaan menunda shalat berjamaah menjadi ladang pahala tersendiri. Syariat ini juga pernah terjadi ketika Rasullah memimpin perang di medan laga. Sewaktu sebagian umat menegakkan shalat maka ada beberapa asykar yang di tugaskan menjaga. Secara bergantian shalat di tegakkan agar situasi dan kondisi rawan bisa terkendali.
Ternyata fungsi penitipan barang ini menjadi ganda atau malah tripel. Fungsi lainnya secara tak sengaja ketika Pak Sugeng mengusulkan agar di beri tugas tambahan men distribusi kan Almanak 2017. Boleh juga inisiatif purnawirawan Polri berusia 66 tahun. Jadilah di di belakang meja kerja di letakkan contoh kalender. Ditambah pula dengan tulisan Infaq Almanak 2017 Rp.10.000, Alhamdulillah Kalender 212 Aksi Bela Islam III laris manis.
Secara tidak langsung Pak Sugeng berfungsi pula sebagai Satpam. Betapa tidak bersama jamaah lainnya pos penitipan menjadi tempat ngobrol, Secara tidak langsung di Masjid selalu ada warga yang berjaga. Bukan soal kebetulan Pak Sugeng bertempat tinggal hanya 30 langkah dari Masjid Jami An Nur, namun tekadnya untuk mengabdi di Baitullah sungguh sangat luar biasa. Keberadaan penjaga masjid paling tidak membuat oknum maling mengurungkan niat jahat.
Makmur
Sejak di resmikan fasilitas penitipan nbarang di akhir tahun 2016, Insha Allah laporan kehilangan menurun bahkan tidak ada sama sekali. Masjid Jami An Nur dengan motto Shakat Fardhu Seramai Sholat Jum’at berupaya meng optimalkan diri sebagai masjid yang makmur. Salah satu syarat memakmurkan Masjid adalah kenyaman, keamanan, kebersihan dan kesejukan suasana dan fasilitas penitipan barang menjadi pelengkap penunjang.
Awak jadi teringat ketika kami bersama jamaah menuju kawasan Monas guna ikut hadir melaksanakan Sholat Jum’at di hari yang sangat fenomenal yaitu 212. Pak Sugeng seolah mengawal Ketua Masjid. “ Pak Haji jangan jauh jauh dari saya” Wah boleh juga nih punya ajudan seorang mantan polisi kawakan. Dokumentasi kami berbasah basah di Monas ketika hujan turun deras pada Sholat Jumat menjadi saksi abadi di Buku awak ke -10 bertajuk Bukan Hoax.
Selamat bertugas Bapak Direktur, Inilah amanah murni menjaga barang barang titipan, barang yang sangat berharga bagi pemiliknya. Jamaahpun merasa nyaman ketika merasa barang titipannya aman. Sholat bisa khusyu. Demikianlah tambahan satu lagi fungsi Masjid. Semoga segala upaya kita memakmurkan tempat ibadah di muka bumi ini mendapat redha Allah SWT. Amin Ya Rabbal Alamin
Salamsalaman
TD







