Celoteh Nyakbaye, Cerpen “Senyum Itu (2)”

Cerpen, Fiksiana, KMAB421 Dilihat

Senyum selalu mengiringi pertemuan kami, seperti hari ini dirinya tersenyum melihat aku sudah duduk manis walaupun aku merasa ada duri di atas kursi yang aku sedang duduki.

“Rindu, bukankan kita baru saja bertemu dua hari yang lalu.” Ucap Bang Awal sambil menebar racun dari senyumnya.

Aku berharap setelah pertemuan kami tiga hari yang lalu, yang membuat aku tanpa sengaja melihat chat di handphonenya dapat menahan emosi sehingga kami tidak perlu bertegang otot saling mencari pembenaran atas kesalahan yang entah siapa yang menjadi punca kesalahan hubungan kami ini.

Aku membuang muka, tidak sudi melihat senyum palsu yang membuatku luka saat ini, menetralkan degupan jantung yang berpacu keras karena emosi yang aku tahan selama tiga hari, tapi aku sudah tidak sanggup menahannya lagi.

“Bang, siapa Intan?” ucapku lirih setelah berhasil menetralkan emosiku

Pias, aku melihat ada keterkejutan dari wajah Bang Awal mendengarkan pertanyaanku, tapi hanya seketika setelah itu seperti biasa dirinya melempar senyum kepadaku.

“Mantan istri Abang, kami punya anak karena itu abang selalu menjenguk anak Abang, bukan menjenguk mantan istri. Jadi mukanya jangan menyeramkan seperti itu Anis” Santai dirinya menjawab pertanyaanku.

“Kenapa tidak pernah cerita?” kesalku sampai nada suaraku naik satu oktap

“Bukankan Abah sudah bercerita kepada Anis” terlihat jelas keterkejutan diwajahnya.

“Abah.” Lirih suara, menyebut nama Abah. Mengapa Abah menyembunyikan hal sepenting ini dariku, batinku tak terima.

Masih saja tersenyum, tidak tahukan Bang Awal aku tersiksa dengan senyumnya itu.

“Kenapa mau mundur, tidak mau menikah dengan duda beranak satu.” Muak aku mendengar suaranya, tapi aku terpesona dengan senyum yang disajikannya saat ini.

“Jangan takut Abang selingkuh, Abang yang diselingkuhi mantan Abang. Abang hampir lupa bagaimana cara tersenyum, sampai Anis mengatakan menyukai Abang karena senyum Abang. Sejak saat itu abang belajar untuk tersenyum, walaupun sampai saat ini senyum yang Abang sajikan masih terlihat kaku, tapi Abang belajar tersenyum hanya untuk Anis.” Pernyataannya yang panjang lebar, menerbitkan senyum di bibirku ada rasa bangga di dada, entah kemana perginya emosiku karena merasa dibohongi Bang Awal karena chat yang aku baca tiga hari yang lalu.

“Kami berpisah sudah lebih dua tahun, untung Abang bertemu dengan Abah jika tidak entah apa jadinya diri Abang, Abah menawarka permata hatinya untuk menjadi senyum Abang. Benar mantan Abang mau rujuk dengan alasan anak, tapi Abang tidak mau kehilangan senyum yang baru saja abang dapat setelah dirinya melukai harga diri Abang sebagai lelaki. Bukan karena miskin tapi karena Abang kurang perhatian dirinya mendua, padahal Abang banting tulang bekerja hanya untuk membahagiakan keluarga kecil kami.” Lagi – lagi aku hanya mampu mendengarkan ceritanya tanpa menyela.

Akhir senyum malu terpaksa aku keluarkan karena ternyata, akulah yang menyebabkan dirinya bisa tersenyum. Semoga senyum kami selalu menghiasi pernikahan kami nanti, doaku dalam hati sambil memberikan senyum termanis untuk Abang Awal yang mengodakanku dengan senyum  genitnya.***

 

 

 

Tinggalkan Balasan