38.DUUH… BETAPA BERAT UJIAN INI
Sering sekali kita mendengar keluhan: “Duuh.. betapa beratnya ujian ini.” Terutama di kalangan caregiver: ”Aku sangat lelah dan menyerah ya Allah.. aku ridho seandainya Engkaumengambil nyawanya.”
Simak curhatan caregiver yang mendapat ujian dalam mengurus ODSnya.
:” Saya dengan suami sudah berumah tangga selama lebih 4 tahun
Selama 4 tahun itu kalau beda pendapat selalu KDRT karena dia tempramental
Sekarang posisi kami numpang dengan mertua sebagaipetani. Dia sering mengamuk kalau emosi mengaum seperti harimau … Di rukiah sudah 4 kali, ke psikiater dokternya bilang ada halusinasi dan dikasih obat. Obat cuma diminum sekali habis itu dia kerasukan mengaum lagi, kata pak ustad jin nasabnya marah. Habis itu esoknya saya bujuk minum obat dia tidak mau. Saya sudah bujuk dengan lemah lembutpun tdk mempan. Akhirnya dia bakar obatnya di tumpukan bakaran kayu dia berkata dia tidak sakit dan masih waras. Kalau disuruh minum obat berarti mengangap dia gila. Harga dirinya jatuh, katanya. Kami sekeluarga tidak bisa berbuat apa-apa.
Adakah solusi untuk menyelamatkan rumah tangga saya?Rasanya saya lelah menghadapinya karena kalau sudahemosi lupa siapa saya. Saya kemren mau dipatahkan leherku, ibunya ditonjok dadanya, kakak ipar ditonjok matanya karena membela saya yg diseret-seret di depanteras.”
Caregiver yang lain posting.
:”Bagaimna merawat pasien skizofrenia yang tidak mau minum obat? Keluarga sudah tidak sanggup lagi merawatnya. Apa harus dirantai dan dipasung saja seumur hidup. Karena sering melakukan kekerasan pada keluarga. Sudah dirawat di RS Jiwa tapi setelah di rumah tidak mau minum obat lagi.”
Bagaimana sikap caregiver dalam menghadapi ujian yang berat ini? Apakah dengan berdiam diri dan membiarkan ODS bertindak melakukan penyiksaan semaunya, atau mamasungnya?
Tentu tidak… Jika ODS, ODB atau gabungan (Skizoafektif)mulai terlihat emosional kita sebagai caregiver harus waspada, berusaha menghindar, diam jangan dijawab atau ditantang. Jika ada celah berkta lembut atau mengusap dan memeluknya, dicobalah. Sambil mengevaluasi apakah obatnya diminum atau tidak, atau apakah perlu diakali bawa ke RS apabila nanti sudah agak tenang?. Namun jika sudah berperilaku harimau mengamuk seperti di atas, menyakiti orang lain atau diri sendiri, tentu segera dimintakan pertolongan orang-orang yang bertubuh kuat untuk mengamankannya. Bila perlu diikat kaki tangannya untuk sementara, lalu dibawa ke IGD RSJ untuk dirawat, selanjutnya ikuti petunjuk psikiaternya. Relaps bisa terjadi berulang-ulang jika lalai minum obat atau tidurnya kacau karena banyak ngopi, atau karena ada pemicu yang menyinggung perasaannya. Tidak boleh ada kata menyerah bagi Caregiver sejati, tak ada gunanya berkeluh kesah kesana kemari, atau larimenghindar meninggalkannya sendirian dalam penderitaanpenyakitnya. Apalagi menyumpahinya, merantai, mengurung, memasungnya sendirian bertahun-tahun sampai meninggal. Kita sebagai caregiver telah diberikan Allah ujian ini, untuk mengujikesabaran, tanggung jawab, ketulus-ikhlasan, keadilan/tidak diskriminatif, rasa empati, kasih sayang, kekuatan dan rasa kasihan. Bagaimana jika kita mendapat ujian anggota keluarga suami, istri yang sakit jantung, ginjal, kanker, struk yang parah merintih kesakitan atau koma? Hampir dapat dipastikan semua anggota keluarga sibuk mencurahkan perhatian kasih sayang dan daya upaya dalam membantu penyembuhannya, meski keparahan ini juga terjadi berulang-ulang. Mengapa sangat berbeda perlakuan kita, padahal semua datang dari Allah…?
Cobaan atau ujian itu menurut imam besar istiqlal ada dua macam.
:“Ujian penderitaan dan ujian kenikmatan. Patut disyukuri jika mendapat kedua jenis ujian karena ada potensi untuk naik kelas. Ujian yang efektif dapat merubah karakter seseorang menjadi lebih baik atau yang dikatakan lulus adalah musibah, penderitaan, kesedihan, kesakitan, kemiskinan, kesederhanaan. Karena ujian musibah biasanya lebih kuat tarikannya supaya orang berusaha setiap saat mendekati Allah dengan berdoa dan sebagainya. Sedangkan ujian kemewahan dapat menyebabkan orang lupa sholat, malas ke masjid, lupa dengan Allah, asyik dengan kehidupan yang glamour, duniawi semata-mata. Orang yang terus menerus mendapat kenikmatan tanpa perjuangan panjang, tidak akan berkah.”
