KMAC 27. Puisi : Menjilat Sepi Menyelimuti
Penulis : Theresia Martini, S.Ag., M.M
Dalam keheningan yang sepi, termenung seorang diri di sudut pondok tua kumiliki, segala kenangan indah seakan menari kembali di pelupuk mata tuaku
Kekasih hati, yang selalu menemani kini tiada lagi di sisi.
Menjumpai Sang Pemilik kehidupan abadi.
Sementara buah hati yang sebagai harta berhargaku, yang kuharapkan kehadirannya dalam sisa waktu hidupku, seakan lenyap di telan bumi.
Apakah ini nasib hidupku di dunia?
Oh Tuhanku, terangi jalan hidupku ini dan berikanlah sedikit sinarMu
Kutak sanggup menghadapi, cobaan hidup ini, derita yang selalu datang silih berganti
Demikian rintihan dan jeritan si tua yang rindukan buah hatinya kembali pulang.
Menjilat Sepi Menyelimuti
Di sudut ruang
dalam pondok kecil rumahnya
di pinggir sungai yang bening
dan penuh bebatuan
Diiringi nada merdu
suara burung bernyanyi
menyambut sang gita malam
terbentang di selembar jubah hitam
Duduk termenung
menikmati kudapan pilu
menjilat sepi menyelimuti
memandang jauh ke lembah
Hanya hitam pekat
hadir dan melekat di netra
hatinya sedih memantul gema
menabuh riang gendang rindu
Lihatlah si tua rindu pada anaknya
sekarang airmatanya berderai di pipi
tiada lagi harapan di hidupnya
tinggal sendiri di pondok tua
Merdu suara burung bernyanyi
tiada lagi mampu menghibur diri
busur waktu terus melesat
meninggalkan kisah pada bejana jiwa
Menggigit sepi sendirian
membisikkan silir rasa rindu
pada desir angin halus menyentuh
luluhkan rasa berserah pada Ilahi
Yogyakarta, 09 Maret 2023






