Bangkitlah Anakku Hari Telah Senja (Hari ke-2)

Terbaru966 Dilihat

2.​​​​DI TITIK INILAH PERUBAHAN ITU TERJADI

Namaku Halimatus Sa’diyah (ibu Lim), seorang ibu dari 4 orang anak yang semua laki-laki. Anak laki-laki terkecil bernama Kahfi Al Farizi yang kala itu berusia 15 tahun dan akanmenghadapi ujian akhir SMP seminggu lagi. Ketika kami tinggal di wilayah Depok.

Biasanya Kahfi jam 2an sudah pulang sekolah, karena sekolahnya tidak jauh dari rumah (sekitar 1-2 km). Namun ketika aku sudah pulang kerja sudah lewat pukul 4.00 dia belum pulang. Memang belakangan ini sering terlambat pulang karena ikut temannya yang bernama Umar belajar mengaji, katanya. Belum sempat kujajaki dimana tempat mereka belajar mengaji dan belum sempat kukenal yang mana teman bernama Umar tersebut. Yang jelas mendengar aktivitas mengaji tentu saja aku senang. Alhamdulillah.. daripada dia pulang langsung buka play station dan main sendirian. Meskipun sebenarnya Kahfi sudah belajar mengaji 5x seminggu di TPA komplek kami. Kupikir mungkin Kahfi merasa perlu ada tambahan pelajaran agama bersama teman-teman sekolahnya.

Aku bersama suami segera bawa mobil ke sekolahan Kahfi. Untung kantor masih buka dan ada pegawai bagian Tata Usaha. Dia mengatakan tidak ada aktivitas sekolah di luar jam belajar hari ini, anak-anak sudah pada pulang tepat waktu. Tentang Umar, setelah menelpon wali kelasnya mengatakan memang belakangan Kahfi akrab dengan Umar teman sekelasnya. Setelah dapat alamat rumah orang tua Umar aku pergi mencarinya yang ternyata agak jauh jalan kaki masuk di perkampungan. Orang tuanya tinggal di sebuah rumah petak yang sangat sederhana dekat tempat pembuangan sampah. Umar ternyata ada di rumah. Badannya sangat kurus, berkulit gelap dan matanya agak cekung, memandang kami dengan wajah ragu cenderung takut. Penampilan Umar ini sangat kontras atau berbeda dengan Kahfi. Aku agak heran mengapa Kahfi bisa berteman akrab (kata wali kelasnya) dengan Umar.

Muhammad Kahfi anakku yang bungsu sejak kecil geraknya lincah, periang, pintar main basket, pintar bicara, pintar bergaul membawa diri, tidak takut dengan siapapun, bertubuh atletis, berkulit putih dan hidung mancung dengan mata yang tajam. Di kelasnya dia selalu di posisi 5 besar. Di pelajaran ekskulnya pernah menjadi juara dokter kecil, juara azan (muazim), juara renang. Dia adalah salah satu harapanku, meski tidak selalu juara 1 atau 2 di kelas seperti kakak-kakaknya tapi fleksibilitasnya dalam bergaul itu sangat menyenangkan hatiku.

Dengan setengah dipaksa kami ajak Umar ke tempat mereka sering mengaji. Karena setelah kudesak-desak kata Umar mungkin Kahfi masih di kos an guru ngaji mereka. Hari sudah malam, namun aku tak peduli dengan waktu sampai kutemukan anakku. Kamar kos an guru ngaji tersebut ada di gang suatu RT yang sebetulnya tidak begitu jauh dari rumahku. Mobil ditarok di depan gang karena tidak bisa masuk. Kamar tersebut kosong, kuintip dari sela-sela hordeng yang kumal, ruangan yang kosong hanya ada satu tikar kumal dan satu bantalkumal, juga ada 2 buah al Quran yang sudah lapuk terletak di pojok ruangan. Hatiku berdetak. Ini guru ngaji apa ya? Lama kuketuk-ketuk pintunya tidak ada yang menyahut, akhirnya aku melapor ke ketua RT. Ketua RT mengatakan guru ngaji tersebut baru sekitar 2 minggu menempati kamar tersebut. Nama dan nomor telpon ustadz guru ngaji tersebut diberikan kepadaku tapi copi KTP belum ada, belum diserahkan ke Ketua RT. Berkali-kali kutelpon-telpon tidak diangkat oleh si ustadz. Akhirnya diangkat juga telpon oleh si ustadz, segera kuberondong dengan pertanyaan, dia mengatakan bahwa Kahfi sekarang ada bersama dia di masjid Kuningan karena tadi Kahfi mau ikut dia katanya, lalu telpon diputuskannya. Kutelpon-telpon lagi tidak diangkatnya. Setelah 3 jam menunggu depan kamar kos dalam keadaan kebingungan, telpon sana sini belum ada titik terang kemana harus mencari. Oh iya lupa kuceritakan bahwa kejadian ini berlangsung pada tahun 2001 belum ada telpon canggih yang bisa macam-macam seperti sekarang ini. Kita punya telpon merek Nokia yang bisa dibawa kemana-mana itu sudah tergolong canggih/modern. Ketua RT dan orang-orang sekitar menganjurkan agar kami melapor ke Polsek.

