MESKIPUN surat penunjukan Jamel sebagai pimpinan di SMA Moro barulah sebatas Pejabat Kepala Sekolah, bukan Kepala Sekolah Defenitif namun Jamel serius melaksanakan perintah tugas dari surat itu. Pananda tangan SK itu juga bukan Kepala Kanwil, tapi hanya Kormin (Koordinator Administrasi) Kanwil Depdikbud Provinsi Riau, Jamel menilai itu sama pentingnya. Dia tahu, nanti saatnya akan mendapatkan SK Menteri Depdikbud sebagai penunjukannya menjadi Kepala Sekolah. Begitulah aturan yang dia ketahui.
SK Kakanwil yang ditandatangani oleh Kormin, itu sama nilainya dengan tanda tangan Kakanwil. SK itu juga sebagai syarat pengusulan dirinya ke Menteri untuk menjadi Kepala Sekolah. Jika SK Menteri sudah diterima dan dilantik oleh pejabat yang berwewenang maka resmilah dia menjadi Kepala Sekolah dengan hak tunjangan sebagai Kepala Sekolah. Menjelang itu tiba, Jamel tetap bekerja dengan baik bahkan berusaha lebih baik dari pada ketika masih memegang SK Kepala Sekolah sebagai Wakasek SMA Negeri Tanjungbatu di Kelas Jauh SMA Moro.
Kini Jamel memulai ‘hidup baru’ di tempat baru sebagai guru. Meskipun dia Kepala Sekolah, namun statusnya sebagai guru tetap sama. Jabatan Kepala Sekolah hanyalah sebagai tugas tambahan. Itulah yang dia tahu perihal statusnya sebagai Kepala Sekolah. Bagaimanapun kini Jamel sudah harus melakoni kembali hidup baru di tempat baru sebagaimana awal dulu dia diangkat di SMA Negeri Tanjungbatu tahun 1984/ 1985 itu. Waktu itu, itulah sekolah baru karena memang baru didirikan oleh Pemerintah. Gurunya juga baru dan Jamel merasakan suasana baru di Tanjungbatu berbanding di Pekanbaru sebelumnya.
Jika di Pekanbari lampu listrik (PLN) sudah menyala siang dan malam, ternyata di Tanjungbatu saat dia diangkat awal jadi guru itu, belum ada PLN pada siang harinya. Hanya ada Perusahaan Listrik Daerah yang hidupnya mulai pukul lima sore sampai pukul tujuh pagi. Selebihnya tidak ada listrik. Itulah hal baru yang dirasakan Jamel ketika menjadi guru di Tanjungbatu. Setelah lebih dari 8 tahun dia di Kecamatan Kundur barulah suasna kehidupan itu berubah. Lsitrik PLN sudah menyala siang dan malam.
Kini Jamel ditempatkan di tempat baru setelah kurang lebih delapan tahun di Tanjungbatu itu. Jamel kembali teringat, dulu, ketika pertama kali datang ke Tanjungbatu dari Pekanbaru sekitar tahun 1985-an itu, Jamel benar-benar merasa baru dan memulai kehidupan baru. Pokoknya, benar-benar terasa baru. Segala-gala baru berbanding ketika hidup di Pekanbaru, Ibu Kota Provnsi Riau.
Datang dengan hanya berbekal selembar SK pengangkatan sebagai guru, Jamel benar-benar awam dengan kota kecamatan –Tanjungbatu– waktu itu. Meskipun Jamel membawa bekal informasi dari salah seorang teman sesama guru di SMP Nurul Falah Pekanbaru, Armen, tetap saja dia sangat tidak mengerti dengan daerah baru ini. Namanya juga baru pertama kali menginjakkan kaki di situ tentu saja ada rasa canggung dan bingung baginya. Pengalaman baru di sekolah baru.
Armenlah yang sedikit memberi informasi tentang Tanjungbatu kepada Jamel sebelum dia berangkat meninggalkan kota ‘bertuah’ Pekanbaru. Armen, lelaki berbadan tegap itu adalah guru olahraga di tempat Jamel mengajar, SMP Nurul Falah, Pekanbaru. Armen adalah asli Tanjungbatu yang sudah menjadi warga Kota Pekanbaru. Kedua orang tuanya masih hidup dan ada di Tanjungbatu saat itu. Armen, sesungguhnya guru PNS di STM (kini SMK) yang kebetulan ikut menjadi guru honorer di SMP Nurul Falah tempat Jamel ikut mengabdi dalam usaha menghidupkan diri.
Armenlah yang menyarankan untuk menuju atau bertanya kepada orang tua atau keluarganya yang ada di Tanjungbatu jika sudah sampai di Tanjungbatu nanti. Bagamanapun, waktu itu Jamel benar-benar baru pertama kali merantau ke Pulau. Dan informasi panduan sahabatnya itu sangat berharga baginya waktu itu. Ke rumah orang tua Armen itu pula Jamel yang masih bujangan saat itu menuju. Kedua orang tua Armen pula ‘induk semang’ pertama Jamel di Tanjungbatu. Kedua orang tua Jamel ada di Kabun Airtiris, Kecamatan Kampar. Kedua orang tua sahabatnya, Armen kini menjadi orang tua angkatnya.*** (bersambung)








