Karena Aku Overthingking (1)

Bagai di hantam godam kepalaku rasanya, rasa sakit yang sudah dua hari ini menyerang bersamaan dengan mual sungguh menyiksa rasanya.

Maag bukan penyakit baru bagiku, semasa kuliah dan setelah menjadi gurupun masih menjadi penyakit yang seolah enggan meninggalkan tubuhku.

Percuma menasehati diri sendiri, kadang aku malu dengan ucapan yang sering aku ucapkan di depan kelas bahwa sehat itu mahal.

Eits, aku bukan guru biolgi tapi guru ekonomi yang selalu memberikan contoh kehidupan untuk memberikan efek yang lebih nyata.

Kenapa aku mengatakan sehat itu mahal, ya karena untuk tetap sehat kita harus mengkonsumi makan sehat dan menjaganya, simpelkan contoh untuk materi konsumsi dan sekaligus mengingatkan mereka jika menjaga kesehatan itu penting.

Ada juga muridku yang bertanya kenapa bukan sakit yang mahal Bu, kan kita harus berobat dengan biaya yang tidak sedikit, aku hanya tersenyum mendengarkan.

Jika kita menjaga kesehatan dengan memanfaatkan waktu yang kita miliki bukankah lebih baik daripada sakit, siapa yang bisa membeli waktu? Tanyaku, mereka serempak menjawab tidak ada, ya jadi sehat itu mahal karena tidak ada yang bisa membeli waktu.

Ha ha ha ha, untung saja setelah itu tidak ada yang bertanya lagi, aku begitu menikmati menjadi guru sehingga segala kesedihan yang melanda akan terasa ringan jika aku memikirkan ulah mereka muridku.

“Sudah merasa lebih baik?” Suara yang sudah hampir setahun ini mengisi hidupku.

Hanya senyum kecut menghiasi bibirku untuk menjawab pertanyaan, entahlah setiap mengingat tingkah laku muridku aku menjadi bahagia.

Dengan langkah malas aku turun dari ranjang menuju pintu kamar untuk menuju dapur, karena hari ahad kami lebih santai.

***

Suara azan zuhur berkumandang, aku menyudahkan menata meja makan setelah hampir setengah hari bergulat dengan dapur rasa mual rasa menguap entah kemana.

Aku melihat kesemua arah mencari keberadaan suamiku yang menghilang setelah menanyakan keadaanku pagi tadi.

Kesibukanku di dapur sampai melupakan keberadaan suamiku, setelah puas mencari di ruang tengah, tamu tidak ada aku menuju kamar untuk mencari keberadaannya.

Rumah terasa sunyi, sebenarnya ada rasa menyiksa di dada kalau sudah begini, hampir semua temanku yang menikah mereka sudah memiliki anak sedangkan aku masih tetap berdua walaupun sudah mencecah setahun pernikahan kami.

Menekan panel ruang kamar, menjengahkan kepala setelah setiap sudut aku lihat tidak ada aku pastikan suamiku tidak mungkin berada di kamar mandi kamar, karena tidak mungkin di jam begini dirinya berada di kamar mandi kami.

Helaan napas keras terdengar olehku sendiri, menutup pintu kamar menuju ruang tamu sambil memijit kepala yang entah kenapa mendadak sakit, uek sungguh kurang ajar rasa mual juga seakan tidak mau ketinggalan menyerangku.

Berlari secepatnya membuka pintu kamar dan berlari menuju kamar mandi di kamar membukanya dengan tergesa, jangan sampai aku muntah di lantai yang akan menyusahkanku saja.

Pintu kamar mandi terbuka, aku terkejut dengan pemandangan yang terpampang di depan mataku.

“Bang.” Teriakku sambil menuju dirinya yang terkulai lemah di toilet duduk.(Bersambung)

Tinggalkan Balasan