
Batang keladi dan batang talas,
Bibitnya dibeli dari madura,
Terima kasih telah membalas,
Semoga rizkinya tak terkira.
Berteman si dara menuju pekan,
Langkah bersantun bersama putera,
Semangat membara kita marakkan,
Arena berpantun indah bicara.
Ketupat palas jamahan menteri,
Meneguk kopi berteman si dara,
Ungkapan balas salam diberi,
Mengusik hati bermadah bicara.
Pohon perkasa sangatlah indah,
Dijual laku bernilai sempurna;
Indah bahasa bersulam madah,
Maya terpaku bahana wacana.
Di akhir pekan membeli ikan,
Ikan dibeli dekat orang jual pandan,
Kalau berpantun sudah dibiasakan,
Sopan dan santun menjadi komandan.
Mentari hadir kabut bergetar,
Embun tersumbat mobil di jalan,
Bapak Kadir sangatlah pintar,
Pantunnya hebat menjebak kumpulan.
Patung Kencana kiriman dewata,
Buat Kirana walang melarat,
Untaian wacana dikarang pendeta,
Sarat bermakna penuh tersirat.
Anak pangeran pergi berburu,
Hilangkan jemu berteman puteri,
Kutilik tafsiran awanan biru,
Norliza namamu empunya diri.
Pinanglah jamah bersama gambir,
Sirihlah tambah kesukaan nenda,
Kata indah meniti di bibir,
Moga bercambah ilmu di dada.
Baju berenda butang berumah,
Kainnya kasa penghias busana,
Bertarung minda mencetus karamah,
Membingkas rasa memancar pawana.
Pasang pelita di malam hari,
Di balik papan terbiasnya bayang,
Buat seketika mengundur diri,
Menyaji sarapan insan tersayang.
Berbuah lebat durian di para,
Menampi sagu buatlah serawa,
Sungguh hebat pemantun berbicara,
Terasa ragu di dalam jiwa.
Kabut bergetar ketika makan,
Makannya enak semua beli,
Kalau begitu puan katakan,
Terima kasih hamba ucapkan kembali.
Berlayar nahkoda bersama kelasi,
Kekasih menanti di alam buana,
Pantun kekanda menjadi inspirasi,
Menyinar hati menghilang sirna.
Cahaya berserakan menghias beranda,
Bersama harapan memaju watan,
Benar tilikan wahai biduanda,
Kuhadiahi kerlipan bintang selatan.








