Setengah tahun setelah itu aku hamil lagi, tapi lagi – lagi aku tidak bisa mempertahankan kehamilanku ketika aku menjadi prioritas kedua buat dirinya.
Usia kehamilanku menginjak usia enam bulan, libur sekolah tiba. Keluarga kecilku seperti keluarga lainya bertamasya kepantai.
Keinginan putri kecilnya selalu nomor satu, mau tidak mau kami atas kehendak putrinya berjalan di atas batu – batun yang berada di bibir pantai, tapi naas saat yang bersamaan karena licin aku dan putrinya sama – sama terpeleset tapi sekali lagi aku menjadi yang kedua buat dibantunya, dengan sesak aku harus kehilangan anak yang aku damba untuk memperat hubungan kami.
Lama akhirnya tidak ada kabar, aku hanya menjadi ibu sambung sampai ajal menjemputku, itulah pikiranku saat itu.
Tapi tepat hari kelulusan putri sambungku untuk melanjutkan kesekolah menengah ke atas aku dinyatakan hamil, tapi anak sambungku mengatakan malu mempunyai adik karena dirinya sudah besar apa kata teman – temannya.
Mungkin mendengar penolakan Kakak sambungnya dan tidak ada pembelaan dari Ayahnya, janinku seakan tahu kehadirannya tidak diterima, dengan pedih aku harus kehilangannya ketika asyik kepikiran penolakan mereka, aku terjatuh dari tangga rumah sakit karena terlena melihat hasil USG sambil tersenyum, ternyata itu senyum terakhirku setelah itu aku tidak pernah benar – benar tersenyum. Senyum yang aku tunjukkan hanya sebatas menyamarkan duka karena aku tidak mau orang – orang tahu aku berduka selama ini.
***
Bersambung






