Masa Sekolahku

Dokpri Wisudaku

2. MASA SEKOLAHKU

Masa sekolah adalah masa dimana kita menerima pendidikan. Masa dimana kita menyandang status dari pelajar sampai jadi mahasiswa bagi yang melanjutkan ke perguruan tinggi.

Masa sekolahku dimulai ketika aku berusia 7 tahun baru masuk SDN2 Bintangresmi, yang letaknya di Kp. Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pada masa itu, aku lulus dari SD sekitar tahun 2001.

Melewati masa putih biru di SMP Negeri 1 Cipanas yang terletak di Desa Sipayung, masih dengan kecamatan yang sama. Sekolahku biasa disebut Green School (Sekolah Hijau). Salah satu sekolah favorit karena rombelnya sangat banyak. Masih ingat betul saat itu aku masuk kelas unggulan dari kelas IA, IIG, dan kelas IIIA. Saat di kelas 3, aku sebangku dengan sahabatku Ina Lisnawati. Saat ini, Ina mengampu mata pelajaran Matematika di SMPN 2 Cipanas. Ketika lulus SMP, dulu diadakan upacara adat, pelepasan merpati, acara inti, paturay tineng, sampai acara pentas seni yang disuguhkan bapak ibu guru guru SMPN 1 Cipanas.

Memasuki masa putih abu di SMA Negeri 1 Cipanas, sebuah keajaiban muncul. Dikagetkan dengan hasil prestasi belajar saat duduk di kelas 1.1. mendapat juara satu selama satu tahun, yang tak pernah aku dapatkan ketika masa SMP. Masuk 10 besar pun rasanya belum pernah saat itu, ini malah dapat juara 1 dan berhak mendapatkan beasiswa prestasi. Alhamdulillah, rasanya sangat bahagia sekali loh.

Ketika di kelas 1, teman satu bangku adalah Likawati yang biasa kusapa Angel karena putihnya seperti bidadari. Lika yang selalu menemaniku di kelas pada saat SMA dulu tinggal di Kp. Kondang, cukup dekat dengan rumahku. Dulu ia hanya pelajar, sekarang sudah sukses mengabdi di SMAN 1 Cipanas.

Beranjak kelas 2.1. aku berpisah dengan Lika dan satu bangku dengan Nani Nurani. Sahabat baruku yang mengalahkan prestasiku. Selama dua semester, aku ada di belakangnya karena hanya mendapat peringkat 2. Bagiku, mungkin ini namanya kehidupan. Kadang kita di atas, kadang kita di bawah. Namun, tetap berusaha untuk menerima dengan lapang dada, itu yang paling utama.

Melangkah ke kelas 3 IPA, orang-orang pilihan juara 10 besar mayoritas tergabung di kelas 3 IPA. Aku hanya masuk 10 besar, perjuangan yang sangat luar biasa. Dikelilingi teman-teman pintar rasanya sangat bahagia. Sampai pada akhirnya aku lulus di tahun 2007.

Lulus SMA, aku memutuskan untuk bekerja. Saat itu sempat bekerja sebagai SPG di PT. Metrowealth Indonesia mengikuti jejak Teh Ncih yang sudah terjun sebelumnya. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Hanya 3 bulan saja, berhenti kerja dan kembali ke rumah.

Aktivitas setelah aku berhenti kerja hanya menunggu warung ibuku. Kebetulan ibu mempunyai warung. Sejak SMP, aku sudah belajar menunggu warung ibuku. Biasanya menjual gorengan, makanan ringan, es, atau kopi. Kerap kali aku mengantarkan kopi ke depan bengkel mobil Bapak Asep, ayah dari almarhum sahabatku yang bernama Desi Ratnasari.

Saat ibuku melihatku sering mengantuk saat menjaga warung, saat itu ibu memberikan penawaran untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Ibuku meminta untuk masuk STKIP Setiabudhi Rangkasbitung dengan harapan ingin melihatku menjadi guru. Meski hanya bermodalkan jualan gorengan keliling, perjuangan ibu, ayah, dan keluargaku sampai terharu bisa melihatku di wisuda. Sampai ada yang berkata, aku adalah sarjana bala-bala(bakwan-salah satu nama makanan jenis gorengan yang dijual oleh ibuku).

Aku tidak malu dengan perkataan orang itu. Bagiku, perjuangan ibu membuat diriku meraih gelar S1 lebih berarti daripada mementingkan perkataan orang lain yang tidak suka dengan kita. Meski aku masuk wisuda angkatan kedua, hal itu tidak mengurangi makna bahwa aku resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Bahasa Indonesia.

Alasan utama saat aku mengambil Prodi Diksatrasiada adalah aku sangat menyukai materi Bahasa Indonesia. Hal itu dimulai ketika masa SMA, Ibu Saroh Jarmin, M.Pd. adalah salah satu Guru Bahasa Indonesia yang sangat menginspirasi dan saat itu beliau adalah wali kelasku saat kelas satu.

Hal unik yang paling saya ingat dari Bu Saroh adalah ketika kita salah menulis ejaan, beliau melingkari kata yang salah dengan menggunakan pulpen berwarna merah. Saat mendapatkan peringkat, kami diberi hadiah sebuah pulpen sebagai tanda apresiasi. Hal seperti ini sangat sederhana sekali namun efeknya sangat luar biasa. Sejak saat itu, mulai muncul cita-citaku menjadi Guru Bahasa Indonesia seperti beliau.

Selain menjadi guru SMA, Bu Saroh juga menjadi dosenku saat kuliah dulu. Aku selalu mengagumi beliau ketika memberikan materi di kelas. Salah satu materi yang aku sukai, saat beliau mengajarkan tifografi dan jenis-jenis puisi.

Semoga kelak, aku bisa menjadi Guru Bahasa Indonesia yang menyenangkan seperti beliau. Karena, jika gurunya menyenangkan, pembelajaran juga akan terasa menyenangkan.

Salam blogger inspiratif
Aam Nurhasanah

#Day2
#KarenaMenulisAkuCeria
#KMAC
#YPTD
#Minggu,12Februari2023

Flyer Wajib KMAC

Tinggalkan Balasan

1 komentar