Seorang ODS memposting curhatannya saat mendapat ujian ketika sedang diperjalanan tiba-tiba ngeblank, mendapat komen dari teman-teman sependeritaannya.
:” Banyak-banyak istighfar kak, atur pernafasan pelan-pelan. Kalo sudah tidak kuat lagi, pengen nangis ya gak apa-apa nangisin aja, tetap sambil istighfar. Terus bilang dalam hati: “Gapapa ya gapapa, aku kuat aku bisa kok. Baik sayang ya baik.” Ini biar tersugesti dalam diri kalau semuanya bakalan baik-baik saja.”
ODS-ODS yang lain nimbrung.
:”Saya sering seperti itu, terlebih saat di jalan sedang bekendara sendirian. Gapapa berhenti dulu menepi 5-10 menit tenangin diri. Semoga membantu kak, tetap semangat yaa.. kita tidak sendiri.”
Seorang ODS bertanya.
:”Ketika kamu merasa minder dan gelisah….apa yang kamu lakukan kawan??
Teman-temannya menjawab.
:”Nonton youtube, kata-kata motivasi, tips-tips agar tidak gelisah banyak kok di youtube, coba searching dan tonton.”
:” Baca al-Quran hanya dengan mengingat Allah hati kita menjadi tenang.”
:”Berdoa, melakukan pekerjaan ringan supaya teralihkan, paling mentok, kalau capek ya tidur.”
:”Dengarin musik meditasi, tumpahkan air mata, berdoa, curhat kepada keluarga (caregiver) yang dipercaya, ngobrol ringan dengan teman/sahabat tentang macam-macam mulai dari bagaimana membuat alis, nanya krim creambath yangbagus, ngobrolin anak, nawarin barang dagangan dan lain-lain. Bisa melalui telpon atau WA atau ketemu langsung, sehingga kita tidak fokus lagi sama penyakit.”
:”Jalan-jalan, tidur, makan, mandi, main sama anak/ponakan, cari teman ngobrol, dengerin musik. Kita harus bisa menyemangati diri sendiri, kalau bukan kita siapa lagi? lakukan hal-hal yg disukai, mulai dari mencintai diri sendiri.”
:” Latih bersosialisasi dulu, misalnya cari kerja di toko, atau dimana saja yang bisa menerima kita… Buat melatih bersosialisasi pelan pelan atau belajar kalau mau berwirausaha sendiri kelak.. Tapi yang utama kita harusjujur..”
Yaa, cintailah diri sendiri, jangan sekali-kali menzolimi diri karena itu menentang ketentuan Allah. Lupakan dosa-dosa masa lalu dan jalanilah ujian masa sekarang dengan sebaik-baiknya. Lanjutan pesan ulama yang suaranya menyejukkan dengan kata-kata yang lembut dan substansi ilmu yang sangat dalam dan luas.
:“Tanda-tanda Allah mencintai hambanya yaitu dengan mendatangkan ujian musibah di dunia, sehingga dapat segera terhapus dosanya. Ujian berupa siksaan diberikan lebih dahulu di dunia supaya di akhirat tidak terkena siksaan lagi. Mungkin selama ini banyak orang berpikir sebaliknya, orang yang bertubi-tubi mengalami ujian penderitaan adalah orang yang tidak disayangi Allah. Sedangkan orang yang mendapat ujian dengan bergelimang kemewahan, jabatan dan kekuasaan adalah yang disayang Allah karena itu dimanjakan-Nya.
:”Ujian yang baik maupun yang buruk itu datang dari Allah, penderitaan dan kebahagiaan, kemiskinan dan kemewahan, juga Fir’aun dan Musa, iblis dan malaikat, siang dan malam, laki-laki dan perempuan, semua sebagai representatif atau manifestasi dari Allah, dalam satu mata uang. Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan supaya ada pembanding sehingga dapat menjadi nikmat luar biasa bagi manusia. Tidak ada artinya siang tanpa adanya malam, tidak ada artinya syurga tanpa ada neraka. Boleh jadi di mata kalian ujian itu tidak baik tetapi di mata Allah itu baik, dan sebaliknya. Jangan membenci orang yang tidak kita sukai, karena boleh jadi itu baik bagimu. Jangan mendoakan orang kafir itu hancur tapi doakan berilah petunjuk. Allah meliputi segala sesuatu (Mutlak), yang baik dan buruk semua milik Allah mengalir dari sifat Allah: Asmaul Husna.”
Masya Allah… Ilmu baru bagiku yang meresap pelan-pelandalam logika dan memberikan pencerahan serta kekuatan dalamhati sehingga dapat menerima apa yang diberikan Allah dengan lapang dada. Namun aku belum cukup kekuatan untuk secepatnya menelan ke dalam hati seluruh ilmu yang tinggi dan luas itu... masih perlu waktu untuk lebih banyak belajar setiap hari.







