Pelangi Setelah Hujan (1)

Pelangi selalu datang ketika hujan turun, dulu sekali aku percaya itu dan aku selalu menanti hujan turun untuk menatap sejenak betapa indahnya pelangi.

Waktu berjalan semuanya berubah tapi tidak dengan diriku, aku selalu berharap setelah hujan akan ada pelangi untuk aku tatap.

Hujan sudah berlalu selama satu jam, pandanganku mencari pelangi tapi tidak aku temukan akhirnya aku mengalah tidak lagi menatap langit untuk mecari pelangi.

“Masih mencari pelangi.” Suara berat yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku

Ada luka di hatiku, hanya senyum kecut yang bisa aku tampilkan kepadanya, menghayun langkah tak ingin berlama – lama dengannya.

“Ara, tak bisakah kita seperti dulu?” Aku menatap sekejap kepadanya melihat sepintas netra hitam kelam yang dulu sangat aku kagumi.

Seperti dulu apakah mungkin setelah sebilah pisau kasat mata kau tancapkan tepat di hatiku yang membuat luka tak berdarah tapi tetap mengaga sampaikan ke saat ini.

Senyumku tak lagi manis, hanya rasa luka yang mungkin sampai saat ini belum dapat aku obati.

Menatap sejenak ke netra hitam itu, walaupun aku melihat ada rasa sesal tapi aku tidak yakin aku bisa kembali kewaktu yang dikatakannya.

***

Senyum tulusku hanya ketika bersama mereka siswa – siswiku, seakan beban hati lenyap dengan kecerian yang mereka tunjukkan.

“Bu hari ini tanggal berapa?” usil salah satu dari mereka bertanya

“Bukankah tadi sebelum mengerjakan soal ulangah harian Ibu sudah mengingatkan untuk tidak lupa menuliskan nama, kelas serta tanggal hari ini.” Senyumku mengembang ketika menjawab pertanyaannya.

“Kami sayang Ibu, selamat hari valentin Ibu Sayang.” Koor mereka membuatku tersenyum malu.

Ah hari valentine yang katanya hari kasih sayang dunia, ya mereka yang muda masih saja menyambutnya walaupun sudah lelah kami mengingatkan jangan memperingatinya apalagi kita yang beragama islam, tapi yang namanya anak muda mereka mengucapkannya juga.

Langkahku lambat tidak mau bersaing dengan mereka siswaku, sudah bukan rahasia umum jika bel panjang berbunyi mereka seakan tidak ingin semenitpun berada di sekolah. Berhamburan seiring bel panjang tanda sudah berakhirnya pelajaran hari ini.

Kadang ada juga yang melupakan tata krama jika sudah bel panjang, mungkin karena panggilan kampung tengah sudah mendera sehingga ingin cepat pulang kerumah untuk makan.

***

Menjalankan motor matic pelan, di sana sini terlihat banyak sekali yang menjual bunga, evoria bagi yang merayakan hari valentin tentu terasa hari ini.

Jagi mengingat masa kecil sewaktu belum bisa membedakan mana yang boleh mana yang tidak untuk merayakannya.

Setelah tahu bahwa bagi muslim tidak boleh merayakannya aku selalu tersenyum jika siswaku mengucapkannya walaupun terselip nasehat jika mereka sama keimanannya denganku.

Netraku membulat ketika aku melihat ada mobil avanza yang bertengker sempurna di halaman rumah, untuk apa dia berada di rumahku.

Dengan malas aku melangkah ke dalam setelah meletakkan motorku pada tempatnya.

“Assalamualikum.” Suaraku memecah obrolan yang sedang terjadi di ruang tamu.

Emak memberikan senyum serta menjawab salamku, aku meraih tangan tua yang sudah banyak berjasa pada hidupku.

“Sudah dari tadi Ilham menunggu.” Keningku berkerut mendengar penuturan Emak.

Mengapa juga Bang Ilham menungguku, tidak mungkin hanya singgah saja bantinku.

“Ara letakkan dulu tas di kamar.” Ucapku melangkah menuju kamarku

Sudah lima belas menit Emak menemani kami berbicara, tidak ada percakapan yang bermutu. Aku menghela napas ingin sekali kembali ke kamar karena tubuhku terasa lelah. Delapan jam cukup padat waktuku mengajar hari ini, hanya tersisa dua jam itupun aku gunakan untuk mengoreksi pekerjaan siswa – siswiku.

“Emak ke dalam dulu.” Aku menghela napas ketika Emak pamit meninggalkan Aku dan Bang Ilham di ruang tamu.

“Zahara rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan Bang. Ara ingin istirahat.” Ucapkan lelah menghadapi Bang Ilham yang akhir – akhir ini selalu meterorku.

“Bang tahu Abang banyak salah, tapi tidak adakah kesempatan kedua buat Abang Ara?” penyesalan mungkin terdengar dari intonasi suara Bang Ilham tapi aku tidak ingin terluka lagi.

“Waktu banyak mengajarkan Abang, Zahara yang paling mengerti Abang, mungkin Zahara bukan yang pertama buat Abang tapi Abang yakinkan Bahwa Ara yang terakhir untuk Abang.” Senyum kecutku mendengar penuturan Bang Ilham.

Jadi teringat dengan drama siswa – siswi pada pelajaran kesenian mereka dengan tingkah laku kocak memerankan adegan percintaan dimana Aktor yang sudah membagi cinta mengharapkan kembali pada hati yang telah dengan sengaja dilukainya.(Bersambung)

Tinggalkan Balasan