
Redundant 15: Menyanyi
Oleh Erry Yulia Siahaan
Menyanyi membuat hati senang. Meskipun diulang-ulang, menyanyi tetap menyukakan. Seseorang yang dirundung lara sekalipun bisa merasakan, betapa menyanyi dapat meringankan beban.
Apalagi bagi mereka yang sedang girang. Selain untuk meluapkan rasa senang, menyanyi juga merupakan bentuk ekspresi yang mudah ditularkan. Dalam perjalanan piknik bersama di dalam bis, misalnya, nyanyian seseorang akan disambut oleh yang lain sehingga seluruh rombongan ikut berdendang.
Tak peduli baik atau buruknya kualitas vokal seseorang, menyanyi memang benar-benar bisa mengasyikkan. Saat menghadiri suatu festival musik, siapapun bisa terbawa suasana untuk ikut-ikutan menyanyi. Tak ada yang menimbang untuk mengatakan boleh atau tidak. Yang ada adalah kebersamaan.
Di gereja, jemaat menimba pengalaman spiritual melalui kidung rohani. Pada acara-acara khusus, seperti dalam acara ritual budaya, kita melantunkan kata-kata dalam irama dan tempo yang sama. Di rumah, seorang ibu menyanyi untuk menenangkan bayinya. Dari kamar mandi, kita bisa dan biasa mendengar seseorang menyanyi.
Kemanusiaan
Tanpa kita sadari, menyanyi merupakan kegiatan yang sangat sering kita lakukan dan sangat bermanfaat. Menyanyi bisa dikatakan sebuah bentuk redundansi yang positif. Tidak perlu dilarang atau ditiadakan.

Sebuah penelitian membuktikan, menyanyi bahkan bermanfaat untuk menumbuhkan semangat kemanusiaan.
“Tidak diragukan lagi, menyanyi dapat membantu kita memaksimalkan potensi sosial dan emosional kita,” kata Jane Davidson dalam Medical Xpress edisi pekan kedua bulan ini.
Davidson menjelaskan, saat ini para peneliti dari University of Melbourne yang bekerja melalui the Creativity and Wellbeing Hallmark Initiative, the Creative Arts Therapies Research Unit, dan the Wilin Center for Indigenous Arts and Cultural Development tengah melakukan studi berkelanjutan untuk lebih memahami manfaat menyanyi dari perspektif budaya, emosional, sosial, dan kesehatan. Ini sekaligus untuk mengembangkan program dalam mengimplementasikan manfaatnya.
Selama lebih dari 10 tahun terakhir, tutur Davidson, tim riset menemukan hal-hal penting terkait dengan manfaat menyanyi bagi kehidupan. Lima di antaranya adalah:
- Menyanyi menghubungkan kita sejak lahir.
- Menyanyi menghubungkan kita dengan budaya kita.
- Menyanyi membuat kita bahagia, meski dalam keadaan serba dibatasi.
- Menyanyi dapat meningkatkan kesehatan fisik.
- Menyanyi mempersatukan masyarakat.
Menghubungkan Kita Sejak Lahir
Bernyanyi diketahui dapat meningkatkan kadar oksitosin (membantu ikatan) dan menurunkan kortisol (menurunkan stres), serta dengan cepat menghasilkan perasaan terhubung dan mengalir — memperbaiki mood, memperkuat identitas diri, serta membantu memori jangka panjang dan pendek. Nyanyian seorang ibu atau pengasuh bayi berperan penting bagi bayi dan perkembangannya sejak lahir.
Melodi, harmoni, nada, timbre dan tempo yang digunakan diatur sedemikian rupa untuk menimbulkan keterikatan dan memberikan rasa nyaman dalam interaksi yang saling menguntungkan. Bernyanyi dengan karakter lagu pengantar tidur – yakni lagu dengan tempo lambat, infleksi nada yang sedang (tidak terlalu tinggi atau rendah) dengan timbre yang lembut – membantu dalam hal menciptakan keterhubungan antara ibu/pengasuh dan bayi, menenangkan bayi. Itu sebaliknya juga membantu menenangkan si ibu/pengasuh. Ikatan positif timbal balik melalui lagu ini dapat bertahan sepanjang hidup.
Menghubungkan Kita dengan Budaya
Menyanyi dapat membantu perkembangan pemikiran dan bahasa kita, yang pada gilirannya akan berimbas pada perkembangan budaya kita dan kualitas hidup secara umum. Tidak mengherankan bahwa anak-anak usia lima tahun sudah bisa menyanyikan lusinan lagu yang menghubungkan mereka pada pengetahuan budaya mengenai makna ritual, etiket sosial, kehidupan dan gaya hidup, keterampilan berhitung, teknik membuat dan melakukan sesuatu, dan sebagainya.
Malah, adakalanya, menyanyi menjadi satu-satunya cara untuk berbagi informasi dan memahaminya.
Untuk keperluan ini, diperlukan unsur penting dari lagu berupa irama dan struktur ritmis yang diulang-ulang, dengan kata-kata pilihan yang bisa menimbulkan efek nemonik untuk menguatkan pengetahuan dan memori, serta mengingat sejarah.
Lagu menghubungkan kita dengan budaya kita, karena sebuah lagu dapat memuat cerita untuk membantu membentuk identitas kita dan membangun makna dalam masyarakat. Studi First Nations di University of Melbourne menemukan, nyanyian dan lagu tidak hanya menumbuhkan pengetahuan, tetapi juga merevitalisasi, menumbuhkan rasa kebanggaan, dan memantapkan ketahanan masyarakat. Ini menunjukkan betapa pentingnya menggali kembali lagu-lagu masyarakat yang sempat hilang atau memudar. (First Nations di Australia adalah sebutan untuk suku Aborigin dan Kepulauan Selat Torres sebagai suku pertama Australia, artinya mereka sudah ada di Australia selama ribuan tahun sebelum penjajahan.)
Membuat Bahagia Meski dalam Keadaan Serba Dibatasi
Menyanyi menjadi populer semasa gelombang pertama COVID-19 tahun 2020. Karena ruang gerak dibatasi, banyak orang berusaha untuk tetap terhubung melalui kegiatan online, termasuk paduan suara, meskipun secara teknis relatif sulit untuk merekam dan mengolahnya menjadi sebuah tayangan utuh.
Penelitian Davidson dan kawan-kawan yang dipublikasikan di Frontiers in Psychology [1] menemukan manfaat positif dari menyanyi terhadap kesejahteraan mental peserta dan popularitas paduan suara Couch Choir, yang merupakan versi lockdown dari paduan suara terkenal Pub Choir. Bahkan, hanya mendengarkan lagu pun, cukup berpengaruh terhadap emosi.
Meningkatkan Kesehatan Fisik

