
Tentu kalian penasaran cerpenku seperti apa sih yang membuat seseorang menitipkan salam tosss untuk lelaki berambut panjang saat ulang tahunnya?
Sebenarnya cerpenku ini biasa saja. Hanya mengisahkan perjalanan persahabatanku yang kini sudah terjalin selama tiga tahun lebih. Cerpen ini sudah kupublikasikan di Kompasiana dengan judul “Sebuah Perjalanan Persaudaraan dengan Mas Rizal.”
***
Sebuah Perjalanan Persaudaraan dengan Mas Rizal
“Sementara 3 link itu,” tulisku di awal sok kenal denganmu. Mas Rizal pasti ingat (tapi entah kalau lupa hahah), itu chat pertama saat kita ikut proyek penyusunan Puisi Berbalas.
“Waduh! Yang Bang Rifan? Berat, euy…” balasmu kemudian.
Beberapa jam kemudian.
“Itu balasan mencintai ingin paling ceruk, Mbak. Ga tau, bakal biru atau gak. Susah memaknainya.”
Kalau mas Rizal saja kesulitan memahami puisinya mas Rifan, apalagi aku. Heheh. By the way, mas Rifan sekarang jarang muncul ya, mas. Terakhir aku menghubungi beliau dan menanyakan cerpen Mang Baweh.
Cerpen Mang Baweh yang dibuat secara keroyokan di WAG PPB memang dimandhegani mas Rifan.
“Mang Baweh lagi runyam,” kira-kira begitulah kabar dari mas Rifan.
***
“Mbak, kita buat buku bareng yuk!” Ajak mbak Niek lewat chat pribadi.
“Buku apa, mbak? Aku nggak punya gambaran,” balasku.
“Tenang, aku sudah konsultasi sama om Rizal.”
Lalu dikirimkannya screenshot chat mbak Niek denganmu. Di sana sudah tertera konsep yang mas Rizal buat.
“Trus, langkah kita sekarang kita cari tulisan yang sesuai konsep dari om Zal, mbak.”
“Oke!”
“Eh mbak, ingat mbak Lina yang pluker dari GK nggak?”
“Iya. Ingat. Wong aku sering chat sama mbak Lina.”
“Kita ajak sekalian ya, mbak!”
“Sippp…”
Seiring berjalannya waktu, akhirnya untuk mempermudah dan melancarkan proyek penyusunan buku, kubuatlah WAG Diskusi Parenting. Lalu mas Rizal kumasukkan ke grup juga.
Kita sering diskusi bagaimana untuk menyusun buku. Sementara deadline semakin dekat. Tetapi yang belum ditemukan itu siapa yang membuat Kata Pengantar.
“Mungkin mas Rizal sekalian saja, mbak. Biar lancar,” usulku.
Dalam perjalanannya, ternyata mas Rizal tak semudah itu kami minta Kata Pengantar. Ada saja perdebatan. Adu argumentasi. Begitu juga saat proses pembuatan cover buku yang dibantu mas Elang.
Mas Rizal tak mau kalau namanya ditulis di sampul depan buku. Para emak sudah sepakat dan sampul buku sudah siap. Eh tiba-tiba mas Rizal mengubah, nama mas Rizal tak ada lagi di sampul depan. Mas Elang sampai bingung. Katanya, “yang sini minta gini, Uda Rizal minta gini. Sampai bingung.”
Alhasil tiga emak ngalah demi lancarnya proses cetak buku. Naskah sudah ditunggu mbak Anis.
Kerjasama dengan mas Rizal memang melelahkan. Namun aku nggak kapok minta tolong. Aku berencana mencetak buku cernak. Buku itu mau kubagikan ke sekolah di bawah Yayasan di GK.
Lagi-lagi mas Rizal nggak mau.
“Kenapa musti aku sih, mbak. Aku sulit menjelaskannya,” balasmu.
Akhirnya naskah cernak itu kumintakan Kata Pengantar dari Ketua PDM GK.
“Pasti lega kan, mas? Nggak ada tanggungan lagi…” chatku saat mengabarkan kalau Ketua PDM bersedia menuliskan Kata Pengantar.
“Nggaaaakkkk. Aku masih punya utang!”
Sakarepmu mas Rizal, batinku. Hahahah…
Yang jelas sekarang Kata Pengantar sudah siap dan rapi.
“Aku dikirimi satu ya, mbak…”
Aku iyakan saja permintaan mas Rizal. Padahal kalau diminta alamat saja pelitnya minta ampuuuunnn. Hihihiii…
Terakhir mas Rizal memberi masukan saat aku tergugah untuk menuliskan sejarah sekolah tempat kerjaku. Sekolah yang melahirkan banyak orang sukses.
Aku tahu kalau urusan seperti ini mas Rizal paham arahnya. Soalnya aku cuma punya rencana. Konsep masih kabur.
***
“Selamat bulan lahir!” Ucapku di chat grup KPB. Lupa chat kapan itu. Aku bisa ingat karena bulan dan tahun lahir mas Rizal sama dengan mbak Ika, mbakku yang kedua.
Yang jelas, meski aku sering kesal dan juga bikin kesal mas Rizal, tanggal 20 Oktober ini aku mengucapkan selamat bertambah usia. Salam buat Khair Bersaudara. Semoga diberikan keberkahan dari Allah.
Salam dari bumi Handayani.
20 Oktober 2021
***
Yaa … itulah cerpenku. Yang kubuat secara mendadak di hari lahir mas Rizal. Ah iya, mas Rizal belum tahu kalau proyek penyusunan buku sejarah sekolah lamaku akhirnya mangkrak. Aku keburu pindah tempat kerja. Hiks … .
Branjang, 17 Juli 2022