Setelah melapor ke polsek, polisi mengatakan agar ibu tenang saja dan tunggu saja istirahat di rumah nanti ibu sakit, mereka akan berusaha mencarinya. Suami mengajakku pulang istirahat. Tapi.. Yaaah… bagaimana aku bisa tenang? Istirahat? Sementara anakku tidak kuketahui keberadaannya. Masjid Kuningan??… masjid yang mana?.. Akhirnya meski sudah lewat tengah malam kuajak suami ke Jakarta, ke wilayah Kuningansekitar Jalan HR. Rasuna Said. Sampai suara azan Subuh terdengar kami masih mutar-mutar mencari, berjalan kaki, bertemu dan mengintip 3-4 buah masjid di Kuningan yang tentu saja kondisinya kosong, gelap. Akhirnya setelah berapa kali berbantahan dengan suami yang mengajak pulang, kamipunpulang ketika hari mulai terang, matahari sudah memenuhi janjinya untuk terbit. Sementara kami pulang dengan tangan hampa dan kondisi tubuh sangat lelah dan sempoyongan. Akulah yang paling lelah karena menyetir sendiri, suami tidak bisa menyetir.

Tidak tahu berapa jam aku di rumah dalam kondisi pikiran yang tidak menentu, makan minum tak bisa masuk meski sudah dibujuk dan dihibur oleh keluarga dan tetangga yang datang. Telpon sana sini tanpa hasil. Ingin pergi mencari tidak tahu arah kemana. Usaha apa lagi…? Usaha melalui orang-orang pintar untuk mengembalikan yang hilang sudah dipanggil, dilakukanseharian ini, meskipun aku sendiri kurang yakin dengan cara-cara itu. Malampun berganti, penantian tiada hasil, kegalauan makin menjadi-jadi yang berganti dengan rasa pasrah, menyerah, putus asa, sedih, marah, kesal, sakit, pusing, cemas, takut, berharap, doa, zikir dan sebagainya. Pintu pagar dan pintu rumah kuminta selalu terbuka, tidak boleh ditutup atau dikunci, mana tahu dia tiba-tiba datang.. Akhirnya…

Sekitar pk 9.30 malam aku merasa dan sayup mendengar seperti ada yang diam-diam masuk lewat pagar, masuk pintu, dan tapak-tapak naik tangga. Aku tersentak bangun dari pembaringan. Berlari naik tangga ke kamar atas,  kamar anakku. Benar…! dia ada di dalam memakai baju koko warna putih kumal dan lusuh. Entah baju siapa itu, entah dimana baju sekolahnya. Kupanggil namanya dan kupeluk dirinya dengan rasa haru biru, namun pelukanku kurasa tanpa respon seperti biasanya. Kupandangi matanya dan kubacakan ayat atau zikir apa saja yang bisa kusebut. Namun matanya yang sangat letih dialihkannya ke arah lain. Dia berbaring dan badannya diputar membelakangiku. Ya Allah… apa yang terjadi. Kutahan air mataku, jangan sampai air mata ini membuat dia pergi. Aku patut bersyukur, Alhamdulillah.. apapun yang telah terjadi, dia sudah disini, sudah kembali. Kuterima anakku apa adanya…

Tinggalkan Balasan