Menurut Davidson, peneliti terapi musik mereka melihat banyak manfaat dari menyanyi bagi pengidap penyakit degeneratif seperti Parkinson, di mana volume suara dan suasana hati meningkat setelah program menyanyi intensif yang dirancang oleh peneliti.
Bagi penderita demensia dan para pengasuh mereka, menyanyi merupakan kegiatan yang menyenangkan, serta dapat mendukung kesehatan dan kesejahteraan mereka. Uji klinis dari tim peneliti mereka yang diterbitkan di The Lancet [2] menemukan, nyanyian paduan suara yang menyenangkan dapat mengurangi gejala depresi dan demensia, terutama pada kasus demensia yang lebih parah. Aspek perilaku seperti dinamika sosial, fokus pada kesenangan dan kurang fokus pada individu, cenderung memberikan hasil positif bagi penderita demensia.
Mempersatukan Masyarakat

Menyanyi dapat dapat menumbuhkan rasa empati dan ikatan sosial, yang merupakan unsur penting dalam menjaga hubungan antarbudaya dan ketahanan masyarakat.
Jane Davidson dan tim pernah meneliti bagaimana sebuah paduan suara di tempat kerja dapat memperkuat budaya, identitas, dan emosi positif dari para pekerjanya yang berasal dari berbagai macam budaya. Tim peneliti memusatkan studi mereka pada keterikatan pekerja dengan lagu-lagu pengantar tidur semasa kecil. Periset melihat adanya ikatan sosial yang kuat, yang memungkinkan terciptanya rasa keterikatan dan saling memahami yang kuat di antara mereka, tanpa kehilangan kesadaran untuk tetap menjadi diri sendiri sesuai dengan perbedaan budaya, bahasa, dan agama masing-masing.
Menyanyi juga bisa membantu orang mengatasi trauma dan mengelola rasa sedih, kehilangan, penyakit, dan bencana.
Riset mengenai menyanyi masih terus dijalankan oleh University of Melbourne dan pihak terkait, bekerjasama dengan masyarakat, untuk mengembangkan pengetahuan dan program untuk menggunakan kegiatan menyanyi bagi segala usia dan latar belakang di masyarakat, khususnya bagi keperluan medis, untuk menopang apa yang sebenarnya masyarakat perlukan dalam hidup.
Jadi, menyanyilah. Entah di kamar mandi, di mobil, atau di atas panggung, sendiri atau bersama-sama. Menyanyilah dan lihat bagaimana perasaan Anda setelahnya. ***
Referensi:
[1] Hansen, N. C., Wald-Fuhrmann, M., dan Davidson, J. W. (2022). Social Convergence in Times of Spatial Distancing: The Role of Music During the COVID-19 Pandemic. Frontiers in Psychology. 13.
[2] Baker, F. A., Lee, Y. C., dan Sousa, T. V. (2022). Clinical effectiveness of music interventions for dementia and depression in elderly care (MIDDEL): Australia cohort of an international pragmatic cluster-raandomised controlled trial. The Lancet. 3, 153-165.





