Coretan Tanpa Bekas
Doktrin Orang Tua
Oleh: Arfianto Wisnugroho
Pendidikan merupakan salah satu indikator untuk mengetahui cara berpikir seseorang. Meski hal tersebut bukanlah ukuran mutlak. Masih banyak tolok ukur lain seperti latar belakang sosial budaya, ekonomi, pengalaman, dan kecerdasan. Kalau kita gali pasti masih banyak yang berpengaruh dalam cara berpikir seseorang. Sehingga ada kemungkinan seseorang akan memandang sesuatu berdasar latar belakang adalah kemungkinan besar yang dapat kita simpulkan. Namun hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana seseorang bertindak. Karena biasanya seseorang akan bertindak sesuai pemikirannya tersebut. Hal demikian sering terjadi pada orang tua dewasa ini.

Orang tua saat ini sangat modern yang ditandai dengan kemampuan menguasai berbagai media sosial. Mengetahui teknologi dengan segala perubahannya dengan sangat baik. Dan hal lain yang begitu istimewa adalah mereka merupakan orang tua dengan pengetahuan akademis tinggi. Begitu luar biasa sehingga akan mampu mempengaruhi daya nalar anak-anak mereka. Namun beda halnya jika memaksakan akan apa yang mereka pikirkan kepada anak-anak. Dengan alasan apapun, anak juga memiliki kemampuan untuk berkembang sesuai pikiran mereka.
“Wah orang tua yang memang luar biasa..!” ucap mas Nyentrik saat mendengar cerita dari salah satu teman yang saat itu menceritakan tentang temannya. Yakni cerita tentang Anik, seorang Ibu yang kritis dalam segala hal.
Anik adalah orang tua yang mampu mengimbangi kemajuan zaman. Ia mampu beradaptasi dengan segala perubahan. Seperti mampu menggunakan berbagai media sosial yang tersedia. Selain itu berbagai teknologi modern mampu ia kuasai dengan baik. Semua hal tersebut tentunya sangat sah untuk dia dimiliki sebagai orang tua. Namun yang menjadi permasalahan adalah ketika ia memaksakan cara pikir mereka pada anak. Meski orang tua bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada anak, bukankah lebih baik jika mempertimbangkan keinginan anak.
Sehingga ada suatu hal yang mas Nyentrik tidak setuju dengan cara pikir Anik. Menurut temannya, Anik sangat ketat dengan pendidikan anaknya. Ia menanamkan pemikirannya dengan begitu keras pada anaknya. Saat itu anak Anik, Dika, masih berumur sekitar empat tahun. Di umur yang masih belia, Dika sudah mampu membaca huruf Alphabet maupun huruf Hijaiyah secara lancar. Kalau dipikir itu sesuatu hal yang luar biasa bagi Dika. Kemampuan membaca lebih dini yang ia memiliki dapat menjadi modal dasar untuk mengembangkan potensinya. Kita dapat melihat kemampuan Dika dari kesehariannya.
Dika selalu terlihat ceria meski terkadang keadaan sebenarnya berkata lain. Anak berumur empat tahun itu seharusnya memiliki banyak waktu untuk bermain. Seharusnya mereka menggunakan berbagai kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan. Karena interaksi memungkinkan seorang anak akan membangun pengetahuannya sendiri. Saat hal tersebut terjadi orang tua tinggal memupuknya, memperkaya pengetahuan yang dimiliki anak. Tetapi kesempatan Dika berkurang karena cara pikir orang tuanya.
Sebagai orang tua, Anik selalu ketat dalam mendisiplinkan Dika untuk belajar. Jika dilihat lebih jauh hal tersebut malah terlihat seperti doktrin bagi Dika. Anik selalu memberikan sugesti pada Dika kalau ia harus menjadi orang kaya. Supaya kaya, Dika harus belajar sehingga memiliki pekerjaan yang layak. Untuk itu ia harus belajar dengan keras. Atas dasar itu semua Anik selalu memaksa Dika belajar melebihi kapasitas seorang anak. Alhasil Dika yang terlihat cerdas dan pintar terkadang terlihat murung.
Mungkin Dika bukanlah salah satu anak yang mengalami hal sedemikian rupa. Masih ada anak-anak lain dengan nasib sama sepertinya. Harus dengan sabar menuruti keinginan orang tua. Memang tidak ada pilihan lain bagi anak kecil seperti itu. Karena segala sesuatu yang ia gunakan memang masih berasal dari orang tua. Kalau mereka berkesempatan bebas dari tekanan seperti itu, bermain adalah hal yang sangat mereka inginkan.
“Memang anak kecil mempunyai pekerjaan yang pasti. Adapun pekerjaan tersebut adalah bermain.” Ucap seorang bijak yang diucapkan oleh mas Nyentrik.
Namun kesempatan bermain yang tidak didapatkan oleh anak terkadang disebabkan oleh orang tuanya sendiri. Mereka berpikir kalau yang mereka lakukan adalah yang terbaik bagi anak. Dengan harapan besar yang melekat pada anak mereka mempercayai kalau anak sebenarnya setuju dengannya. Memang para orang tua tidak sepenuhnya salah. Namun perlu diperhatikan lagi, bahwa yang mereka lakukan seperti itu mampu merusak otak anak. Anak akan mengalami gangguan pada psikologisnya. Bahkan pada tahap tertentu dapat menyebabkan anak menjadi seorang pembangkang.
“Apakah tidak dipikirkan bagaimana jika sikap membangkannya muncul saat mereka dewasa?” pikir mas Nyentrik.
Tentu saja saat anak-anak sudah dewasa, sikap membangkang akan sulit ditinggalkan. Jika hal tersebut terjadi, pastinya orang tualah yang kerepotan. Oleh sebab itu perlu kesabaran dalam mendisiplinkan anak-anak. Meski hal tersebut terasa berat, sebagai orang tua seharusnya melakukannya. Karena yang dibutuhkan anak-anak bukan kehendak kita, tetapi kehendak mereka yang dipoles oleh orang tua sehingga menjadi luar biasa.







